BLORA, Radar Bojonegoro – Politik uang sudah menjadi rahasia umum saat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu). Sayangnya, cara kotor seperti itu selalu luput dari pengawasan penyelenggara pemilu. Khususnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Blora.
Ketua Bawaslu Blora Andyka Fuad Ibrahim mengaku, telah melakukan pengawasan pelaksanaan pemilu sesuai dengan kewenangan. Hanya, tak terima laporan. ’’Kami juga sudah melakukan prosedur. Baik di tahapan-tahapan kampanye, masa tenang, pemungutan, dan penghitungan suara. Dan, saat ini berjalan proses rekapitulasi di tingkat kecamatan,” terang Andyka.
Selama melakukan proses pengawasan tersebut, pihaknya mengaku tidak menemukan ataupun menerima laporan terkait adanya politik uang. ’’Sepanjang tahapan pengawasan kemarin belum ada laporan atau temuan berkaitan dengan politik uang,” jelasnya saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di kantornya.
Sementara itu, salah satu pedagang warung kopi yang berada di Blok T, akui mendapatkan serangan fajar atau amplop dari calon legislatif (caleg) melalui tim sukses (timses). Pihak timses yang memberikan saat itu menyasar warung makan dan warung kopi di tepi jalan.
Pemilik warung (AF) yang enggan disebut namanya itu sudah dua kali didatangi timses caleg provinsi dari lintas partai. ’’Awalnya, mereka mengajak mengobrol biasa sambil ngopi. Setelah itu, obrolannya mengarah ke identitas kependudukan dan tanya asli Blora atau bukan. Ya, tak jawab asli Blora,” jelasnya.
Kemudian pemilik warung itu mendapat amplop berisi uang Rp 20.000 disertai gambar caleg. Waktu membayar makan, timses juga memberikan uang lebih dan tidak mengambil kembalian.
’’Misal makannya habis Rp 25.000, dia bayarnya Rp 50.000. Tidak mau dikembalikan dengan titipan 'jangan lupa nyoblos gambar yang di amplop ya, Bu'. Terus ada lagi beda caleg tapi modusnya juga sama,’’ ujarnya. (hul/bgs)
Editor : Hakam Alghivari