Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

6 Rivalitas yang Siap Terulang di Piala Dunia 2026: Argentina-Jerman Sudah 3 Kali Final

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 3 Juni 2026 | 17:07 WIB
PIALA DUNIA 2026: Simak rivalitas abadi akan terulang di Piala Dunia 2026.
PIALA DUNIA 2026: Simak rivalitas abadi akan terulang di Piala Dunia 2026.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sembilan hari lagi, tepatnya 11 Juni 2026, Stadion Azteca di Mexico City akan menjadi pusat perhatian tiga miliar pasang mata di seluruh dunia ketika Meksiko menjamu Afrika Selatan dalam laga pembuka Piala Dunia FIFA 2026.

Dilansir dari laman Sports Mole, turnamen yang dijadwalkan berlangsung hingga 19 Juli di tiga negara tuan rumah (Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada) ini adalah yang paling ambisius dalam sejarah, melibatkan 48 tim peserta, naik drastis dari 32 di Qatar 2022. Final akan digelar di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey.

Format yang diperluas ini bukan semata tentang memberi tempat bagi negara-negara debutan. Secara strategis, jalur babak gugur yang lebih panjang juga memperbesar peluang raksasa-raksasa sepak bola saling berhadapan lebih dari sekali dalam satu turnamen.

Dan di sinilah pertanyaan yang paling menyulut imajinasi jutaan penggemar: duel-duel bersejarah mana yang berpeluang terulang musim panas ini?

Dari 22 edisi Piala Dunia yang sudah digelar, dua pasang tim Brasil vs Swedia dan Argentina vs Jerman, sama-sama mencatatkan rekor tujuh kali pertemuan. Namun dari sisi bobot historis, rivalitas-rivalitas ini menyimpan cerita yang jauh lebih kaya daripada sekadar deretan angka statistik.

Brasil vs Swedia: 88 Tahun Rivalitas yang Belum Menemukan Titik Akhir

Tak ada dua negara yang lebih sering berhadapan di Piala Dunia FIFA daripada Brasil dan Swedia. Keduanya telah bertemu tepat tujuh kali sejak pertemuan pertama di Prancis pada 1938, menjadikan ini rivalitas dengan jumlah pertemuan terbanyak sekaligus paling panjang dalam sejarah turnamen.

Baca Juga: Cara Nonton Piala Dunia 2026 Lewat TVRI, Bisa Pakai TV Biasa hingga HP

Tujuh pertemuan itu tersebar selama hampir tujuh dekade: perebutan tempat ketiga 1938, laga grup terakhir 1950, final legendaris 1958, pertemuan grup di 1978 dan 1990, serta dua kali pertemuan, grup dan semifinal, di turnamen 1994.

Namun dari semua babak itu, satu laga berdiri di atas segalanya: final 1958 di Stadion Rasunda, Solna. Brasil menghancurkan Swedia, yang tampil sebagai tuan rumah, dengan skor 5-2.

Yang membuat laga itu abadi dalam memori kolektif sepak bola bukan sekadar skornya, melainkan sosok yang mencetak dua gol di dalamnya: seorang remaja berusia 17 tahun bernama Edson Arantes do Nascimento, yang dunia akan segera mengenal sebagai Pelé.

Gelar itu adalah yang pertama dari lima trofi Piala Dunia Brasil, awal dari warisan yang menjadikan Seleção satu-satunya negara dengan lima kemenangan dalam sejarah turnamen.

Brasil dominan secara keseluruhan dengan lima kemenangan dan dua hasil imbang dari tujuh pertemuan.

Dengan Swedia sudah lolos ke 2026 dan keduanya ditempatkan di bagian undian yang berbeda, babak gugur tetap menyisakan kemungkinan pertemuan kedelapan, lanjutan dari persaingan yang sudah lebih dari delapan dekade berjalan.

Argentina vs Jerman: Tiga Final, Satu Rivalitas yang Tak Ada Tandingannya

Jika Brasil vs Swedia adalah rivalitas dengan umur terpanjang, maka Argentina vs Jerman adalah rivalitas dengan gravitasi historis terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Juga tujuh pertemuan, tetapi tiga di antaranya adalah partai final, sebuah catatan yang belum dimiliki pasangan negara mana pun dalam sejarah FIFA.

Awalnya, persaingan ini dimulai tanpa banyak drama: Jerman Barat mengalahkan Argentina 3-1 di babak penyisihan grup 1958, lalu imbang tanpa gol di 1966. Namun tiga babak berikutnya mengubah semua itu menjadi salah satu narasi terbesar dalam sejarah olahraga.

Baca Juga: IFAB Terapkan Aturan Sepak Bola Baru Jelang Piala Dunia 2026: Pergantian Pemain dan Lemparan Masuk Dipercepat, Aturan Tutup Mulut dan Protes WO Ditambahkan

Di Meksiko 1986, Diego Maradona tampil dalam salah satu penampilan individu terbaik yang pernah dilihat Piala Dunia.

Setelah mengguncang dunia dengan gol "Tangan Tuhan" dan aksi solo fenomenal melawan Inggris di perempat final, Maradona memimpin Argentina meraih kemenangan 3-2 atas Jerman Barat di final, di depan lebih dari 114.000 penonton di Stadion Azteca. 

Assistnya untuk Jorge Burruchaga akhirnya memastikan gelar juara dunia kedua Argentina. Jerman membalas empat tahun kemudian.

Di Roma 1990, penalti Andreas Brehme di menit-menit akhir final mengamankan kemenangan tipis 1-0, sebuah kekalahan yang membuat Maradona menangis saat peluit terakhir berbunyi, menghasilkan salah satu gambar paling ikonik dalam sejarah sepak bola.

Setelah dua pertemuan di babak gugur 2006 dan 2010, klimaks berikutnya datang di final 2014 di Maracanã, ketika gol Mario Götze di perpanjangan waktu mengamankan kemenangan 1-0 untuk Jerman, gelar keempat mereka.

Secara statistik, Jerman unggul: empat kemenangan, dua imbang, satu kekalahan dari tujuh pertemuan.

Tetapi dengan Argentina kini datang sebagai juara bertahan setelah kemenangan di Qatar 2022, pertemuan kedelapan bukan sekadar angan-angan romantisme penggemar sepak bola.

Brasil vs Belanda: Sang Pembunuh Raksasa yang Berulang-Ulang

Dengan enam pertemuan di Piala Dunia, Brasil vs Belanda adalah rivalitas dengan jumlah pertemuan terbanyak ketiga dalam sejarah turnamen.

Yang membuat rivalitas ini istimewa bukan frekuensinya, melainkan pola dramatis yang berulang: Belanda berulang kali menjadi batu sandungan bagi Brasil di saat-saat paling genting.

Dua pertemuan terakhir keduanya terjadi di babak gugur dan keduanya dimenangkan Belanda. Pada perempat final 2010, dua gol Wesley Sneijder membalik defisit setelah Robinho lebih dulu membuka skor, mengamankan kemenangan 2-1.

Empat tahun kemudian, ketika Brasil sudah terluka oleh kekalahan memalukan 7-1 dari Jerman di semifinal kandang sendiri, Belanda kembali hadir untuk mengamankan perebutan tempat ketiga di tanah Brasil.

Dua kemenangan beruntun itu memperkuat reputasi Belanda sebagai salah satu dari sedikit negara yang mampu mengakhiri mimpi Piala Dunia Brasil secara konsisten di panggung terbesar.

Derbi Iberia: Spanyol vs Portugal, Ketika Tetangga Bertemu di Pentas Dunia

Spanyol dan Portugal adalah tetangga yang jarang bertemu di Piala Dunia, tetapi setiap pertemuan mereka selalu menghadirkan kualitas yang di atas rata-rata.

Baca Juga: Bosan Menunggu Piala Dunia? Berikut Jadwal Pertandingan Timnas Indonesia Senior dan U-19 di Bulan Juni

Pertemuan pertama di Afrika Selatan 2010 diselesaikan secara efisien: satu gol David Villa di babak 16 besar mengamankan kemenangan Spanyol sebelum tim itu melanjutkan perjalanan menjadi juara dunia untuk pertama kalinya.

Namun pertemuan kedua di Rusia 2018 adalah yang benar-benar melampaui ekspektasi. Dalam laga babak grup yang banyak dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah turnamen, Cristiano Ronaldo mencetak hat-trick, termasuk tendangan bebas spektakuler di menit-menit akhir, untuk membawa Portugal meraih hasil imbang dramatis 3-3 setelah Spanyol berulang kali berjuang untuk kembali memimpin.

Kedua negara hadir di Amerika Utara 2026, dan dengan kekuatan skuad masing-masing, pertemuan ketiga adalah skenario yang sangat realistis.

Argentina vs Nigeria: Lima Kali Bertemu, Lima Kemenangan, Namun Tak Satu pun Mudah

Argentina dan Nigeria telah bertemu lima kali di Piala Dunia, lebih banyak daripada duel Argentina melawan negara Afrika mana pun, meskipun Nigeria baru melakukan debut di turnamen ini pada 1994.

Yang menarik: meski Argentina memenangkan semua lima pertemuan itu, hampir tak satu pun berjalan tanpa ketegangan, dan empat di antaranya memiliki implikasi langsung terhadap kualifikasi babak selanjutnya.

Pertemuan pertama di Piala Dunia AS 1994 juga menjadi momen paling pahit: itulah penampilan terakhir Maradona di Piala Dunia sebelum ia diskors karena gagal tes doping. Nigeria sempat memimpin lewat Samson Siasia sebelum dua gol Claudio Caniggia membalikkan keadaan menjadi 2-1.

Momen paling menghibur datang di Brasil 2014, duel 3-2 di Porto Alegre di mana Messi mencetak dua gol dan Ahmed Musa menjadi pemain Nigeria pertama yang mencetak brace dalam satu laga Piala Dunia.

Gol kemenangan Marcos Rojo akhirnya memastikan lolosnya Argentina. Empat tahun kemudian di Rusia 2018, Argentina masuk laga grup terakhir di ambang eliminasi, unggul lewat Messi, disamakan Victor Moses via penalti, sebelum Rojo kembali menjadi penyelamat di menit-menit akhir.

Namun Piala Dunia Amerika Utara tidak akan menyajikan babak keenam dari duel ini. Nigeria gagal lolos ke turnamen, menutup sementara salah satu rivalitas lintas benua paling menegangkan dalam sejarah Piala Dunia modern.

Inggris vs Jerman: Luka yang Belum Sepenuhnya Sembuh dalam 60 Tahun

Dalam hal muatan emosional dan beban sejarah, hampir tidak ada rivalitas Piala Dunia yang sebanding dengan Inggris vs Jerman. Jumlah pertemuan mereka mungkin tidak sebanyak Brasil-Swedia atau Argentina-Jerman, tetapi setiap laga seolah meninggalkan bekas permanen.

Baca Juga: Berikut Jadwal Pertandingan Fase Grup Piala Dunia 2026 di TVRI, Banyak Pertandingan di Jam Sarapan dan Makan Siang!

Titik pangkalnya adalah final 1966 di Wembley, ketika Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 setelah perpanjangan waktu untuk meraih satu-satunya gelar Piala Dunia dalam sejarah mereka. Gol kedua Geoff Hurst yang kontroversial, masih diperdebatkan hampir 60 tahun kemudian, menjadi salah satu momen paling terkenal dalam sejarah sepak bola. Inggris kemudian menderita kekalahan 3-2 di babak perpanjangan waktu di perempat final 1970, lalu bermain imbang tanpa gol di fase grup Spanyol 1982.

Sejak saat itu, dari sudut pandang Inggris, rivalitas ini hanya meninggalkan satu hal: kekecewaan. Dari kekalahan adu penalti di semifinal Italia 1990, hingga penghinaan di Afrika Selatan 2010 ketika gol Frank Lampard dianulir meski tayangan ulang televisi jelas memperlihatkan bola sudah melewati garis, sebelum teknologi garis gawang diperkenalkan.

Kedua negara sudah lolos ke 2026 dan dipisahkan di fase awal. Pertemuan di babak gugur tetap sangat mungkin terjadi, dan jika itu terjadi, sudah bisa dipastikan ia akan menjadi salah satu laga paling ditunggu di seluruh turnamen.

Piala Dunia 2026: Format Terbesar, Panggung Terlebar untuk Rivalitas Abadi

Secara historis, Brasil vs Swedia dan Argentina vs Jerman sama-sama memegang rekor dengan tujuh pertemuan masing-masing, tetapi rivalitas yang terakhir bisa dibilang memiliki signifikansi historis terbesar, berkat tiga final, kaitannya dengan legenda seperti Maradona dan Messi, serta perannya yang berulang kali mendefinisikan seluruh generasi penggemar sepak bola dunia.

Dengan format 48 tim yang menciptakan lebih banyak jalur menuju babak gugur, para penggemar kemungkinan besar akan kembali menyaksikan beberapa dari rivalitas paling terkenal ini bergolak di Amerika Utara musim panas ini.

Baca Juga: Patahkan Rumor Playoff Pengganti, Presiden FIFA Tegaskan Timnas Iran Tetap Bakal Ikut Piala Dunia

Sejarah punya kebiasaan untuk mengulang dirinya sendiri di Piala Dunia. Dan ketika itu terjadi, ia hampir selalu melahirkan momen-momen yang tak akan pernah terlupakan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#brasil vs swedia #argentina vs jerman #maradona #Rivalitas #piala dunia 2026