Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Taqdir Naik Haji

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 11 Juni 2023 | 19:06 WIB
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)

LELAKI tua yang sedang duduk di perempatan lampu merah itu adalah Mbah Taqdir. Wajahnya semakin keriput dimakan usia. Tampak tangannya mulai gemetaran menjajakkan barang daganganya. Beberapa ikat sapu lidi dan anyaman kipas angin, serta beberapa kemucing dari bulu ayam sudah ia siapkan.

Usaha tersebut dijalaninya untuk sebuah harapan besar yakni bisa ziarah ke Tanah Suci. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan dalam celengan kayu yang disiapkanya di kolong tempat tidurnya.

Tidak ada kata menyerah bagi Mbah Taqdir. Istrinya, Sulipah sudah lama meninggal karena penyakit menahun. Kini, Mbah Taqdir tinggal bersama Marno, anak semata wayangnya yang  sangat dicintainya.

Sepanjang  trotoar di salah satu Kota Soto itu sudah terlihat geliatnya. Toko-toko kelontong sudah mulai buka. Penjual nasi boran dengan aneka lauk juga mulai sibuk melayani pembeli untuk sarapan pagi.

Agak ke timur sedikit kira-kira 300 meter dari alun-alun, terdapat pula penjual soto ayam legendaris. Gerobak jual aneka gorengan sudah berjajar di sebelah barat alun-alun. Orang-orang terlihat berlalu-lalang dengan kendaraanya masing-masing untuk mencari nafkah.

Laksana burung bangau terbang ketika pagi dan pulang saat senja dengan kantong paruhnya yang penuh makanan demi memberi makan anak-anaknya yang  kelaparan. Mereka bertengger di beberapa pohon bakau yang menjulang menanti induknya segera datang.

Barulah setelah induknya menyuapinya, bangau kecil itu tidak terdengar lagi suaranya. Mereka terlelap karena kekenyangan.

***

Tak berapa lama terlihat beberapa orang mulai berdatangan melihat-lihat barang dagangan Mbah Taqdir. Barang yang dijual Mbah Taqdir saat ini bisa dikatakan terbilang jadul. Di zaman serbamodern seperti sekarang ini, sebagian besar sudah menggunakan teknologi untuk memenuhi hajat hidup mereka.

Berbagai merek kipas angin sudah banyak tersedia di toko-toko elektronik. Tapi, Mbah Taqdir tetap bertahan dengan barang daganganya tersebut. ‘’Berapa Mbah harga kipasnya?’’ tanya pembeli turun dari motornya.

‘’Lima ribu saja, mbak,” jawabnya dengan suara agak datar. “Dua mbah!,” tanpa penawaran pembeli tersebut memberikan uangnya.

Entah karena kebutuhan atau merasa iba dengan kondisi Mbah Taqdir yang sudah setua itu ia masih bekerja. Pembeli tersebut tergerak membeli kipas itu tanpa basa-basi.  Tidak berapa lama,  lalu ia bergegas menarik gas motornya dan hilang di kelokan dekat toko onderdil motor.

Sambil menyeka keringat mulai bercucuran dari wajahnya,  Mbah Taqdir memasukkan uangnya itu ke dalam kantong celana. ‘’Alhamdulilah” tuturnya lirih tanda syukur atas rezeki diterimnya saaat ini. Syukur diucapkanya itu masuk ke lorong hatinya yang lapang. Menjadi buah ketentraman yang tak bisa diukur dengan apapun.

Berapa banyak orang mendapatkan harta berlimpah, tapi merasa kurang. Bahkan harus menempuh jalan kotor dengan melakukan tindak korupsi. Bukankah keinginan itu tanpa ada batas. Jika engkau diberikan satu lembah berupa emas, pasti engkau akan meminta dua lembah berupa emas dan seterusnya tanpa berkesudahan. Keinginan itu baru berhenti saat kita sampai ke liang lahat.

***

Mbah Taqdir membuka bekal makan dan minum dibawanya dari rumah. Segera dengan lahapnya makanan itu dihabiskan dengan penuh syukur. Lalapan terong, potongan kacang panjang,  telur ceplok, sambal terasi, dan sedikit ikan asin menjadi kesukaannya. Makanan sederhana inilah bisa mengantarnya untuk kuat bekerja hingga sore.

Bukankah sekarang sudah terbalik, banyak orang yang mencegah makanan karena berbagai macam penyakit. Beralih pada makanan rendah kolesterol, rendah gula, bahkan cenderung beralih ke herbal untuk menghindari penyakit yang mematikan.

Makan dan minum sejatinya sudah dicontohkan oleh baginda nabi. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernapas. Tapi, kadang keinginan itulah menyebabkan kita hidup secara berlebihan. Dan penyakit segera berdatangan ke tubuh kita.

Dari jauh terdengar beduk masjid telah ditabuh berkali-kali. Kumandang azan duhur terdengar jelas dari masjid jamik tidak jauh dari alun-alun kota Soto. Mbah Taqdir segera bangkit memenuhi panggilan Rab-Nya. Sambil berucap lirih ia berkata: “Labbaik allahumma labbaik; Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah”.

Seruan suci itu tidak ia sia-siakan. Segera ia tinggalkan barang daganganya di perempatan lampu merah. Ia langkahkan kakinya ke masjid jamik. Mengambil air wudu dan menyucikan tangan, wajah, kepala, kaki, dan hatinya untuk menghadap kepada Zat Pemberi Rezeki.

Terlihat ia mengangkat tangan tanda kepasrahan kepada Tuhan-Nya. Rukuk dan sujud ia lakukan dengan tumakninah. Tidak ada keraguan sedikitpun ia jalani perintah tersebut. Sesungguhnya ia hanya menjalani takdirnya sebagai seorang hamba.

Ia memahami betul bahwa tidak diciptakannya jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah semata. Di sela-sela kesibukkanya berdagang, tidak pernah ia meninggalkan salat hanya untuk urusan duniawi yang tak pernah habis-habisnya.

Setelah mengucapkan salam lalu ia berdoa dengan linangan air mata dipipinya. Sambil mengangkat kedua tangannya, ia berdoa: “Allahumma yassir lana ziarah Makkah Madinah, Ya Allah, mudahkanlah kami untuk ziarah ke Makkah dan Madinah”.  Doa tersebut dilantunkan berkali-kali agar di tahun ini ia bisa bersegera memenuhi panggilan-Nya dalam menunaikan ibadah haji.

***

Matahari di Kota Soto sangat terik. Jalan aspal dilaluinya tampak dari jauh seperti bayang air berkaca-kaca. Ia langkahkan kakinya menuju barang daganganya kembali. Segera ia menata dan merapikan anyaman kipas angin itu dengan rapi.

Sebuah mobil Pajero terlihat sedang parkir di sisi kiri perempatan lampu merah. Ia memandangi Mbah Taqdir begitu lama. Dengan pakaian perlente memakai dasi merah, ia mendekati Mbah Taqdir.

Ia merupakan salah satu  pengusaha kaya-raya di Kota Soto. Setelah anaknya sembuh dari penyakit yang mematikan. Ia bernazar untuk menolong orang lain atas kesembuhan anaknya tersebut. Melihat kondisi Mbah Taqdir masih bekerja keras di usia senja, pengusaha kaya raya itu menaruh simpati  kepadanya.

Dari jauh terlihat obrolan mereka sangat intens. Seluruh barang dagangan Mbah Taqdir diborong habis. Mbah Taqdir terlihat sujud tersungkur di trotoar jalan. Mereka berangkulan dengan isak tangis haru. Atas kehendak dan takdir Allah semata, Mbah Taqdir tahun ini bisa menunaikan rukun Islam kelima itu ke Tanah Suci.

Segala hal yang menjadi kebutuhan Mbah Taqdir, pengusaha kaya-raya itulah yang mengurusnya. Uang kekurangan untuk pelunasan daftar haji sudah terbayar berkat tangan dingin pengusaha tersebut.  Sampailah Mbah Taqdir di rumah idamanya.

Ia berjalan ke ruang istirahat. Rasa haru dan bangga menyebar keseluruh isi rumah. Celengan terbuat dari kayu itu  masih tergeletak di kolong tempat tidurnya. Segera ia mengambil pisau dapur dan membelah celenganya itu. Tumpukan uang kertas pecahan lima ribu dan sepuluh ribu tersusun dengan rapi.

Di rapikannya uang itu lalu diselipkan di bawah tumpukan pakaian almari. Tidak henti-hentinya Mbah Taqdir mengucapkan rasa syukur mendalam. Ia akhirnya dipanggil sebagai tamu Allah. Waktu terus berjalan. Bulan telah berganti. Kelompok terbang (kloter) pertama jemaah calon haji akan berangkat pada 3 Juni 2023.

Terlihat wajah Mbah Taqdir semringah di pendapa kebanggan Kota Soto itu bersama jajaran pimpinan daerah untuk upacara pemberangkatan. Mbah Taqdir termasuk calon jemaah haji dengan usia tersenja.

Bersama rombongan calon jamaah  haji, penjual anyaman kipas angin itu berangkat ke Tanah Suci dengan takdir dan kuasanya Allah SWT. “Labbaikallah humma labaik, Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah”.

***

 

Bumi Utara, Juni 2023

 

*SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan, tinggal di Desa Sambopinggir Kecamatan Karangbinangun.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#Sosial #cerpen #infaq #haji #naik haji