Oleh:
Yuan Edo
Wartawan Radar Bojonegoro
Sekitar Maret 2023 lalu, saya menuliskan unek-unek mengenai identitas Bojonegoro di mata orang luar Kota Ledre, serta bagaimana warga Bojonegoro mendeskripsikan kota tempat mereka menjalani hidup. Waktu itu saya menyebut harus ada cara untuk mengenalkan Bojonegoro ke masyarakat Jawa Timur, bahkan Indonesia di luar titel sebagai rumah dari Persibo Bojonegoro. Serta kota penghasil minyak bumi dan lumbung pangan, yang itupun belum tentu diketahui masyarakat secara luas. Atau sederhananya, harus ada jawaban dari pertanyaan ‘’Bojonegoro itu kira-kira terkenal apanya sih?” yang dapat dikenal tidak hanya dari warga Bojonegoro sendiri, namun luar Bojonegoro juga.
Pertengahan 2025 lalu, kawan-kawan dari salah satu kelompok hobi saya, sesama pemain video game simulasi balap mobil, sempat mampir ke Bojonegoro untuk berakhir pekan. Sebenarnya mereka ingin pergi dari Jakarta dan Surabaya ke Lamongan untuk mampir ke rumah saya sambil menyantap Soto Lamongan. Namun karena saya masih berada di kantor dan ada warung Soto Lamongan yang dekat, saya tawarkan sekalian untuk bablas sampai Kota Ledre.
Setelah puas menyantap Soto Lamongan, saya ajak mereka berkeliling pusat kota, mulai dari Go Fun dan Stadion Letjend H. Soedirman, hingga Maliogoro dan Taman Rajekwesi. Ternyata konsensus mereka tentang pusat Kota Ledre relatif sama: Mereka tidak menyangka bahwa tidak hanya kota Bojonegoro lebih luas dari bayangan mereka, ada banyak franchise kota-kota besar yang sudah mulai buka di sini.
Baca Juga: Kolom Redaksi: Ketika Doktrin Lingkungan Kalah oleh Tanda Tangan Kekuasaan
Sayangnya mereka tidak dapat berlama-lama di Bojonegoro karena harus kembali ke Surabaya sebelum matahari terbenam, bahkan kami tidak sempat berhenti mampir ke berbagai tempat di dalam kota. Menilik kembali dari pertemuan tersebut, saya juga teringat kembali dengan jargon ”Pinarak Bojonegoro” sebagai pakem pariwisata Kota Ledre hingga saat ini.
Pemkab Bojonegoro sudah banyak melakukan berbagai upaya untuk menarik minat pengunjung luar kota, mulai dari berbagai pesta rakyat, fun run dan event konser untuk menarik minat turis domestik, bahkan hingga tingkat internasional melalui acara Bojonegoro Thengul International Folklore Festival (B-TIFF) sebagai ajang pertukaran budaya berbagai negara.
Di satu sisi, mayoritas acara dan usaha tersebut sukses mencapai tujuan mereka mengenalkan Bojonegoro kepada khalayak luas dan memancing minat untuk datang berkunjung ke Kota Ledre. Di sisi lain, perlu ada cara agar kunjungan-kunjungan wisata tersebut tidak hanya bersifat one-and-done, atau hanya sekedar mampir sekali saja. Saya yakin Bojonegoro memiliki potensi sebagai calon destinasi wisata yang dapat mem-pinarakkan masyarakat pengunjung secara rutin dan punya potensi kunjungan kembali.
Kemudian, daya tarik yang terkandung dalam pusat kota Bojonegoro sebagaimana dirasakan oleh kawan-kawan saya juga perlu diperluas untuk mencakup kecamatan-kecamatan lain, terlebih dengan wacana pengembangan kecamatan sebagai kawasan kota serta proyek desa wisata oleh berbagai pemerintah desa saat ini. Jadi kunjungan wisatawan ke Bojonegoro tidak hanya terpusat di tengah kota saja, namun juga bisa ke berbagai penjuru kabupaten sampai ke ujung perbatasan.
Atau sederhananya, beri saya dan kawan-kawan saya alasan konkrit untuk mau bela-belani jauh-jauh ke Padangan Heritage, Teksas Wonocolo, Jembatan KaRe, Tebing Gupit, Masjid An-Nadhla plus Kampung Samin Margomulyo, atau Negeri di Atas Angin lebih dari sekali, alih-alih hanya berkutat keliling ke pusat kota, mampir sebentar ke Go Fun, atau paling mentok mampir ke Growgoland dan Kahyangan Api.
Selain dalam bidang pariwisata, semangat ”Pinarak Bojonegoro” juga dapat diterapkan untuk menarik para investor dan pengusaha untuk mendirikan berbagai jenis industri di Kota Ledre, utamanya di luar migas.
Yang jelas, kembali ke argumen saya dulu dan kini, saya ingin lebih banyak masyarakat Indonesia kenal dengan Bojonegoro melalui berbagai potensi yang ada dan dapat digali, serta mau pinarak di Bojonegoro sesekali. Bojonegoro layak sebagai destinasi utama ekonomi industri dan pariwisata, bukan hanya tempat transit dan kunjungan formal pejabat pemerintah nasional semata. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana