MEMILIKI ketertarikan di dunia tari tradisional, membuat Siska Dwi Sri Utfina terus mengasah kemampuan dan menularkannya pada kaum muda. Minat ini sudah ia tunjukkan sejak kecil bahkan saat duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Dari turut memeriahkan momen Agustusan sampai diundang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 2015. Perempuan kerap disapa Siska itu bercerita, memang memiliki minat dengan tari tradisional dan kebudayaan yang ada.
Sehingga, ia memutuskan terus mendalami dunia olah tubuh itu dengan bergabung di Sanggar Tari Sayap Jendela (SJ) saat duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK). ’’Waktu SMP (sekolah menengah pertama) aku ikut ekstrakurikuler tari,” ucapnya.
Dia melanjutkan, saat bergabung dengan sanggar tari merupakan waktu di mana lagi gencar-gencarnya mengenalkan kesenian sandur yang telah lama vakum. Alasannya, karena dianggap kesenian Partai Komunis Indonesia (PKI).
Padahal, lanjut dia, sandur merupakan seni teater rakyat asli Bojonegoro. Berasal dari daerah pinggir bengawan. Sandur gabungan dari teater, musik, dan tarian.
’’Akhirnya, saya diajak gabung jadi penari jaranan sandur sebagai pembuka. Setelah banyak pentas sana-sini untuk memperkenalkan sandur di berbagai desa akhirnya diundang TMII melalui disbudpar (dinas kebudayaan dan pariwisata) pada 2015,” lanjut perempuan asal Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk itu. (yna/bgs)
Editor : Hakam Alghivari