Menengok Jamasan Keris Korowelang Mbah Jimat di Lamongan
LAMONGAN, Radar Lamongan - Sejumlah kendaraan roda dua tertata rapi di Gang Pusaka di Lingkungan Groyok, Kelurahan Sukorejo, Kamis pagi (29/6). Puluhan warga memadati salah satu bangunan tua bertuliskan pendopo jimat, setelah melaksanakan Salat Idul Adha 1444 H.
Namun, para warga ini tidak sedang melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Tetapi sedang melihat jamasan pusaka keris karowelang mbah jimat. Jamasan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan setiap tahun untuk membersihkan benda pusaka.
Juru kunci pendopo keris korowelang mbah jimat, M. Rafiq, 60, mengatakan, sejak dulu jamasan keris korowelang mbah jimat ini dilaksanakan setahun sekali pada 10 dzulhijah. Berbeda dengan kebanyakan pusaka, yakni pembersihannya dilaksanakan pada saat malam satu suro. Sebab, menurut dia, keris ini diyakini sebagai pemberian Sunan Giri. Setelah jamasan ini, dilaksanakan penggantian pakaian ontokusumo di Kecamatan Mantup.
‘’Jadi setelah melakukan pembersihan keris korowelang mbah jimat ini, baru berpindah ke Mantup,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Dia menjelaskan, keris korowelang mbah jimat ini berbentuk seperti ular dengan tujuh luk (bagian berkelok di keris). Pusaka milik Mbah Boyo Pati atau Syekh Abdus Somad yang makamnya di Desa Medang, Kecamatan Glagah ini menjadi pusaka ikonik yang dimiliki Lamongan.
Pembukaan keris korowelang mbah jimat ini tak bisa sembarang dilaksanakan setiap waktu. Hanya bisa dilakukan pada saat prosesi jamasan, yakni bakda Salat Idul Adha.
‘’Gak ada yang berani buka ini mas, kalau gak satu tahun sekali saja,’’ ucapnya.
Juru kunci melakukan jamasan menggunakan pelepah pisang. Pusaka tersebut dibersihkan menggunakan air dan digosok dengan perasan jeruk nipis berulang kali hingga bersih.
‘’Untuk bunga sendiri telah disediakan bunga tujuh rupa dan juga kembang telon,’’ terangnya. (mal/ind)
Editor : M. Yusuf Purwanto