Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerpen Radar Bojonegoro: Kios Buku Bagja oleh Suharsono

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Ilustrasi cerpen( AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi cerpen( AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

Oleh: SUHARSONO, AQS 


Bau Khas kertas tua yang lapuk dan debu tipis di atas sampul novel-novel bisu adalah detak napas pertama Bagja setiap pagi. Empat puluh enam tahun. Bukan waktu yang singkat untuk sekadar menunggui kotak kayu berukuran dua kali tiga meter di sudut jalan kota yang semakin gila ini. Bagi orang luar, tempat itu cuma gubuk kumuh pengganggu pemandangan trotoar. Tapi bagi Bagja, kios itu adalah jantungnya sendiri.

Advertisement

Pagi ini, bau kertas favoritnya itu mendadak berganti aroma sengat yang menyengat: bau kekuasaan dan kertas stempel resmi. Sebuah lembaran putih tertempel telak di pintu besi rolling door-nya. Isinya tegas, tanpa basa-basi: Penertiban PKL demi Keindahan dan Kerapian Kota. Kata-kata rapi yang rasanya persis seperti belati yang diusapkan ke leher pelan-pelan. Tak ada negosiasi, tak ada toleransi. Hari ini adalah panggung terakhir untuk Bagja dan ribuan buku bekasnya.

Jemari Bagja yang bergetar membelai salah satu sampul buku kumpulan puisi “Duka-Mu Abadi” karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan legendaris yang warnanya sudah pudar dimakan matahari. Sejak umur tujuh belas tahun, saat kepalanya masih dipenuhi mimpi-mimpi liar sampai rambutnya memutih dan wajahnya dilipat-lipat keriput, tempat ini adalah rumah satu-satunya. Buku-buku di sini bukan sekadar dagangan pencari makan. Mereka adalah kawan bicara yang tak pernah mengutuknya saat dunia luar terlalu bising untuk didengar.

Deru mesin kendaraan melintas kencang di jalan raya. Dari kejauhan, beberapa lelaki berseragam kaku berjalan tegap menenteng papan jepit. Dada Bagja berdegup seperti genderang perang yang tak ingin ia temui. Dalam hitungan jam, sudut jalan tempatnya menanam separuh umur akan diratakan begitu saja.**

Advertisement

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Genduk

Dengan napas berat yang tersengal-sengal, Bagja berlutut. Ia menarik kardus-kardus cokelat dari kolong meja. Ditatapnya deretan novel sastra Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, komik legendaris Mahabharata karya R.A. Kosasih, dan buku-buku sejarah, Sejarah Nasional Indonesia (Jilid I–VI) karya Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto serta buku Pelopor Sumpah Pemuda karya Muhammad Yamin. Diusapnya debu itu pakai lap kain lusuh dengan kepedihan luar biasa. Setiap kali satu buku ia masukkan ke kardus, rasanya seperti mencongkel kepingan organ tubuhnya sendiri lalu dilempar ke dalam kotak.

Di luar sana, kota bergerak kesetanan. Gedung-gedung tinggi dibangun membelah langit, jalan tol dibeton rapat-rapat. Kota ini makin tampan dan megah, tapi makin dingin. Ketika kios kecil ini nanti tiada, Bagja tahu ada satu hal yang ikut runtuh tanpa ada yang peduli: nyawa kota itu sendiri.

Langkah sepatu boot yang berat mendadak terhenti di ambang pintu kios. Seorang petugas berdiri menatap tumpukan kardus. Namanya Satria, terukir di atas pin dadanya. Pemuda itu menghela napas panjang melihat lelaki tua yang terduduk lesu di lantai kayu. "Pak Bagja, waktunya sudah habis," ujar Satria. Suaranya berusaha ditahan agar tak terdengar terlalu tajam, tapi ketegasan aturan tak bisa disembunyikan. "Truk pengangkut sudah parkir di depan. Kita harus bersihkan trotoar ini sebelum siang."

Bagja tidak langsung mendongak. Tangannya masih menempel di atas novel berdebu. "Anak muda," suara Bagja terdengar dalam dan serak. "Menurutmu, kota ini dibangun pakai apa? Cuma semen, aspal, sama cat garis jalan? Apa memang sudah tak ada sepetak pun sisa buat bau kertas dan pikiran orang-orang pintar?"

Satria maju satu langkah ke dalam kios. "Kota butuh rapi, Pak. Trotoar ini jalan orang berjalan kaki, bukan tempat menumpuk kenangan. Zaman sudah melesat jauh, Pak Bagja. Siapa lagi yang mau baca buku cetak di pinggir jalan begini?"

Advertisement
Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol oleh Em Syuhada'

Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol oleh Em Syuhada'

"TITIK terendah seorang lelaki itu ketika merek rokoknya sudah mulai aneh-aneh."

Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya

Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya

PERNIKAHAN, bagi sebagian besar manusia, adalah bangunan yang ditegakkan di atas janji dan harapan. Tempat dua orang semestinya bernaung ketika hidup datang membawa badai

Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

KEMARAU di Bojonegoro selalu datang dengan caranya sendiri.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer