MENJADI guru bukan cita-cita yang direncanakan sejak awal bagi Inna Afa. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di salah satu SMP di Kecamatan Balen tersebut justru mengawali kariernya dengan hal tak terduga.
Yakni, dari sebuah percakapan ringan yang membawanya menemukan jalan hidupnya. ’’Semua berawal dari sebuah percakapan sederhana ketika saya ditanya, "Ibu mau jadi apa?" Saya menjawab spontan, mau jadi guru,” kisahnya.
Jawaban spontan tersebut membawa Inna ke jalur yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ia juga mendapat saran untuk kuliah di bidang pendidikan. Meski penuh keraguan. Karena terjun ke dunia baru. Namun, ia tetap menjalani setiap proses itu.
Lambat laun, Inna menyadari, bahwa dunia pendidikan adalah tempat yang tepat untuknya. Mengabdi sebagai pendidik di sekolah, bimbingan belajar, hingga menjadi pembina ekstra PMR.
’’Meski saya tidak memulai dengan perencanaan matang. Kini, saya merasa sangat bersyukur telah memilih profesi ini,” lanjutnya. Melihat siswa tumbuh dan berkembang, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, atau pun karakter menjadi kebahagiaan tersendiri.
Baginya, menjadi guru adalah perjalanan yang penuh tantangan. Tapi, di balik itu, ada kepuasaan tersendiri yang dirasa. ’’Saya merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perkembangan mereka,” pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana