RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perayaan kemenangan trofi Community Shield oleh Crystal Palace diwarnai suasana gembira sekaligus muram. Benar memang mereka berhasil menang atas Liverpool, namun di saat bersamaan, mereka gagal memenangkan banding mereka terhadap UEFA, sehingga memupus harapan berlaga di UEFA Europa League (UEL).
Banding tersebut merupakan imbas dari kasus masalah finansial Olympique Lyon, berhubung mereka dulu memiliki pemilik utama yang sama, yakni Eagle Football Group yang dikepalai oleh John Textor. Palace sendiri berhak berlaga di UEL setelah memenangkan Piala FA musim lalu, sementara Lyon juga berhak berlaga di UEL setelah finish di urutan ke-6 Ligue 1 musim lalu.
Awalnya Olympique Lyon dihukum degradasi ke Ligue 2 akibat hutang yang masih menumpuk di akhir musim 2024/2025. Sebagai salah satu solusi pelunasan hutang, selain mengajukan banding, Textor menjual kepemilikan Crystal Palace kepada sesama pebisnis olahraga Amerika Serikat, Woody Johnson sebelum mundur dari kursi presiden Lyon.
Pada akhirnya di bawah kepemimpinan Michele Kang sebagai presiden baru Lyon, klub Perancis tersebut memenangkan banding, dan diperbolehkan berlaga di Ligue 1 dan UEL. Masalahnya, UEFA dan CAS (komite arbitrase olahraga) masih menganggap Lyon dan Palace masih dimiliki oleh pihak yang sama, sehingga berbenturan dengan aturan kepemilikan klub.
Menurut laporan BBC, Textor dan Woody telat menyepakati penjualan klub untuk memenuhi persyaratan pergantian kepemilikan klub. Deadline pergantian kepemilikan klub jatuh pada Mei, sementara penjualan klub dari Textor ke Johnson terjadi pada Juni.
Sehingga dalam putusan banding pada Selasa (12/8), UEFA dan CAS menyatakan Palace tidak diperkenankan mengikuti UEL, namun diperkenankan mengikuti UEFA Conference League (UECL) sebagai gantinya. Meskipun masih dapat bertarugn di tingkat Eropa untuk pertama kali dalam sejarah klub, Palaca menyatakan tidak terima dengan keputusan tersebut.
“Keputusan tersebut menunjukkan bahwa prestasi olahraga tidak ada artinya. Ketika kami memenangkan Piala FA Mei lalu kami juga memenangkan hak berlaga di UEL, dan sekarang hak itu dirampas. Nampaknya ada beberapa klub dan individu yang diistimewakan di hadapan hukum,” klaim pihak manajemen Crystal Palace dalam pernyataan resmi di hari yang sama.
Secara spesifik, Palace menuduh UEFA dan CAS tidak terbuka dalam proses hukum yang berlangsung. “Penolakan permintaan catatan komunikasi, penolakan kehadiran saksi, dan kurangnya kepatuhan terhadap hukum menyebabkan banding tidak dapat diproses dengan benar dan menghasilkan keputusan sepihak,” lanjut pihak manajemen.
Meskipun demikian, Palace masih menerima keputusan untuk bermain di UECL. Palace juga akan berkonsultasi secara hukum mengenai gagalnya banding yang mereka ajukan.
Kasus ini menjadi salah satu kasus kepemilikan klub ganda terbaru yang jadi sorotan publik sepak bola dunia. Sebelumnya kasus serupa antara Manchester City dan Girona (dimiliki City Group), serta Manchester United dengan OGC Nice (dimiliki Ineos) dapat diselesaikan baik-baik karena memiliki struktur manajemen dan laporan keuangan terpisah. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana