RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Paddock MotoGP resmi kedatangan pemain baru pada Jumat sore (5/9), jelang gelaran MotoGP seri Catalunya di Circuit de Barcelona Catalunya. Sebuah konsortium bisnis yang dipimpin insinyur asal Italia, Guenther Steiner resmi mengakuisisi kepemilikan tim KTM Tech3 dari pendiri tim, Herve Poncharal.
Dengan ini, Guenther menggantikan Poncharal sebagai CEO, dan wakil konsortium, Richard Coleman berperan sebagai Kepala Tim. Poncharal bakal bergeser sebagai Penasihat Tim, dan tetap menjabat sebagai CEO hingga akhir musim 2025.
Dengan kesepakatan ini, Tech3 dipastikan tetap menggunakan sepeda motor KTM, baik untuk MotoGP maupun Moto3. Selain itu markas tim tetap berada di tanah kelahiran tim tersebut, yakni Perancis.
Meskipun baru pertama kali terjun ke dunia roda dua, Guenther dan Coleman sudah kenyang pengalaman di bidang roda empat. Keduanya sama-sama mengawali karir di WRC, namun Guenther menjadi kondang lewat karirnya di Formula 1, sementara Coleman menempuh karir di kategori touring car dan GT.
Semasa muda, Guenther menjadi direktur teknik untuk Ford pada 1998 hingga 2001, memimpin pabrikan asal Amerika Serikat tersebut meraih posisi runner-up dua kali. Kala itu Ford juga menguasai kepemilikan atas merek Jaguar asal Inggris, sehingga ketika Jaguar membuka lapak di Formula 1, Guenther ditunjuk sebagai kepala tim tersebut.
Namun Jaguar hanya bertahan 3 musim, sebelum kemudian dibeli oleh Red Bull dan dinamai ulang Red Bull Racing. Guenther masih berada dalam struktur tim, namun kini berposisi sebagai direktur teknis hingga tahun 2008.
Setelah keluar dari Red Bull Racing, Guenther mendirikan pabrik produksi komponen kendaraan di Amerika Serikat. Namun kemudian pada 2014, berkat kerjasamanya dengan pengusaha mesin bubut Gene Haas, Guenther terpilih sebagai kepala tim Haas F1 yang berdiri pada 2014.
Guenther menjabat sebagai kepala tim Haas F1 hingga 2024, dan digantikan oleh Ayao Komatsu yang menjabat hingga saat ini. Sambil melanjutkan usaha, pria yang masih tinggal di Amerika Serikat tersebut menulis dua buku tentang pengalamannya memimpin Haas F1.
Baca Juga: Soal Kepindahan Elliano Reijnders ke Persib, Reaksi Coach Justin: Alasannya Hanya Satu
Di kalangan penggemar awam, berkat penampilannya di serial dokumenter Drive to Survive, Guenther dikenal sebagai sosok pemimpin yang blak-blakan, namun tetap telaten membina pegawai dan pembalap andalannya. Terkadang dia juga diundang sebagai komentator analis F1 di berbagai negara Eropa.
Dibanding Guenther, Coleman tidak terlalu mentereng, namun tetap punya catatan signifikan. Mengawali karir sebagai manajer proyek WRC milik Mitsubishi pada akhir hayat karir pabrikan tersebut hingga 2006, Coleman kemudian bekerja dua tahun bersama SEAT dan Chevrolet di ajang WTCC (sekarang TCR World Tour).
Setelah keluar dari Chevrolet, Coleman mendirikan Craft Bamboo Racing bersama Frank Yu, dan membawa tim tersebut menjadi salah satu tim GT papan atas Asia hingga pertengahan 2010an. Kini Coleman menjadi pemimpin bisnis manajemen dan konsultasi olahraga miliknya sendiri.
Dalam pengumuman akuisisi tersebut, Guenther dan Poncharal saling melempar pujian dan mengapresiasi pengalaman masing-masing kubu.
“Kesempatan ini luar biasa, Tech3 merupakan tim yang punya banyak sejarah dan potensi. Warisan Herve untuk MotoGP tidak perlu diragukan lagi, dan kami terhormat dapat melanjutkan pekerjaannya,” jelas Guenther dalam rilis resmi MotoGP.
“Ketika Guenther ngobrol dengan saya soal ketertarikannya, saya rasa saat ini adalah waktu sempurna untuk melakukan pergantian kepemimpinan. Saya yakin Guenther bakal memimpin tim dengan visi dan misi yang jelas, dan integritas kuat, sehingga Tech3 kini berada di tangan yang aman,” papar Poncharal.
Diketahui, Guenther sudah lama mencoba berbisnis di MotoGP, namun mulai bernegosiasi dengan Tech3 di awal musim 2025 sambil mempromosikan buku karyanya. ESPN memperkirakan kesepakatan akuisisi membuat Guenther dkk. mengeluarkan kocek sekitar EUR 20 juta. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana