Penulis: Nono Warnono
Memasuki kompleks pemakaman teruntuk orang-orang tak dikenal di sebuah lokasi nan jauh dari keramaian. Kawasan nan terlihat jauh terpencil dari lingkungan perkampungan. Sunyi sepi. Tak banyak lalu lalang warga masyarakat yang datang. Tak banyak orang berinteraksi di sini. Benar saja, setiap ada yang mendekat suasana seram serasa menyergap. Terlebih saat langit menjelaga. Cuaca mendung dan angin dingin berembus menusuk tulang. Begitu malam tiba, kegelapan terasa. Suasana makin mencekam.
Kedatangan ini adalah langkah beraniku. Lebih tepatnya tindakan nekat. Melawan rerasan orang-orang kampung yang dipercayai turun-temurun. Tentang kuburan angker.Tak pelak, menjadikan lokasi ini begitu menakutkan. Penuh misteri. Menjadikan orang-orang berbagai kalangan tak berani menghampiri. Kecuali terpaksa karena kepentingan yang niscaya.
Berbagai gugon-tuhon tak berdasar nalar ajeg beredar liar. Dipercayai. Dipelihara dari masa ke masa. Bahkan turun temurun dari nenek moyang. Anehnya, termasuk kalangan orang-orang yang sejatinya berpendidikan. Punya wawasan dan cakrawala pandang luas. Namun tetap saja mempercayai cara pandang menyimpang. Tetap ngugemi kapitayan atau kepercayaan yang dihukumi oleh pranata syariah sebagai sebuah laku syirik.
Tempat ganjil ini menjadi lokasi makam tanpa nama bagi para teroris. Atau orang yang disangka teroris bahkan bisa jadi diterorisasi. Meminjam istilah dikriminalisasi. Tempat ini adalah kuburan orang-orang yang tidak diketahui asal-usulnya. Makam dengan sejuta misteri. Kuburan khusus, tidak hanya bagi teroris, namun ada juga korban kecelakaan yang tidak diketahui nama dan asal-muasalnya.
Kuburan tanpa nama ini mulai tenar sejak ditempati mengubur para teroris yang tewas setelah ditangkap polisi anti teror. Densus 88, yang identik dengan hal-hal yang bersangkut-paut dengan laku radikal. Sejak saat itu orang-orang mengkeramatkan makam ini. Meski diidentikkan dengan kuburan orang tanpa nama atau teroris yang arwahnya sering menjelma sebagai makhluk aneh. Penamaan tersebut dianggap oleh sebagian kalangan sebagai hal yang mengada-ada.
Aku termasuk salah satu orang yang tidak percaya rumor kuburan angker tersebut. Istriku Solikah, yang sudah kudoktrin bahwa manusia lebih tinggi derajatnya daripada bangsa setan atau bangsa ghaib lainnya, masih saja mempercayai cerita-cerita bangsa lelembut. Cerita dunia ratmaya yang lebih banyak ngayawara. Melampaui batas, dan tidak sesuai dengan realita.
"Pak, untuk apa nekat melawan omongan orang-orang tentang kuburan keramat itu?. Toh rumor tersebut kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Bukan sekedar omong kosong. Banyak orang yang mendapati kejadian-kejadian aneh," Solikah istriku lantang berargumen.
"Dari mana,Sol! Kau percaya atas omongan orang-orang yang tidak berdasar. Tanpa fakta. Jangan-jangan hal tersebut sebatas halusinasi. Ini jaman digital, masih saja percaya orang mengkhayal tentang takhayul," bantahku tak terima.
"Nyatanya!! Para teroris yang terkubur disitu arwahnya gentayangan. Tak sedikit orang yang melihat penampakan. Karena mati sia-sia. Mayat tak dimandikan. Jenazah tak dishalati seperti binatang," tukasnya dengan nada meninggi.
"Kalau kau memang mempercayai sepenuh hati. Kejadian apa yang menjadikanmu sebegitu yakin? Pernahkah kau mengalami sendiri?" tanyaku mendesak.
"Ya tidak ada, Pak!. Belum pernah aku diganggu arwah di makam orang-orang tanpa nama tadi. Tapi cerira-cerita orang di masyarakat bahkan di media sosial sudah jamak mengetahuinya," jawabanya tersudut.
Debat tanpa ujung pangkal tadi selesai dengan sendirinya setelah aku meninggalkan ruangan. Meski masing-masing masih membawa banyak tanda tanya. Solikah nampak paling kecewa, karena aku tak menghiraukannya. Lalu pergi meninggalkan ruang perdebatan panas.Di luar udara semakin dingin diantara hujan gerimis yang terus turun dari langit.
Era sosmed setiap orang dapat menjadi jurnalis. Mengunggah kejadian apa saja dengan leluasa. Menjadikan berita yang dibaca semua netizen. Hal-hal kecil bahkan remeh-temeh bisa jadi unggahan viral. Termasuk makam tanpa nama. Kuburan yang areanya dipercayai memiliki nilai magis.
Malam ini aku berniat melihat langsung kuburan tersebut. Saat gerimis makin menderas, aku melangkah gegas. Demi menghindari semakin banyak air hujan nan turun membasahi. Sambil berlari kecil aku melangkah menerobos malam menuju kuburan angker. Tersebab gelinjang rasa penasaran merajalela. Membawa langkah semakin cepat. Segera ingin mengetahui seseram apa lokasi penuh misteri tersebut.
Ketika sampai tujuan, seperti yang kunarasikan di muka. Sejenak aku tertegun merasakan suasana mistis. Sapuan pandangan mata mengitari sekeliling yang gelap tanpa lampu. Meski hanya lewat kerlip cahaya rumah orang-orang kampung dari kejauhan, ada sebagian nisan-nisan kelihatan.
Setelah datang langsung melihat dengan mata kepala sendiri, aku merasa sebetulnya area makan ini tidak terlalu terpencil. Masih di dekat lingkungan perkotaan. Namun lokasinya di daerah pinggiran. Sehingga terasa begitu terpencil dan seram. Sepi senyap setiap saat. Terlebih karena sulitnya akses jalan yang tak tersentuh pembangunan. Akses yang kurang mendukung tersebut yang menyebabkan tak banyak orang datang, pikirku. Yang jelas ada satu dua youtuber yang merambah lokasi ini, dalam rangka membuat konten alam misteri.
Dari lolong anjing yang terdengar. Kurasakan sudah waktu tengah malam. Bahkan lingsir wengi. Menjelang dini hari. Sasmitanya jelas, gelantung seiris rembulan tua yang terluka dan kehujanan dibalik mendung. Sudah gumlewang di hamparan langit sejauh mata memandang.
Desir angin malam menyapu sekujur tubuh. Di bawah alam terbuka saat gerimis malam telah mereda. Aku mendongak memandang atap langit.Sekejap anganku melayang. Mendadak serasa terbang di suatu tempat aneh. Negeri antah barantah. Pandanganku beralih suasana lingkungan yang berbeda. Mendadak terlihat kota nan gemerlap penuh pesona. Decak kagumku tak henti-henti. Baru kali ini aku melihat kota bak metropolitan dengan sejuta kemegahan. Lanscap nan sempurna memanjakan mata.
Dari perspektif arah selatan, terlihat lautan luas tanpa batas dengan pelabuhan gemerlap aneka kapal-kapal bersandar. Dari kejauhan nampak lampu-lampu membenderang lingkungan pelabuhan yang nyaman. Aktivitas malam orang-orang penuh kegembiraan. Tidak seperti pelabuhan pada umumnya yang penuh hilir mudik dan jejal orang sarat kebisingan.
Di sisi timur pegunungan menjulang dengan taburan cahaya kerlip lampu bak perayaan tahun baru menjelang. Rumah-rumah di perbukitan meski tak terlihat jelas, namun terbayang. Nampak rumah-rumah penduduk yang temaram penuh kedamaian. Sekali lagi dalam relung hati terdalam mengemuka tanya. Negeri apakah ini? Apakah aku sudah mati? Dan kini hidup di alam lain? Taka ada jawaban. Aku terus berjalan.
Mencoba menoleh kawasan sebelah utara. Gedung-gedung pencakar langit menggapai lazuardi. Menara-menara nan berdiri kokoh. Dan aku hanya berbicara dengan diriku sendiri. Bertanya pada hati kecilku, apakah ini yang disebut alam surgawi. Sekali lagi tak ada jawaban mumpuni. Namun yang pasti kakiku begitu ringan mengembara dan terus berkelana menapaki kawasan penuh keajaiban.
Tak lama kemudian datang lelaki tua dengan rambut putih menjuntai. Keriput di wajah dan cekung kelopak mata memberi tengara. Jalan hidup penuh liku sengsara. Dari balik sorot mata elangnya pertanda ada energi ghaib luar biasa. Orang langka dengan kekuatan indera keenam nan menghunjam. Sejenak aku terpaku dan terpana.Tak bergerak pun tanpa kata-kata.
Sontak aku terkaget. Sejurus kemudian lelaki renta menepuk pundakku pelan. Ada getar energi menyebar di sekujur tubuh. Melepas lintas senyum kecut dibalik kumis jambang putih keemasan. Sejenak mata elangnya memandangiku penuh makna. Meski sebagian tertutup alis matanya yang juga putih keemasan. Sorot mata nan tajam sungguh menggetarkan. Sebentar melihat dari telapak kaki hingga ujung rambutku. Ada rasa takut yang kurasa. Banyak sasmita kemudian mengemuka. Memecah suasana suaranya yang penuh wibawa. Setelah menderu angin dingin mencekam. Tiba-tiba pemandangan sekeliling nampak berbeda.
"Kisanak, ini negeri surga, namun menjadi neraka karena ulah pengelolanya," lelaki renta sambil menuntunku ke sebuah tempat aneh.
Aku hanya dapat mengangguk dan tutwuri langkahnya. Decak kagum sekaligus rasa takut atas segala keganjilan silih berganti.
Renta tanpa nama itu bak guide menunjukkan sekelompok orang dari kejauhan. Menarasikan dengan penuh penjiwaan pun penghayatan.
"Di balik jajaran gedung itu banyak pejabat sedang kembul boja andrawina. Makan makan penuh nikmat. Sementara rakyat melarat sedang sekarat karena harga-harga menjerat. Konon korupsi telah menjadi legacy dari rezim ke rezim sebagai angin surgawi" tua bangka itu dengan ekspresi geram menunjuk-nunjuk dengan telunjuknya berkuku hitam.
Lagi-lagi aku mengangguk mendengarkan. Memaknai dengan tafsirku sendiri. Menghayati dengan kapasitas terbatas ketidaktahuanku. Hendak mengomentari namun tak berani. Selintas terlihat bayangan orang-orang dibalik dinding kaca meremang shilhuet.
Sejurus lelaki tua terus menarik tanganku. Melangkah gegas menuju sudut lain yang lebih menarik. Pemandangan mengagumkan. Bangunan megah penuh keindahan namun dibaliknya banyak misteri dan kejanggalan.
"Di sana banyak orang-orang terpilih. Menikmati diskusi di meja kursi. Mencincang undang-undang sesuai kepentingan. Mengamputasi regulasi demi melapangkan jalan diri. Bahkan mahkamah konstitusinya membelokkan undang-undang demi melapangkan jalan keponakan. Singkat kata,beda antara yang disampaiakan di muka. Lain pula narasi di wilayah belakang. Mereka pemain dramaturgi sejati di rezim ini," nyerocos kata-kata lelaki tua dengan mimik sinis.
Entah kali keberapa aku mengangguk setelah mendengar narasi demi narasi. Kalimat demi kalimat menghebat laki-kaki renta tanpa nama menari tanpa henti. Bak dalang sedang mengilustrasi goro-goro kagiri-giri di balik layar pagelaran wayang. Aku semakin gamblang meski semula baru lintasan bayangan. Apa yang dibincang bukan tembung ngayawara. Tetapi lebih sebagai kiasan dan perlambang, yang butuh dimaknai secara mendalam.
"Itu lanscap para saudagar dari berbagai latar," tangannya menuding sebuah kawasan. Gedung gedung tinggi menjulang, dibalik cerita cerita kepedihan.
"Di situ, para saudagar menggelar dagangan dengan berbagai keahlian. Meski harus dengan tipudaya. Konglonerat bandar-bandar kontestasi. Cukong-cukong menggadai regulasi. Menjaja narkoba tanpa sembunyi karena dijaga polisi. Juragan judi online merajalela menyesaki dunia maya taka ada yang berani membasmi. Cucu-cucuku inilah jaman edan..." tercekat kata-kata majasinya.
Aku terhenyak. Lelaki tua tanpa nama itu melirihkan suara. Apalagi yang akan dicandra. Terlihat wajah sendu. Mata sipitnya berkaca kaca. Tak lama buliran bening menetes deras. Coba diusap kedua tangan.Hingga jubah putihnya juga digunakan menyeka air mata.
Aku sudah tak ingat lagi titik awal keberangkatan. Dari satu destinasi bangunan atau area ke lokasi lainnya. Sudah berjalan jauh entah kemana. Bergelayut seribu tanya. Ini negeri apa? Lokasinya di mana?
Lelaki misterius terus membimbingku sejurus. Kadang aku digelandang, ketiaka langkah kakiku kurang cepat. Di suatu kesempatan ditepuk punggungku, manakala aku sempat tercenung melamun atas berbagai kejadian.
Lalu naik di ketinggian. Tanah dengan posisi lebih tinggi daripada lokasi lain. Untuk melihat lebih jelas kerusuhan dan pembantaian yang tengah terjadi. Perspektif, dimana kita bisa melihat dari banyak sisi.
"Kuatkan hatimu untuk tahan menyaksikan petaka yang tengah terjadi," pesannya mewanti-wanti.
Aku mencoba melongok kejadian ngeri. Dari kejauhan dan ketinggian. Meski menjuntai di bawah, aku bisa menyaksikannya. Saat mengikuti lelaki renta tersebut penuh teka-teki.
"Lihatlah bocah-bocah tengah menggelar demontrasi. Mengekspresikan kekecewaan bertubi tentang korupsi, ketidakadilan, hingga arogansi kekuasaan. Mereka dihardik ditembak gas air mata. Dipukuli hingga mati. Tak sedikit yang ditangkap dan dikriminalisasi...," lagi suaranya terhenti menahan kepedihan.
Lalu aku dipandanginya dengan tatapan nelangsa. Tangan keriputnya mengelus kepalaku. Berkali-kali. Seperti sedang menenangkan kegundahan hatiku. Meredam gemuruh rasa di dalam dada. Memang lelaki tua ini memiliki kekuatan menerawang dengan indera keenam. Sudah tahu peristiwa apa saja yang akan terjadi di hari-hari mendatang.
Lelaki berusia senja tanpa nama dengan tongkat ditangannya, terus melangkah hingga malam semakin tua. Kali ini perjalanan jauh menyusuri lembah ngarai. Langkahku gontai. Napasku tersengal.
"Kisanak, inilah jalan nirwana. Kawasan orang-orang penempuh jalan sunyi. Orang orang sufi.Meski ada yang menjual ayat-ayat Tuhan untuk ambisi keduniaan, masih lebih banyak yang melapang jalan kebenaran. Orang orang sahaja yang kadang menjadi kambing hitam sebagai sosok radikal. Wajah-wajah berkarakter agamis yang kadang dimaknai sebagai teroris..." Lelaki renta tanpa nama, menangis terisak.
Aku didekapnya erat-erat. Seperti tak mau melepaskan barang sejenak. Dengan nafas tersengal diantara tangis yang makin menghebat.
Hingga suara adzan terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Tubuhku yang lemah ditemukan sedang memeluk nisan tanpa nama. Ada jama’ah yang hendak shalat subuh melawi kuburan tanpa nama. Sepertinya aku sedang pingsan. Tergeletak di dekat nisan. Aku serasa dibangunkan. Aku dicecar pertanyaan meski setengah sadar. Bak diinterogasi polisi. Meski lama aku tak menjawab. Hanya gonta-ganti memandangi orang yang ada di sandingku.
Aku diam seribu bahasa. Tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Siapa namaku. Hanya tanganku yang tetap mendekap nisan tanpa nama. Di sebuah makam yang dijadikan kambing hitam oleh rezim penguasa. Dijadikan pembenar menebar rasa takut, agar semua bungkam atas tingkah laku penguasa nan semena-mena.(*)
Editor : Hakam Alghivari