MEDIA sosial bagi Enggy Buana Tungga Dewi bukan sekadar ruang hiburan, tapi juga peluang. Di usia 19 tahun, memulai aktivitas membuat konten sebagai jalan berkembang sekaligus menghasilkan.
Mahasiswi Ekonomi Pembangunan itu mulai menekuni konten sejak kelas 3 SMA. Berawal dari keinginan merekomendasikan barang unik dan tempat menarik, kebiasaannya itu perlahan berkembang menjadi lebih serius.
“Melihat konten yang ditonton hampir 17 juta views memberikan semangat untuk terus membuat konten,” ujarnya.
Interaksi dengan audiens juga menjadi bagian yang ia nikmati. Komentar lucu hingga nyeleneh justru menjadi penyemangat untuk terus konsisten.
Dari proses tersebut, dara yang sedang berkuliah di Universitas Bojonegoro itu juga menantang diri dengan mengikuti berbagai campaign di TikTok yang berkolaborasi dengan sejumlah brand. Dari ajang itu, ia juga berhasil meraih peringkat tiga berturut-turut dari sisi penjualan tertinggi.
Meski terlihat mudah, prosesnya tidak selalu lancar. Ia sempat mengalami kesulitan saat berbicara di depan kamera, meski telah menyiapkan skrip. “Saya kadang tidak lancar berbicara, malu, lidah terasa kelu,” tuturnya.
Namun, latihan berulang membuatnya semakin terbiasa. Ia juga memperkaya kosakata dengan membaca untuk meningkatkan kualitas penyampaian.
Di tengah kesibukan kuliah, Enggy tetap berusaha konsisten meski harus pandai membagi waktu. Kini, dengan sekitar 14 ribu pengikut di TikTok, ia berharap kontennya terus berkembang dan memberi manfaat.
Baginya, membuat konten bukan hanya tren, tetapi ruang berekspresi yang membuka peluang masa depan. (kam/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana