Koordinator Lingkungan Hidup SMPN 2 Lamongan Hanik Suparti menuturkan, siswa-siswi diajak untuk peduli terhadap lingkungan, dengan memungut sampah plastik. Kemudian, sampah ini dikumpulkan dalam botol dengan berat antara 200 gram hingga 300 gram per botol.
Sampah yang dimasukkan botol itu harus dalam kondisi kering, supaya tidak menimbulkan bau. Selanjutnya, sampah dengan berat tertentu tadi dikumpulkan menjadi satu dan disusun menjadi kursi.
‘’Tadinya ini kegiatan saat tahun ajaran baru, kemudian berlanjut sampai sekarang dan jadi kegiatan mingguan,” ujarnya.
Hanik menjelaskan, ecobrick ini bisa digunakan kursi, meja, dan dikreasikan bentuk lain yang diinginkan. Sebab, botol plastik yang diisi dengan limbah non-biologikal ini memiliki fungsi untuk dimanfaatkan kembali. Sehingga, limbah plastik maupun kain perca yang tadinya tidak bisa digunakan dan sulit terurai, nantinya bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan kursi dan meja.
Dia mencontohkan satu kursi mini membutuhkan 19 botol yang terikat. Jika satu botol plastik berisi limbah 300 gram, berarti satu kursi bisa mengurangi 5.700 gram sampah di sekitar.
‘’Kalau semua orang memiliki keinginan sama, berapa sampah yang bisa dikurangi setiap bulannya,’’ imbuhnya.
Program mengumpulkan sampah plastik dalam botol rutin dilakukan setiap minggu. Kemudian setiap dua minggu sekali dilakukan diskusi. Salah satunya membahas tentang rencana selanjutnya.
Program kepedulian terhadap lingkungan cukup banyak. Di antaranya pembuatan kursi ecobrick hingga taman vertikal garden dari bahan bekas. Menurut Hanik, belum semua siswa merespon baik kegiatan mengumpulkan sampah plastik ini baik. Tidak sedikit siswa yang merasa belum perlu.
‘’Sehingga harus dilakukan pendekatan lagi,’’ pungkasnya. (rka/ind)