Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

'Gitu Aja Kok Repot': Filosofi Hidup Ringan dan Dalam dari Gus Dur

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 03:01 WIB
Gus Dur.
Gus Dur.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - "Gitu aja kok repot!", kalimat sederhana, jenaka, dan khas ini adalah salah satu warisan paling berharga dari almarhum K.H. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur.

Lebih dari sekadar celetukan humor atau cara meredakan ketegangan, ungkapan dari Presiden ke-4 RI tersebut mengandung filosofi hidup mendalam yang sangat relevan dan dapat dijadikan pedoman berharga di tengah kerumitan zaman modern.

​Definisi dan Filosofi "Gitu Aja Kok Repot"

​Secara harfiah, "Gitu aja kok repot" bermakna: "Begitu saja kenapa harus susah/rumit." Namun, dalam konteks pemikiran Gus Dur, maknanya melampaui kesederhanaan kata-kata tersebut.

​1. Landasan Tawakal dan Kepasrahan Tinggi

​Ungkapan ini berakar kuat pada tradisi tasawuf (sufisme) dan konsep tawakal (kepasrahan total) kepada Allah SWT.

Bagi Gus Dur, yang meyakini bahwa segala urusan di dunia telah diatur oleh Sang Maha Mengatur, keruwetan seringkali diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Dengan berkata "Gitu aja kok repot," Gus Dur seolah mengingatkan bahwa kita tidak perlu membuang energi secara berlebihan untuk hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Yang terpenting adalah melakukan bagian kita dengan maksimal dan sisanya diserahkan kepada Tuhan.

Sikap ini membuat hidup dijalani dengan lebih ringan, tenang, dan tidak mudah terbebani oleh ketakutan atau kekhawatiran.

​2. Ajakan untuk Menyederhanakan Masalah

Filosofi ini lahir dari kemampuan Gus Dur melihat masalah dari perspektif yang lebih luas. Ia sering menggunakan ungkapan ini untuk menanggapi isu-isu yang sebetulnya sederhana namun sengaja atau tidak sengaja dibesar-besarkan hingga menjadi konflik yang melelahkan.

Baca Juga: Filosofi Api Abadi dari Kayangan Api dalam Perayaan Hari Jadi Bojonegoro: Semangat Membangun Daerah

​Ia mengajak kita untuk kembali pada prinsip utama: jangan mempersulit hal yang sederhana. Keruwetan seringkali bukan berasal dari masalah itu sendiri, melainkan dari cara kita memandang, menanggapi, dan menambahkan ego ke dalamnya.

​3. Mengambil Inspirasi dari Kaidah Fikih

​Beberapa pihak, termasuk orang-orang terdekatnya, meyakini ungkapan ini terinspirasi dari sebuah kaidah fikih (hukum Islam) yang berbunyi: "Yassiru wala tu'assiru" yang artinya "Mudahkanlah dan jangan persulit."

​Ini adalah panduan praktis: dalam berinteraksi, beribadah, dan menyelesaikan persoalan, utamakan kemudahan, kelapangan, dan menghindari segala bentuk pembebanan yang tidak perlu.

Dalam konteks pelayanan publik dan kemanusiaan, hal ini berarti bahwa pengabdian haruslah dibuat semudah dan secepat mungkin, bukan sebaliknya.

​"Gitu Aja Kok Repot" sebagai Pedoman Hidup di Era Digital

​Di zaman serba cepat dan penuh informasi seperti sekarang, ungkapan Gus Dur terasa semakin krusial sebagai pedoman.

​A. Menghadapi "Drama" Media Sosial

​Media sosial telah menjadi arena keruwetan baru. Perbedaan pendapat sedikit seringkali memicu perdebatan panjang yang tidak substansial, komentar ringan bisa berubah menjadi pertikaian yang menguras emosi, dan kesalahan kecil dibesar-besarkan hingga menjadi penghakiman publik.

​Filosofi "Gitu aja kok repot" mengajarkan kita untuk menurunkan tensi. Ini adalah pengingat agar kita tidak mudah terpancing, tidak terburu-buru bereaksi terhadap isu yang belum kita pahami secara utuh, dan tidak menjadikan segala hal—terutama yang remeh—sebagai pertarungan hidup-mati.

B. Anti-Ribet dalam Birokrasi dan Kehidupan Sehari-hari

​Dalam konteks pelayanan publik dan kehidupan sehari-hari, "Gitu aja kok repot" adalah kritik terhadap mentalitas yang suka mempersulit. Ia mendorong adanya efisiensi, transparansi, dan kemudahan akses.

​Jika sebuah urusan bisa diselesaikan dengan langkah A, kenapa harus melalui B, C, D, dan E? Pedoman ini mengajarkan kita untuk berfokus pada hasil yang memajukan kemanusiaan, bukan pada ritual atau prosedur yang menghambat.

​C. Merawat Toleransi dan Pluralisme

Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Baginya, perbedaan keyakinan, suku, dan pandangan adalah anugerah yang tidak perlu diributkan.

​"Gitu aja kok repot" adalah sikap yang melumerkan prasangka. Jika etnis minoritas ingin merayakan budayanya atau menjalankan ibadahnya, "gitu aja kok repot" adalah jawaban tegas bahwa hal itu adalah hak asasi yang tak perlu dihalang-halangi, sebab pada dasarnya, mereka adalah bagian integral dari bangsa ini.

Intinya, ​"Gitu aja kok repot" bukanlah ajakan untuk menyepelekan masalah penting atau menjadi orang yang tidak peduli.

Justru sebaliknya, ia adalah seruan untuk memfokuskan energi pada hal-hal yang benar-benar substansial: kemanusiaan, keadilan, dan kesederhanaan.

​Dengan menjadikan filosofi ini sebagai pedoman hidup, kita diajak untuk menjadi pribadi yang tidak mudah panik, selalu mengedepankan akal sehat di atas emosi, dan melihat dunia dengan senyum yang lapang.

​Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan keruwetan yang kita ciptakan sendiri. ​Jadi, kenapa harus repot? (sfh)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Filosofi #gus dur #gitu aja kok repot #modern #abdurrahman wahid