Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Merebaknya Budaya Diam di Era Digital

Muhammad Suaeb • Minggu, 25 Januari 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi tiduran main HP.
Ilustrasi tiduran main HP.

 

Oleh:
Muhammad Abadi
Penulis perantau dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur

 

Merebaknya “budaya diam” ( silent culture ) di era digital hari ini dan akan datang merupakan sebuah konsekuensi logis dari zaman media sosial yang telah mendarah daging di tengah masyarakat dunia. Semua aktivitas sosial di area kenyataan dunia akan segera dipindah nyatakan ke dalam dunia maya. Maka, terjadilah semua umat manusia di dunia mengalami apa yang disebut sebagai “nir-realitas” atau “realitas semu” karena mereka semuanya diam dengan membaca, melihat dan merasakannya lewat di depan layar ponsel masing-masing. Kenikmatan budaya diam ini telah menyeruak dan merebak ke segala penjuru dunia dengan semua kelas sosial yang berbeda-beda. Semua kelas sosial yang berbeda-beda ini disatukan hanya oleh layar ponsel masing-masing individu.

Maka, terjadilah apa yang disebut “budaya monolog” atau searah bukan lagi “budaya dialog” atau dua arah. Perbincangan dari budaya monolog inilah yang merupakan fenomena kita sehari-hari. Sangat terlihat oleh kedua mata kita masing-masing bagaimana sangat minimnya atau sangat jarangnya kita dalam berdialog dua arah sehari-hari. Dialog “empat mata” adalah sebuah kenyataan usang yang sudah hampir punah di seluruh dunia hari ini dan akan datang. Soal diskusi pun yang sudah sangat kering kita alami di era digital hari ini. Ibaratnya adalah sebuah layar ponsel adalah salah satu pasangan hidup kita hari ini dan akan datang. Budaya diam bukanlah hal yang negatif, namun bisa jadi beban psikologis masing-masing kita.

Namun, juga “budaya bicara” bukanlah hal yang positif juga. Sebagaimana sebuah sabda hadits dari Rasulullah Nabi Muhammad SAW yang mengatakan : “Bicaralah yang baik. Jika tidak bisa bicara yang baik lebih baik diam”. Hadits ini menggambarkan bagaimana proporsi atau keseimbangan antara “buka mulut” dan “tutup mulut” atau antara bucara dan diam. Sebuah keseimbangan yang mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai kebaikan dan keluhuran budi pekerti. Jika banyak bicara bisa jadi merupakan pintu yang bisa menjerumuskan kita kepada dosa dan salah, maka diam adalah salah satu penutup atas dosa dan salah yang kita lakukan di dunia di muka bumi yang fana dan sementara ini.

Bicaralah yang seperlunya saja atau yang baik-baik saja maka akan dapat menyelamatkanmu dari fitnah dunia dan diam merupakan sebuah pahala jika yang akan dibicarakan hanyalah dosa dan salah. Banyak kasus yang terjadi begitu bahayanya banyak bicara yang mengakibatkan kerusakan moral sosial di masyarakat. Bahaya lidah adalah sebuah bahaya yang akan menjerumuskan ke dalam panasnya api neraka jahanam kelak di akhirat. Namun, juga diam bukanlah sebuah solusi yang tepat dalam menyuarakan sebuah kebenaran dari adanya kemunkaran yang terjadi yang kita hadapi di dunia ini. Sebagaimana sebuah hadits dari Rasulullah Nabi Muhammad SAW bersabda : “Rubahlah kejahatan kemunkaran dengan tanganmu. Jika tidak bisa rubahkan dengan lisanmu. Dan jika tidak bisa merubah maka rubahlah dengan hatimu, maka itulah selemah-lemahnya iman”.

Di setiap diri kita haruslah memperkaya kritik, bukannya miskin kritik. Salah satu modal ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kita harus memperbanyak kritik yang membangun untuk menghadapi “perang pemikiran” yang sudah berjalan saat ini dan akan datang. Sebuah perang pemikiran yang mengandalkan kedalaman dan keluasan wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka, harus disadari oleh kita semua warga NKRI di manapun berada kuasailah ilmu maka engkau akan menguasai dunia. Kuasailah ilmu maka engkau akan menguasai akhirat. Dan kuasailah ilmu maka engkau akan menguasai keduanya yaitu dunia dan kelak di akhirat. Bangsa kita Indoneisa harus mandiri dan berdikari sendiri jika kita ingin menguasai dunia, maka semua warga NKRI harus cinta ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperbanyak membaca buku dan menuangkannya ke dalam tulisan. Dunia literasi kita sangatlah rendah di antara semua negara di dunia.

Kita berdoa kepada Allah SWT semoga bangsa yang besar ini negeri ibu pertiwi yang kita cintai bersama ini dapat mengambil banyak pelajaran atau ibrah dari sejarah kemajuan negara-negara maju kapitalistik di belahan dunia lain untuk kemakmuran dan kesejahteraan semua warga NKRI di manapun berada. Semoga! Allahu Alam Bish-Shawab! (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#realitas #kritik #keluhuran #Budaya #Kebaikan #hadits #ponsel #monolog #era digital #media sosial #digital