Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kultum Subuh: Ini Alasan Mengapa Berbuka Puasa Terasa Begitu Melegakan Menurut Prof. Quraish Shihab

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 23 Februari 2026 | 02:00 WIB

KULTUM SUBUH: Prof Quraish Shihab.
KULTUM SUBUH: Prof Quraish Shihab.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bagi umat Muslim di Indonesia, momen berbuka puasa adalah saat yang paling dinantikan. Aroma masakan dan segarnya minuman sering kali dianggap sebagai sumber utama kebahagiaan saat azan Magrib berkumandang. Namun, tahukah Anda bahwa kenikmatan sejati saat berbuka ternyata bukan terletak pada apa yang ada di atas meja makan?

Dalam program kultum Subuh Mutiara Hati SCTV, pakar tafsir Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ada rahasia spiritual di balik rasa "lega" yang kita rasakan saat berbuka.

Mengenal 3 Tingkatan Kenikmatan Manusia

Menurut Prof. Quraish Shihab, manusia dianugerahi tiga jenis kenikmatan yang berbeda fasenya:

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Tuban Ramadan 1447 H: Cek Waktu Buka Puasa dan Salat

  1. Kenikmatan Jasmani: Ini adalah level paling dasar, yakni kepuasan fisik saat makan, minum, atau memenuhi kebutuhan biologis.

  2. Kenikmatan Nafsani (Jiwa): Kepuasan emosional yang sering kali lebih kuat dari fisik. Contohnya, orang yang rela menunda makan karena asyik menyalurkan hobi atau menonton pertandingan favoritnya.

  3. Kenikmatan Rohani: Level tertinggi yang muncul saat seseorang mampu berkorban demi orang lain atau berhasil mencapai kemenangan spiritual. Seperti orang tua yang merasa jauh lebih "nikmat" melihat anaknya minum saat haus daripada meminumnya sendiri.

Mengapa Berbuka Puasa Begitu "Nikmat"?

Banyak orang mengira kebahagiaan berbuka berasal dari aneka takjil yang manis. Namun, secara psikologis dan spiritual, rasa nikmat itu muncul karena kita berhasil mengendalikan nafsu selama seharian penuh.

Berhasil menahan diri dari godaan adalah sebuah pencapaian besar bagi jiwa manusia. Inilah yang dimaksud dalam hadis Nabi bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan kenikmatan saat berbuka dan kelak saat bertemu dengan Tuhannya.

Bahaya Puasa yang "Hanya Sah di Atas Kertas"

Prof. Quraish Shihab memberikan peringatan keras berdasarkan sabda Rasulullah SAW. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan. Jika seseorang menahan lapar tapi tetap memelihara ucapan buruk, kebohongan, dan dosa, maka puasanya kehilangan esensinya.

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026 Lamongan: Panduan Waktu Buka Puasa dan Salat

Secara hukum fikih, mungkin puasa tersebut dianggap sah. Namun, di hadapan Allah, puasa yang tidak dibarengi dengan pengendalian akhlak bisa jadi tidak diterima sama sekali. "Allah tidak butuh seseorang meninggalkan makan dan minumnya jika ia tidak meninggalkan ucapan buruk," tegas beliau.

Meraih Kebahagiaan Sejati

Tujuan akhir dari ibadah puasa adalah menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri. Orang yang berhasil mengendalikan nafsunya adalah orang yang paling berbahagia. Itulah mengapa, bahkan anak-anak kecil pun sering kali bersikeras menyelesaikan puasanya; mereka sedang mengecap manisnya kemenangan rohani.

Mari jadikan setiap detik puasa kita bukan hanya sebagai latihan fisik, tapi sebagai perjalanan menuju kenikmatan rohani yang lebih tinggi. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#ramadan #kenikmatan #berbuka puasa #melegakan #Kultum subuh #quraish shihab #Kepuasan