Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cara Mengolah dan Menikmati Tutut: Ketahui Manfaat dan Risiko Mengonsumsinya!

Bhagas Dani Purwoko
TUTUT: Cara mengolah siput sawah atau tutut.
TUTUT: Cara mengolah siput sawah atau tutut.

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Siput sawah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tutut, sebenarnya adalah sumber protein yang sangat tinggi. Meski begitu, popularitasnya sebagai komoditas kuliner maupun budidaya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan ayam, ikan, atau udang.

Primadona yang Terpinggirkan: Mengapa Siput Sawah Sulit Naik Kelas?

1. Citra sebagai "Hama" Pertanian

Advertisement

Alasan utama kurangnya minat budidaya adalah status sosial siput sawah di mata petani. Ia dianggap sebagai musuh utama padi (hama) yang merusak tunas muda. Karena dianggap pengganggu, sangat sedikit orang yang berpikiran untuk "memelihara" sesuatu yang biasanya mereka basmi dengan pestisida.

2. Risiko Kontaminasi Pestisida dan Logam Berat

Karena habitat aslinya adalah lahan persawahan, siput sawah sangat rentan terpapar sisa-sisa bahan kimia pertanian. Siput menyerap residu pestisida dan logam berat dari air serta tanah sawah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi konsumen mengenai keamanan pangan, sehingga banyak yang ragu untuk membelinya jika tidak yakin akan sumbernya.

3. Masalah Higienis dan Parasit

Siput sawah secara alami hidup di lumpur yang penuh dengan mikroorganisme. Ia dikenal sebagai inang perantara bagi berbagai jenis cacing parasit, seperti cacing hati dan cacing perut. Tanpa teknik pembersihan yang ekstrim dan cara memasak yang benar-benar matang, mengonsumsi tutut berisiko menyebabkan keracunan atau infeksi parasit.

4. Proses Pengolahan yang "Ribet"

Siput sawah membutuhkan penanganan pasca-panen yang cukup melelahkan sebelum bisa dimasak:

  • Harus direndam di air bersih selama minimal 2 jam (bahkan idealnya 2 hari) agar lumpur di dalamnya keluar.
  • Cangkangnya harus disikat satu per satu untuk menghilangkan lumut.
  • Ujung cangkang harus dipotong agar bumbu meresap dan dagingnya mudah dikeluarkan saat dimakan.

Kerumitan ini membuat pelaku usaha kuliner enggan menjadikannya menu utama.

5. Tekstur dan Rasa yang Spesifik

Meski kaya protein, tekstur kenyal dan sedikit berlendir dari siput sawah tidak disukai semua orang. Sebagian masyarakat juga masih memiliki hambatan psikologis ("geli") untuk mengonsumsi hewan bercangkang ini, berbeda dengan kerang laut yang sudah memiliki pasar lebih mapan.

Tips Aman Mengonsumsi Tutut

Jika Anda ingin mencoba, pastikan untuk:

  • Rendam tutut dalam air garam untuk membunuh bakteri awal.
  • Rebus selama minimal 30 menit agar seluruh parasit mati.
  • Pastikan bumbu yang digunakan cukup tajam (seperti bumbu kuning atau pedas) untuk menetralkan aroma lumpur.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Dua SPPG di Bojonegoro Terpaksa Tutup, Dipicu Dana Pusat Tersendat

Dua SPPG di Bojonegoro Terpaksa Tutup, Dipicu Dana Pusat Tersendat

Memasuki 2026, laporan kembali muncul di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, pada 15–16 April 2026. Sebanyak 17 penerima manfaat dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG yang berasal dari SPPG Plesungan 2.

Banyak Gerai Indomaret Tutup Sementara, Ternyata Dipicu Polemik Mekanisme Lembur Karyawan

Banyak Gerai Indomaret Tutup Sementara, Ternyata Dipicu Polemik Mekanisme Lembur Karyawan

Penutupan sementara sejumlah gerai Indomaret pada 31 Mei hingga 1 Juni 2026 belakangan menjadi perhatian publik. Muncullah penjelasan dari kalangan karyawan terkait mekanisme lembur saat hari libur nasional.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer