
Slamet Widodo
MALAM itu, suasana di Dusun Laraswangi cukup cerah. Langit tampak begitu indah. Gemintang bertaburan, menghiasi malam yang senyap.
Di langit sisi selatan, tampak Lintang Gubug Penceng. Bintang-bintang itu seperti sebuah gubug kecil yang berdiri miring di kejauhan.
Pak Raharjo memandang langit itu cukup lama. Entah mengapa, pandangannya kemudian membawa ingatannya pulang ke masa lalu.
Masa ketika ia masih kecil. Betapa bahagianya masa itu.
Ia bisa berlari-lari bersama teman-temannya. Bermain petak umpet, kejar-kejaran, atau berlari tanpa tujuan sambil menutup kepala dengan sarung, laksana seorang ninja. Tak ada yang mereka pikirkan selain bermain dan tertawa.
Padang mbulan. Begitulah malam-malam itu mereka menyebutnya.
Sementara itu, di tempat lain, para petani usai menunaikan salat Isya berjamaah mulai berbondong-bondong menuju sawah. Mereka hendak menyiram tanaman tembakau yang beberapa hari terakhir mulai tampak kehausan.
Tembakau. Daun emas yang diharapkan menjadi sumber pendapatan.
Dari tanaman itulah mereka menggantungkan banyak harapan. Membayar angsuran BRI. Membeli pupuk untuk musim tanam padi. Membayar kebutuhan sekolah anak-anak. Juga memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga yang tidak pernah benar-benar selesai.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

