Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Gagal ke Piala Asia U23, Vanenburg Ogah Dibandingkan Era Shin Tae-yong yang Catat Sejarah

Hakam Alghivari • Rabu, 10 September 2025 | 21:42 WIB

 

Gerald Vanenburg usai laga melawan Korea Selatan, Selasa (9/9).
Gerald Vanenburg usai laga melawan Korea Selatan, Selasa (9/9).

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM  – Tim Nasional (Timnas) Indonesia U23 gagal melangkah ke putaranfinal Piala Asia U23 2026 setelah kalah tipis 0-1 dari Korea Selatan pada Selasa (9/9) malam di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Kekalahan tersebut sekaligus menutup peluang Garuda Muda mengikuti ajang prestisius level Asia itu.

Gol tunggal Korea Selatan tercipta di babak pertama pada menit-menit awal. Meski Indonesia tampil penuh semangat dan sedikit mendominasi ball possesion, upaya Hoky cs tak cukup untuk menahan dominasi lawan yang efektivitas dalam serangan.

Hasil ini memupus asa publik yang berharap Indonesia mampu mengulang catatan bersejarah dua tahun lalu. Kala itu, di bawah arahan Shin Tae-yong, tim U23 berhasil menembus babak semifinal Piala Asia U23 2024, pencapaian yang belum pernah diraih sebelumnya.

Usai pertandingan, pelatih Gerald Vanenburg memberikan penjelasan mengenai situasi tim yang dipimpinnya. Ia menyebut perbandingan dengan era Shin Tae-yong tidak sepenuhnya adil.

“Kalau misalnya pelatih sebelumnya melatih tim ini dan mendapatkan jangka waktu yang sama, saya ingin melihat bagaimana dia meramu tim ini, dan apakah hasilnya akan lebih baik dari hari ini,” kata Vanenburg.

Legenda Belanda tersebut menegaskan, perbedaan utama terletak pada durasi persiapan. “Kalau tim ini hanya punya waktu berlatih 5 hari, mereka (era STY) bisa lebih panjang sampai 2-3 bulan. Jadi dari sisi itu agak sulit untuk dibandingkan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti komposisi pemain. Menurutnya, generasi yang ditangani pelatih asal Korea Selatan itu memiliki kualitas individu yang lebih baik dari pemain yang digaet Vanenburg.

“Kalau dibandingkan mungkin dari sisi pemain juga lebih baik generasi yang sebelumnya. Ada Marselino, Ridho, Ivar Jenner, Rafael Struick, hingga Hubner,” tambahnya.

Pernyataan ini menjadi refleksi Vanenburg atas tantangan yang dihadapi dalam membangun tim dengan persiapan singkat. Ia menekankan bahwa hasil yang diraih bukanlah semata-mata soal strategi, melainkan juga tentang kesiapan skuad secara keseluruhan.

Kegagalan kali ini menurutnya menunjukkan kesenjangan antara ekspektasi publik dan realita di lapangan. Indonesia datang dengan harapan besar, tetapi kondisi tim tidak memungkinkan untuk mencapai target lolos.

Sementara itu, pencapaian semifinal pada 2024 tetap menjadi tolok ukur penting dalam sejarah Timnas U23. Keberhasilan era sebelumnya menegaskan bahwa dengan waktu dan pemain yang tepat, Garuda Muda mampu bersaing di level Asia.

Namun, situasi kali ini berbeda. Regenerasi yang belum merata membuat Vanenburg harus meramu tim dalam kondisi terbatas. Federasi pun kini dituntut mengevaluasi program pembinaan jangka panjang. Mengingat Piala Asia U23 juga menjadi jalur menuju Olimpiade, penting bagi Indonesia menyiapkan generasi berikutnya secara lebih matang.

Dengan kekalahan ini, Timnas U23 harus menunda ambisi tampil di ajang Asia. Perjalanan panjang masih menanti, dan pekerjaan rumah untuk memperkuat fondasi tim muda menjadi semakin mendesak. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Piala Asia #indonesia #timnas #Gerald Vanenburg #sejarah #Shin Tae-yong (STY)