TENIS meja datang ke hidup Malika Izzatul Husna bukan dari mimpi masa kecil, melainkan dari kegelisahan seorang ayah di masa pandemi Covid-19. Saat sekolah berpindah ke layar gawai, siswa asal Desa Sidorejo, Kedungadem tersebut nyaris tak lepas dari gadget. Sang ayah lalu mengajaknya bergabung dengan Persatuan Tenis Meja (PTM) Kedungadem.
Awalnya, langkah itu terasa berat. Tubuhnya dingin, tangan gemetar, bahkan air mata sempat tumpah saat pertama kali menginjak lapangan. Namun waktu mengubah segalanya. Malika mulai jatuh hati pada tenis meja.
Dari latihan ke latihan, menemukan bahwa olahraga ini bukan sekadar adu pukul bola, tetapi ruang belajar mengasah mental, sportivitas, dan pengendalian emosi. Kalah mengajarkan rendah hati, menang menumbuhkan percaya diri.
“Mengejar hal ini karena bisa menjadi peluang prestasi untuk saya di masa depan,” kata siswa MTs Muhammadiyah 2 Kedungadem tersebut.
Beragam kompetisi telah Malika ikuti, dari Porkab, Popkab, Mannah Cup, hingga Porseni. Momen kemenangan menjadi bagian paling ia sukai. Ketika dirinya bisa membanggakan orang tua, sekolah, dan diri sendiri.
Meski pernah merasakan sepi saat Porseni MTs di Jombang. Sendirian di asrama, malam-malam tanpa tidur, Malika bertahan. Mengingat, ia perempuan sendiri, sedangkan teman-teman yang berangkat kompetisi bersamanya, semua laki-laki. Namun, hal tersebut tidak lantas membuatnya menyerah. Melainkan sebagai pecut untuk menyalakan keberanian yang lebih tinggi lagi.
Kini, gadis 15 tahun tersebut menatap masa depan dengan keyakinan. Berharap, prestasi tenis meja terus membawanya melangkah lebih jauh. Sekaligus menginspirasi anak-anak lain untuk berani mencoba dan berlatih.
“Melalui latihan yang disiplin dan semangat pantang menyerah, saya ingin meningkatkan kemampuan teknik, mental, dan sportivitas. Semoga tenis meja tidak hanya menjadi ajang meraih kemenangan, tetapi juga sarana untuk membanggakan diri sendiri, keluarga, dan sekolah,” pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana