RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jauh sebelum berdiri di depan kelas mengajar Bahasa Inggris, Leni Inayatus Saadah pernah menjadi penyiar radio dan news anchor di salah satu televisi lokal. Tak hanya tampil di depan kamera, ia juga menguasai berbagai pekerjaan di balik layar, mulai proses penyuntingan video, mengoperasikan master control room (MCR), hingga memproduksi bumper televisi.
"Saya pernah menjadi penyiar radio dan news anchor di salah satu televisi lokal, sekaligus menangani editing, MCR, hingga produksi bumper TV. Semua keterampilan itu saya pelajari secara otodidak," tutur pendidik di Madrasah Aliyah (MA) Sunan Drajat Geger, Kecamatan Kedungadem.
Kecintaannya pada dunia kreatif tak berhenti di situ. Bersama tim, Leni juga sempat memproduksi sejumlah lagu. Baginya, karya seni menjadi salah satu media untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.
Baca Juga: Aulia Nadia Zahro, Tekuni Dunia Pendidikan
Namun, di tengah perjalanan kariernya, Leni memilih arah yang berbeda. Ia memutuskan meninggalkan dunia penyiaran dan menjadi guru honorer. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Latar belakangnya yang tumbuh di lingkungan pondok pesantren modern membuatnya ingin memberikan manfaat secara langsung melalui dunia pendidikan.
"Saya ingin mengabdi secara langsung kepada masyarakat. Pilihan ini tidak lepas dari latar belakang saya yang tumbuh di lingkungan pondok pesantren modern," ujar guru yang juga menjabat Wakil Kepala MA Sunan Drajat bidang Kesiswaan tersebut.
Pengalaman hidup di pesantren menjadi bekal berharga. Saat masih menjadi santri, Leni dipercaya sebagai pengurus santri luar negeri. Amanah tersebut membuatnya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai negara dan latar belakang budaya.
"Dari situ saya belajar banyak tentang kepemimpinan, komunikasi, dan pentingnya keterbukaan terhadap keberagaman," katanya. (yna/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah