KECINTAAN terhadap seni mengalir kuat dalam diri Namira Mahadewi, seorang pemudi asal Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia tari, teater, dan seni rupa berkat latar belakang keluarga yang lekat dengan budaya dan tradisi.
Namira merupakan cucu dari seorang seniman senior. Kakeknya adalah pemain ketoprak sekaligus mantan Kepala Dinas Kebudayaan Rembang yang juga memiliki sanggar seni. Sementara itu, sang nenek dikenal sebagai penari tradisional. Kebiasaan menyaksikan pementasan mereka sejak kecil menumbuhkan kecintaan Namira terhadap dunia seni.
’’Saya sangat menyukai seni karena menurut saya, seni adalah cara mengungkapkan perasaan dengan indah, tak harus melalui sebuah perkataan. Bisa melalui sebuah gerakan, atau karya pada goresan canvas atau kertas,” ujarnya.
Kini, Namira aktif mendalami seni tari dan teater, sembari menekuni seni rupa sebagai bagian dari ekspresi dirinya. Ia berharap, bakat dan ketertarikannya ini bisa berkembang lebih jauh, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian kesenian tradisional Indonesia.
Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan modernisasi, sangat penting dalam menjaga kelestarian budaya peran generasi muda. ’’Harapan saya, para pemuda dan pemudi penerus bangsa tidak melupakan kesenian dan tradisi daerahnya, agar terus lestari dan tidak termakan oleh zaman,” kata Namira. (dan/bgs)