Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lima Mahasiswa Papua Ikut Nobar Film Pesta Babi di Blora

R
Penulis: Rahul Oscarra Duta❯
KONDUSIF: Acara nonton bareng film dokumenter ‘’Pesta Babi’’ di Blora diikuti pelajar, guru, aktivis, hingga mahasiswa asal Papua. (RAHUL OSCARRA DUTA/RDR.BJN)
KONDUSIF: Acara nonton bareng film dokumenter ‘’Pesta Babi’’ di Blora diikuti pelajar, guru, aktivis, hingga mahasiswa asal Papua. (RAHUL OSCARRA DUTA/RDR.BJN)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemutaran film dokumenter ‘’Pesta Babi’’ di Omah Talang Bocor Kridosono, Blora, berjalan lancar. Padahal, di sejumlah daerah lain kegiatan serupa sempat mendapat penolakan hingga dibubarkan.

Nonton bareng dan diskusi film karya Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale tersebut diikuti berbagai kalangan. Mulai pelajar, guru, aktivis hingga mahasiswa asal Papua yang tengah menempuh pendidikan di Blora akhir pekan lalu.

Sedikitnya lima mahasiswa Papua hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya James, Melanesia dan Chris. Mereka turut membagikan cerita soal kondisi Papua saat ini usai pemutaran film berlangsung.

Advertisement

James, mahasiswa asal Timika menilai, film tersebut menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di Papua. Terutama terkait kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan.

‘’Film ini sangat menceritakan tentang Papua yang benar-benar terjadi di Papua,” ujarnya.

Advertisement

Dia mengaku tinggal di wilayah dekat area konsesi Freeport. Menurutnya, limbah tambang berdampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar. ‘’Kita untuk bertani susah. Karena limbah yang turun dari Freeport merusak alam kita,” katanya.

Mahasiswa lainnya Melanesia menyebut, masyarakat Papua sangat bergantung pada alam. Namun, kondisi itu kini berubah seiring banyaknya perusahaan yang masuk ke wilayah mereka.

‘’Kita hidup dengan alam. Tetapi dengan masuknya perusahaan asing, menggusur hutan, kita bingung cari makan di mana,” tuturnya.

Sementara itu, Chris menyoroti dampak kerusakan lingkungan terhadap wilayah pesisir. Menurut dia, kualitas air laut di daerahnya mengalami perubahan.

‘’Di tempat saya, dampaknya ke kualitas air. Seperti di pantai kami, airnya sudah bukan air pantai umumnya. Butek,” bebernya.

Advertisement
Editor : Bhagas Dani Purwoko
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Opini: Nobar dan Perekat Solidaritas Sosial

Opini: Nobar dan Perekat Solidaritas Sosial

PAGELARAN sepak bola Piala Dunia 2026 selama 40 hari telah mencapai babak akhir, di partai final (20/7/2026) tim nasional Spanyol versus Argentina yang berstatus sebagai juara bertahan.

Siapa Samin Surosentiko? Tokoh yang Membawa Pengaruh Besar bagi Masyarakat Bojonegoro dan Blora

Siapa Samin Surosentiko? Tokoh yang Membawa Pengaruh Besar bagi Masyarakat Bojonegoro dan Blora

Pengaruhnya meluas hingga Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di kedua wilayah tersebut, ajaran Samin berkembang menjadi identitas sosial dan budaya yang dikenal melalui komunitas Sedulur Sikep atau Wong Sami

LPG Melon di KDKMP Rp 16 Ribu, Pangkalan Rp 18 Ribu, Pertamina: Pangkalan Tak Perlu Khawatir

LPG Melon di KDKMP Rp 16 Ribu, Pangkalan Rp 18 Ribu, Pertamina: Pangkalan Tak Perlu Khawatir

Pjs Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Risky Diba Avrita menjelaskan, HET merupakan batas maksimal harga jual yang ditetapkan pemerintah daerah. Bukan patokan harga yang wajib dit

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer