‘’Dunianya penuh dengan kekangan. Ketidakadilan seolah makanan yang harus dilahapnya siang dan malam. Suka duka apa benar berdampingan? Jika iya, harusnya tawanya sama dengan lara. Tapi, ini tidak, luka mendominasi segalanya’’
Sandyakala menghilang dalam peraduan. Kumandang azan memanggil siapa pun ingin menemui-Nya. Satu per satu warga mulai keluar rumah dengan sarung, peci, dan mukena. Menuju musala yang berada di pinggir permukiman warga.
Berbeda dengan musala lainnya yang terbangun dengan bata kokoh sebagai dindingnya. Musala ini hanya berasal dari bambu yang dirakit untuk lantai, dinding, juga penyangga hingga menyerupai rumah panggung sederhana. Sesuai dengan lokasi desa kami yang jauh dari hiruk-pikuk dan kemegahan kota.
Magrib berhasil menarik paling banyak jemaah dibanding waktu salat lainnya. Jarak waktu tidak terlalu jauh dengan Isya, membuat beberapa jemaah lebih memilih menunggu di musala sambil bercengkrama. Tapi, tidak denganku. Aku memilih kembali pulang karena telah ada yang menunggu.
‘’Mbak, kami ada PR (pekerjaan rumah) matematika bab bangun datar,’’ tutur Ana, satu di antara tiga siswa kelas empat SD tengah duduk di meja depan rumahku.
Aku masuk untuk mengambil buku, spidol, dan bolpoin. Bersiap mentransfer ilmu telah aku dapatkan lebih dulu kepada para tetangga kecilku. Entah bermula dari apa, namun sejak duduk di bangku SMP aku senang mengajari anak-anak di sekitarku. Meski tidak andal, tapi setidaknya aku ingat pelajaran yang menjadi kesulitan mereka. Kalau pun lupa, tidak masalah karena ada kata ‘skip’ di kamus kami bersama.
Di tengah keseriusan bergulat dengan soal-soal tertera di buku LKS matematika. Datang Putri, tetangga yang rumahnya berada di ujung selatan dusun kami. Tidak sendiri, ia datang bersama dengan seorang yang kutafsir saat ini berusia 16 tahun. Beda satu tahun di bawahku.
Kurus kering, namun tingginya hampir sama denganku, yakni sekitar 160 sentimeter (cm). Dengan rambut tertata ala kadarnya. Baju lusuh dengan rok kebesaran bermotif bunga-bunga seperti yang sering dikenakan para wanita tua. Tersirat sebuah harapan dari sorot matanya ketika bertatap dengan manikku. Tertarik seutas senyum saat menyambut salamku. Namun, ia tidak menjawabnya.
‘’Namanya Ninik, Mbak,’’ ujar Putri mewakili jawabannya.
Ninik berasal dari desa seberang. Ia baru pindah ke dusun kami karena nenek yang merawatnya sejak kecil telah berpulang beberapa hari lalu. Sedangkan, ibunya menjadi buruh migran yang bekerja di Hongkong sejak ia berusia dua tahun.
Kini, ia tinggal di dusun ini bersama dengan nenek dari ayahnya yang asli orang sini. Sedangkan, ayahnya mendekam di jeruji besi karena ketahuan mencuri beberapa motor bulan lalu.
‘’Pinjami aku seragammu,’’ ucap Ninik dengan suara gemetar. Rasa takut berpadu dengan tangis yang tertahan. Aku melongo, belum menjawab, mencoba mencerna situasi terjadi malam ini. Kupandangi Putri dengan tujuan mencari jawaban dari segala kebingungan. Anak kelas tiga SD itu rupanya peka dengan situasiku.
‘’Ninik ingin sekolah, Mbak. Tapi, tidak punya seragam. Dia mau masuk SMP karena sudah besar,’’ tutur Putri dengan lugu.
Bukannya membuatku tercerahkan, penjelasan dari Putri justru semakin membuat kebingungan. Bagaimana bisa masuk SMP, sedangkan saat ini bukan waktu penerimaan peserta didik baru (PPDB) sekolah.
Pinjami aku seragammu? Seragam SMP? Mungkin masih ada ditumpukan baju bekas tersimpan dalam kardus gudang belakang. Tapi, apa baju itu akan berguna dan bisa dikenakannya untuk sekolah?
Sedangkan, Ninik sendiri tidak memiliki ijazah SD. Bahkan, tidak pernah mengenyam bangku pendidikan sekalipun. Meskipun memilikinya, tapi waktu untuk mendaftar SMP sudah terlambat.
Rentetan pertanyaan itu berperang hebat dalam kepalaku. Apa yang harus aku lakukan? Memberi pengertian? Kepada siapa? Ninik dengan risiko akan menghanyutkan sorot harap di mata bulatnya itu? Atau kepada Putri yang membawa Ninik ke sini?
Anak usia sembilan tahun itu pun tidak mengerti, bahwa tidak bisa sembarangan mendaftar sekolah dengan cara semau kita. Bahkan, harapan Ninik untuk melanjutkan ke jenjang SMP dan tekadnya untuk meminjam seragam juga berdasar atas saran Putri.
‘’Aku ingin bisa membaca dan berhitung. Aku ingin sekolah menggunakan seragam seperti Putri. Kalau pagi sampai siang aku tidak punya teman karena Putri sekolah. Aku hanya di rumah, mencuci, masak, dan bersih-bersih saja,’’ ceritanya dengan air mata tertahan.
‘’Putri mengajakku ketemu, sampeyan (Anda) untuk meminjam seragam. Besok mau mendaftar ke SMP. Katanya Putri, kalau sudah besar sekolahnya di SMP, SD hanya untuk anak kecil saja,’’ lanjutnya.
Aku mulai mengerti dengan situasi terjadi. Pun telah memiliki jawaban atas permasalahan ini. Namun, belum menemukan cara tepat untuk menyampaikan tanpa membunuh semangat belajarnya. Bagai secerca cahaya di tengah gelapnya malam dengan liputan ketakutan. Sebuah ide muncul ketika aku melihat Ana dengan ketiga temannya dan buku sebagai bahan tempur kami beberapa waktu lalu.
‘’Ninik ingin belajar dengan menggunakan seragam?’’ tanyaku hati-hati. Dibalas dengan sebuah anggukan yang berhasil meloloskan satu butir air dari kelopak matanya.
‘’Nanti aku kasih seragam ya. Tapi, belajarnya tidak bisa langsung di SMP. Harus belajar membaca, menulis dan berhitung dulu. Kalau di SMP, pelajarannya sudah susah-susah, nanti Ninik malah bingung. Sakit kepala karena pusing nanti hehehe. Jadi, Ninik belajar sama aku dulu ya. Bareng-bareng sama teman-teman di sini, sama Putri juga nanti ikut,’’ ujarku dengan menawari solusi dengan hati-hati. Aku selipi sedikit candaan dengan harapan tidak melukai.
Beruntungnya, hanya dengan penjelasan singkat tersebut berhasil membuat Ninik menyetujui. Meski 90 persen aku yakin, baik Ninik ataupun Putri masih belum mengetahui jawaban sebenarnya kenapa aku menawarkan solusi tersebut. Mungkin seiring berjalannya waktu nanti, saat kami sudah mulai dekat, akan aku jelaskan secara rinci.
Hari berikutnya, tepat setelah magrib, Ninik, Putri, dan beberapa anak telah duduk rapi di depan rumahku. Rasa haru menyerbu, ketika melihat Ninik dengan senyum lebih lebar dan semangat terpancar. Duduk di antara anak-anak lainnya, dengan buku dan alat tulis di depannya. Hal lebih membuat terharu adalah ketika Ninik berdiri dan menunjukkan penampilannya dibalut dengan seragam SMP-ku dengan bangga.
‘’Seragamnya sedikit kekecilan, Mbak. Tapi tidak apa-apa, masih muat. Ninik suka,’’ ujarnya setelah melepas balutan jaket membungkus tubuh atasnya dengan semangat.
Pembelajaran kali ini aku fokuskan kepada Ninik. Untungnya, anak-anak lain tidak memiliki PR. Sehingga cukup aku beri soal-soal latihan, mereka sudah fokus dengan tugasnya masing-masing.
Aku mulai mengenalkan Ninik dengan angka dan huruf. Juga, memintanya mencoba menulis setelah aku contohkan. Berulang kali ia meringis karena kesusahan. Namun, tidak patah semangat, terus mencobanya lagi dan lagi, berulang kali.
Kegiatan belajar bersama Ninik hanya berlangsung sekitar empat hari. Tepat ketika Ninik sudah menghafal semua huruf abjad dan angka satu hingga seratus. Meski, untuk membaca dan berhitungn masih belum begitu lancar, namun perkembangannya sungguh luar biasa.
Hari keempat, beberapa menit ketika kami memulai pembelajaran. Nenek Ninik datang dengan emosi dan potongan kayu di tangannya. Ia menyeret Ninik dan memukulinya di depan rumahku. Aku sebagai yang paling dewasa di lokasi itu, mencoba menghentikannya.
Namun nihil, kekuatan emosi berhasil menutup kupingnya hingga tidak mempan dengan segala kata-kata yang kuucapkan. Dibuangnya seluruh buku dan alat tulis pemberianku. Kemudian, diseretnya Ninik pulang.
‘’Buat apa belajar. Tugasmu hanya bersih-bersih rumah. Anak dari pelakor tidak pantas pintar. Biar saja seperti ibunya yang tidak memiliki otak itu.’’ Pulang menyeret Ninik dengan penuh amarah.
Sejak kejadian itu, semua tentang Ninik seolah hilang tertelan bumi. Jangankan raganya, namanya juga sudah tidak terdengar lagi. Entah, bagaimana nasib seragam yang dibanggakan itu. Apa memiliki nasib seperti buku dan alat tulisnya? Atau justru lebih naas dari itu.
Lima tahun berlalu. Kini aku telah tamat dari perguruan tinggi. Saat Hari Raya Idulfitri, terdapat sepasang suami istri dengan satu orang anak tiba-tiba datang ke rumah dengan mengendari motor tidak berplat nomor polisi.
‘’Mbak, mohon maaf lahir dan batin ya,’’ ucap perempuan tengah mengendong anak usia empat tahun tersebut.
‘’Iya, sama-sama. Tapi, ibu sama bapak lagi keluar,’’ jawabku. Aku mengira tamu tersebut adalah kenalan orang tuaku. Ternyata salah, itu adalah tamuku.
Perempuan itu memelukku setelah menyerahkan anaknya kepada laki-laki di sebelahnya. Dengan ragu, aku membalas pelukannya. Aku masih belum mengenalinya. Ia terisik, semakin dalam seiring dengan bertambah eratnya pelukan itu. Aku mencoba menenangkan dan memintanya untuk duduk.
‘’Mbak, saya Ninik,’’ ujarnya terbata. Kini, giliran aku yang tersedu mendengarnya.
‘’Maaf tiba-tiba hilang tanpa pamit. Sejak kejadian malam itu, aku dikurung di rumah hampir satu bulan. Kemudian, disuruh bekerja menjadi ART di Surabaya. Tidak lama, aku menikah dan memiliki satu anak,’’ ceritanya dengan deretan air mata enggan berhenti sembari melihat keluarga kecilnya.
‘’Mbak, mohon doanya. Semoga aku dan suami nanti bisa menyekolahkan Faisal, meski kondisi ekonomi kami sulit. Biar Faisal tidak seperti aku yang malam-malam meminta seragam orang tidak dikenal. Biar Faisal tidak seperti aku yang buta ilmu pengetahuan,’’ lanjutnya.
Di tengah ceritanya aku menarik sebuah benang merah perbedaan Ninik yang dulu dan sekarang. Jika Ninik yang dulu berupaya keras agar bisa sekolah, kini ia berupaya lebih keras untuk anaknya agar bisa mengenyam pendidikan.
Jika, Ninik yang dulu terkekang oleh ketidakadilan, kini ia berupaya membuat Faisal bebas mempelajari segala hal. Jika usahanya untuk bisa membaca dan menulis dulu membuat sepotong kayu melayang, kini ia berusaha membuat apapun yang dilakukan Faisal berbuah tepuk tangan kebanggaan.
Ia yang selalu dianggap kotor oleh keluarga ayahnya karena lahir dari sebuah perselingkuhan, cukup membuat trauma dalam kehidupan. Hingga kini, ia mengaku tidak bisa luas bersosialisasi karena dunia masih tetap keji memandangnya.
Namun, ia bersyukur, kini memiliki keluarga kecil di tengah ketidakadilan yang terus membuatnya kerdil. (*)
*DEWI SAFITRI
Jurnalis Radar Bojonegoro