BOJONEGORO - Meski sudah dipasarkan sejak 2017 lalu, listrik premium masih belum diminati masyarakat. Terbukti, belum ada satupun pelanggan mencoba atau menanyakan listrik premium. Selain tidak paham, perbedaan harga dari tarif reguler dianggap sebagai penyebab. “Memang sampai saat ini belum ada yang berminat,” kata Asisten Manajer Perencanaan PLN Rayon Bojonegoro Sutanto Setiaji senin (9/7).
Sutanto mengatakan, belum adanya peminat listrik premium tersebut karena yang disasar adalah perusahaan dan developer perumahan. Saat ini fokus pelanggan dengan tegangan menengah. Sebab, listrik premium kapasitasnya 20 ribu volt. Sedangkan listrik reguler, kapasitasnya hanya 220 volt. Dengan perbedaan besar tersebut, harganya pun berbeda. Untuk tarif dasar listrik (TDL) saja, 5 persen lebih mahal dari tarif biasa.
Disinggung erbedaan listrik premium dan reguler? Dia mengatakan, selain harga lebih mahal memang ada jaminan tidak padam. Sebesar apapun penggunaan tidak padam. Bahkan, tidak padam saat ada perawatan instalasi jaringan. Karena itu, Sutanto mengatakan jika tidak adanya pelanggan saat ini bukan karena rendahnya minat.
Melainkan fokus pasar yang disasar adalah perusahaan dan perumahan secara kolektif. Namun, banyaknya perusahaan dan perumahan di Bojonegoro, juga tidak memberi dampak apapun pada tingginya minat. “Intinya edukasi kita masih butuh dioptimalkan,” ucapnya.
Editor : Muhammad Suaeb