Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lembar Budaya: Sang Kiai Perupa

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Ilustrasi Lembud (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Lembud (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

Oleh: SUHARSONO, AQS 


MALAM itu, di antara rimba kuas dan rekah warna yang meluap dari kanvas-kanvas raksasa, aku memandang wajah Nasirun. Bukan sekadar guratan daging dan senyum jenaka yang kerap meloloskan tawa kekeh di sela hembusan asap rokoknya, melainkan sebuah makrokosmos yang sedang bernapas. Di balik dahi tajamnya, terpancar pendar sunyi yang merekah, pendar seorang kiai yang tidak memimpin doa di atas sajadah kain, melainkan di atas kanvas jerami dan lelehan minyak cat yang tak pernah benar-benar mengering.

Advertisement

Dalam pusaran semesta kehidupannya, aku melihat bagaimana Sang Kiai Perupa ini mengeja surga dan neraka bukan sebagai tempat yang jauh, melainkan sebagai tarian garis yang berkejaran. Jemarinya yang menari tidak sekadar menggoreskan pigmen warna, tetapi sedang merawat ingatan-ingatan zaman yang koyak. Ada bau tanah Jawa yang basah, gema gamelan yang sayup, serta riak spirit lokalitas yang menjelma menjadi huruf-huruf Arab gundul di antara siluet wayang yang mengerang sabar.

Wajah Nasirun adalah kitab terbuka yang ditulis oleh malam-malam tirakat panjang. Ketika mata orang lain tertidur lelap dalam ilusi kepastian, matanya tetap menatap tajam ke dalam kegelapan kanvas, menembus batas antara yang fana dan yang azali. Ia menatap wujud-wujud yang belum terlahir, memanggil roh-roh dongeng masa lalu untuk hadir kembali, memoleskan rindu pada wujud sang Pencipta dengan estetika yang tak sanggup dijinakkan oleh teori-teori Barat.

Ada kontemplasi ganjil yang merayap di dadaku saat menyaksikan bagaimana ia memperlakukan kuasnya. Bagi Nasirun, setiap tetes warna adalah deretan zikir “Bismillah” yang pernah dititipkan perempuan tua yang pernah melahirkanya di dunia. Dipanjatkan zikir itu dengan penuh keikhlasan; sebuah penyerahan diri yang tulus di hadapan Kebenaran yang Maha Luas. Ia tidak melukis untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk meluluhkan dirinya sendiri hingga tak tersisa, mencari titik nol di mana sang seniman lebur dan hanya menyisakan keindahan yang membisikkan nama-Nya.

Semesta kehidupan di sekelilingnya bergerak bak pusaran tasawuf visual. Sanggar kerjanya bukan lagi sekadar studio seni, melainkan sebuah pesantren rasa, tempat warna-warna primer saling berdialog merumuskan takdir. Di sana, tokoh wayang dan figur suci melayang tanpa bobot, melintasi dimensi waktu, mengajak siapa saja yang memandang untuk mengeja kembali makna keberadaan, dosa, serta pengampunan yang senantiasa terhampar murah.

Dan ketika aku terus menatap raut wajahnya yang diterangi remang lampu studio, aku akhirnya paham: Nasirun adalah jembatan antara tanah dan langit. Wajah itu adalah semesta itu sendiri, tempat di mana seni bukan lagi sekadar pajangan dinding, melainkan cara bernapas, cara mencintai, dan cara mengetuk pintu tuhan dengan jemari yang penuh lumuran warna.

Namun, keheningan tirakat itu mendadak memudar ketika riak-riak kota menyusup masuk lewat pintu studio yang terbuka separuh. Kota di luar sana adalah raksasa beton yang rakus, sebuah rimba egoisme di mana manusia bertolak punggung, berebut ruang, dan membelanjakan napas hanya demi angka-angka yang mati. Di tengah kepulan polusi dan kepalsuan yang melilit jalanan, datanglah beberapa tamu berjas necis, membawa bau uang, ambisi, dan aroma persaingan pasar seni yang dingin.

"Kang Nasirun," ujar salah seorang dari mereka, mendudukkan diri di atas kursi kayu tanpa menyapu debu cat yang menempel. Matanya berbinar rapuh oleh kebingungan kota. "Dunia di luar sedang membusuk oleh kesaling-sikutan. Semua orang ingin menjadi nomor satu, mematikan yang lain demi bertahan. Mengapa Sampean malah mengurung diri di sini, membagikan karya, dan menolak menjual lukisan-lukisan terbaik ini pada mereka yang berani bayar mahal?"

Nasirun tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kuasnya yang masih basah oleh warna merah marun. Dipandangnya sang tamu dengan mata sayu namun menembus dada, seolah sedang menatap sesosok jiwa yang terengah-engah dikejar bayangannya sendiri. Ia menyulut sebatang rokok, membiarkan asapnya membumbung membentuk awan kecil yang menggantung di antara ceiling studio yang tinggi.

Advertisement
Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

KIAI Haji (KH) Wahab Chasbullah begitu kerasan saat singgah di Padangan, Bojonegoro. Era 1930, kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu kerap mampir di Padangan. Kawasan dekat Bengawan.

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Ke

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer