RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sejak satu dekade silam, swafoto atau selfie menjadi sarana favorit masyarakat untuk menyimpan kenangan, berekspresi atau bahkan sekedar iseng. Hingga sekarang, fenomena sosial ini masih rajin dilakukan, bahkan turut memengaruhi persepsi bermasyarakat dan perkembangan teknologi.
Sebagian masyarakat beranggapan bahwa orang yang suka selfie mungkin hanya ingin membagikan kegiatan sehari-harinya atau perasaannya saat itu, sehingga bisa dimaklumi. Namun banyak pula yang nyinyir atau berpandangan miring, menganggap selfie sebagai tindakan sombong, narsistik, pamer atau hanya buang waktu.
Menurut peneliti Inggris asal Universitas Nottingham Trent, Mark Griffiths, setidaknya ada enam dorongan yang membuat masyarakat ber-selfie. “Secara umum, selfie diambil untuk membentuk sebuah identitas, entah itu tulus atau hanya untuk membangun citra,” ujarnya dalam kolom Psychology Today.
Menurut Griffiths, dorongan atau motivasi bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Movitasi tersebut diantaranya:
- Membangun kepercayaan diri
- Berbagi kegiatan atau lokasi saat ini
- Panjat sosial di medsos, misal agar dapat banyak ‘like’ atau komentar
- Mencari perhatian orang lain
- Memperbaiki perasaan (atau istilah gaulnya, ‘healing’)
- Berusaha diterima di lingkungan kerabat atau kawan
Griffiths juga berpandangan selfie dapat membantu hubungan antar pribadi dengan lebih akrab. “Dengan selfie, orang dapat berbincang dengan lebih leluasa, dan kita jadi dapat tahu keseharian, kegemaran dan sisi lain kepribadian orang yang mengambil selfie,” jelasnya.
Namun Griffiths juga berpandangan terlalu sering selfie juga tidak baik untuk kesehatan mental. “Penelitian kami menunjukkan bahwa orang yang keseringan selfie cenderung mengejar perhatian dan pengakuan sosial, sehingga membangun citra buatan yang berbeda daripada jati diri,” jelasnya.
Serupa dengan Griffiths, psikolog dari Universitas South Wales, Martin Graff juga berpendapat orang yang suka mengambil selfie cenderung menampilkan diri secara positif. “Sehingga mereka bisa memilih citra mereka, meskipun kenyataan di lapangan bisa berbeda,” dalam kolom Psychology Today miliknya. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana