RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Lionel Messi dikenal sebagai maestro sepak bola modern—pencetak gol ulung, kreator serangan, sekaligus simbol kesetiaan dan kerja keras. Dengan catatan 748 gol di level klub dan 112 gol untuk timnas Argentina, Messi telah menorehkan namanya sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Namun, dari ratusan gol ikonik yang ia ciptakan, ada satu yang justru paling berkesan baginya: sundulan di final Liga Champions 2009.
“Banyak gol saya yang lebih indah & penting, tapi sundulan di final UCL lawan Man United tetap jadi favoritku.”
Pernyataan Messi ini sempat mengundang tanya. Mengapa bukan gol solo run melawan Getafe? Atau tendangan bebas ke gawang Liverpool? Jawabannya terletak pada makna emosional dan konteks sejarah gol itu sendiri.
Satu Sundulan, Banyak Cerita
Final Liga Champions 2009 menjadi panggung besar bagi Barcelona dan Manchester United. Laga itu bukan sekadar penentu juara Eropa, tetapi juga simbol duel dua generasi emas: tim Pep Guardiola dengan gaya “tiki-taka”-nya melawan skuad tangguh Sir Alex Ferguson yang masih diperkuat Cristiano Ronaldo.
Pada menit ke-70, dalam sebuah momen yang jarang terjadi, Messi melompat menyambut umpan silang Xavi Hernández dan menyundul bola ke tiang jauh. Edwin van der Sar yang menjaga gawang MU tak mampu menjangkau bola itu. Skor menjadi 2-0, dan Barcelona mengunci gelar juara Liga Champions.
“Saya mencetak banyak gol yang mungkin lebih indah dan berharga, karena memang krusial. Tapi gol sundulan di final Liga Champions menghadapi Manchester United selalu jadi favorit saya,” ujar Messi mengenang dikutip dari ESPN.
Gol yang Tak Biasa Bagi Messi
Secara teknis, Messi bukan pemain yang dikenal piawai dalam duel udara. Dengan tinggi 1,70 meter, ia hanya mencetak sekitar 26 gol sundulan sepanjang kariernya. Maka, sundulan di momen sepenting final Eropa menjadi momen langka sekaligus ikonik.
Itulah juga mengapa gol tersebut bukan hanya penting dari segi hasil, tetapi juga dari segi personal bagi Messi. Ia membuktikan bahwa bahkan dalam aspek yang bukan kekuatannya, ia bisa menciptakan momen besar.
Trofi Liga Champions 2009 menjadi yang pertama dari tiga yang diraih Messi bersama Barcelona. Kemenangan itu juga menandai dimulainya era keemasan Blaugrana di bawah asuhan Pep Guardiola. Messi, bersama rekan-rekannya seperti Xavi, Iniesta, dan Puyol, menciptakan tim yang bukan hanya mendominasi, tetapi juga menginspirasi dunia sepak bola.
Dan di tengah segalanya, ada satu sundulan kecil—yang pelan tapi pasti, menjadi favorit pribadi sang maestro. (kam)
Editor : Hakam Alghivari