RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sudah satu dekade Persijap Jepara berpisah dengan gerbang Liga 1 dalam berbagai iterasi. Terakhir kali bermain di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, tim asal daerah khas kerajinan kayu tersebut terpeleset di fase grup Liga Super Indonesia musim 2014, tepat di antara ujung dualisme Liga Indonesia dan di awal intervensi sepak bola Indonesia oleh Kemenpora, yang berujung tersendatnya sepak bola Indonesia tahun 2015.
Memulai langkah kembali tahun 2016 di divisi kedua, Persijap bertahan dua tahun sebelum jatuh lagi ke Liga 3. Sedianya Persijap resmi kembali ke Liga 2 tahun 2020, namun pandemi membuat kompetisi sepak bola dalam negeri di luar Liga 1 kembali terhenti.
Setelah jatuh bangun akibat berbagai faktor internal dan eksternal, akhirnya Laskar Kalinyamat (julukan Persijap) punya kesempatan kembali ke kasta tertinggi dengan cara yang cukup dramatis: Lolos dari kepungan Persela Lamongan dan lari dari kepungan suporter tim kebanggan Kota Soto tersebut. Praktis, Persijap hanya perlu berhadapan dengan PSPS Pekanbaru untuk berebut tiket promosi di kandang mereka sendiri, Gelora Bumi Kartini.
Berbeda dengan Liga 2 musim 2023/2024 dimana partai final dan perebutan tempat ketiga digelar dengan sistem home-away, kali ini format kedua partai kembali menjadi satu pertandingan seperti sedia kala. Persijap memiliki hak tuan rumah karena unggul produktivitas dari PSPS Pekanbaru.
Di bawah guyuran hujan dan antusiasme warga Jepara, kedua tim saling adu skill dan strategi, saling menusuk lini pertahanan satu sama lain. Namun, hingga jelang akhir pertandingan, seluruh kesempatan yang diraih kedua tim masih terbang di atas mistar atau ditahan kiper masing-masing.
Drama juga sempat terjadi jelang akhir waktu normal. Penggawa PSPS, Faris Adit sempat diusir dari lapangan setelah menerima kartu kuning pertama dan kartu merah setelah melakukan tekling keras. Beruntung, Faris dan hakim garis mengingatkan wasit bahwa Faris baru menerima satu kartu kuning, sehingga kartu merah dibatalkan dan PSPS tidak jadi bermain sepuluh pemain.
Namun, dua menit kemudian takdir kedua tim langsung tersegel. Lini belakang PSPS dapat memblok umpan silang dari penggawa Persijap, namun tidak ada yang melihat Leonardo Lelis datang dari belakang mereka, sehingga Leo dengan mudah mencetak gol semata wayang untuk menahbiskan diri menjadi pahlawan kota Jepara.
Hingga tambahan waktu berakhir, tidak ada gol ekstra bagi kedua tim, meskipun Persijap hampir dapat menggandakan keunggulan. Kemenangan 1-0 resmi milik Persijap, sekaligus membubuhkan stempel peresmian mereka kembali ke kasta teratas sepak bola Indonesia.
Dengan hasil ini, Persijap resmi menyusul PSIM Yogyakarta dan Bhayangkara FC kembali ke Liga 1 musim 2025/2026. PSIM juga mengakhiri penantian lebih dari satu dekade tidak berada di liga teratas, sementara Bhayangkara FC hanya perlu menginap setahun di Liga 2.
Sementara, untuk PSPS Pekanbaru, kekalahan ini menyebabkan mereka harus mengulang usaha lagi tahun depan. Total sudah 12 tahun Askar Bertuah (julukan PSPS) tidak merasakan berada di kasta teratas sejak 2013.
Liga 2 musim 2024/2025 menyisakan partai hidup-mati antara Persibo Bojonegoro melawan Persipura Jayapura, serta final liga antara PSIM Yogyakarta melawan Bhayangkara FC. Tinggal menunggu waktu untuk melihat siapa yang bertahan di Liga 2, siapa yang angkat koper ke Liga Nusantara, dan kemana trofi Liga 2 akan mendarat antara laci PSIM atau kantor Bhayangkara FC. (edo/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana