RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Overthinking atau kecenderungan untuk berpikir berlebihan kerap dialami oleh banyak orang. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih rentan mengalami overthinking dibanding laki-laki.
Apa yang sebenarnya menyebabkannya perempuan cenderung overthinking? Berikut penjelasannya:
Perempuan Lebih Peka, Tapi Rentan Terjebak Pikiran Sendiri
Penelitian dari University of Michigan yang dimuat dalam Journal of Abnormal Psychology mengungkapkan bahwa perempuan memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi dibanding laki-laki.
Salah satu alasannya adalah kecenderungan perempuan untuk menganalisis situasi secara mendalam, bahkan hingga ke hal-hal kecil yang belum tentu benar-benar terjadi.
Psikolog klinis Dr. Susan Nolen-Hoeksema, yang juga penulis buku Women Who Think Too Much, menjelaskan bahwa perempuan cenderung lebih reflektif dan memiliki kecenderungan untuk "mengunyah pikiran" alias rumination.
Ini artinya, ketika menghadapi masalah, perempuan sering kali terus memikirkan sebab-akibat secara berulang tanpa menemukan solusi yang konkret.
Faktor Sosial dan Budaya yang Ikut Berperan
Selain aspek psikologis, tekanan sosial juga memainkan peran besar. Dalam masyarakat, perempuan sering diharapkan untuk menjadi lebih peka, perhatian, dan bertanggung jawab terhadap relasi interpersonal, baik di rumah, tempat kerja, maupun lingkungan sosial.
Tekanan ini, menurut jurnal Social Psychology Quarterly, membuat perempuan cenderung menyalahkan diri sendiri atas konflik atau masalah yang muncul.
Hal ini memperbesar peluang terjadinya overthinking, terutama ketika perempuan merasa gagal memenuhi ekspektasi yang dibebankan kepadanya.
Hormon dan Otak Juga Berpengaruh
Dari sisi biologis, beberapa studi menunjukkan bahwa struktur dan aktivitas otak antara laki-laki dan perempuan memang berbeda, terutama dalam area yang berhubungan dengan emosi dan pemrosesan stres.
Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa amigdala (bagian otak yang mengatur respons emosional) pada perempuan lebih aktif dalam menanggapi stres emosional.
Akibatnya, perempuan cenderung memproses pengalaman secara emosional lebih dalam dan lebih lama—yang pada akhirnya dapat memicu overthinking. (kam)
Editor : Hakam Alghivari