RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Secara administratif, Desa Nglebak masuk wilayah Kecamatan Kradenan, Blora. Namun, urusan nadi ekonomi dan mobilitas, warga setempat lebih condong ke Kabupaten Ngawi.
Faktor jarak dan kondisi infrastruktur jalan yang kontras menjadi pemicu utama masyarakat lebih sering mengaspal ke kota tetangga. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Nglebak Suwardi mengatakan, jarak menuju jantung Kota Ngawi hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit.
Berbanding terbalik jika harus menuju pusat Kota Blora, yang memakan waktu hingga dua jam lebih dengan jarak tempuh sekitar 55 kilometer. ‘’Ke Ngawi itu hanya 7 kilometer, namun kondisinya memang masih rusak dan berbatuan. Bahkan yang dekat hutan itu lebih parah dan berlumpur,’’ terang Suwardi.
Menurutnya, akses jalan sepanjang 5 kilometer yang berbatasan dengan Desa Mageri, merupakan satu-satunya jalur urat nadi ekonomi warga. Buruknya akses menuju Blora membuat warga tak punya pilihan selain menggantungkan aktivitas ke Ngawi.
Baca Juga: Pemkab Blora Wacana Dirikan Kawasan Agro Industri, Siapkan Lahan 24.000 Hektare
Sehingga, mayoritas kendaraan milik warga pun didominasi pelat nomor AE (Ngawi) dan AD (Sragen), bukan plat K (Blora). ‘’Warga sangat mengeluhkan karena itu satu-satunya akses jalan yang bisa dilalui. Kalau ke Blora tidak mungkin karena kejauhan,’’ tambahnya.
Kondisi ini mendapat atensi dari Bupati Blora Arief Rohman. Pihaknya mengaku tengah mengupayakan perbaikan infrastruktur di wilayah ujung selatan Blora tersebut.
Pembangunan jalan diproyeksikan masuk pada anggaran perubahan 2026 atau paling lambat pada 2027 mendatang. ‘’Saya akan mengupayakan bisa dapat dana IJD (inpres jalan daerah, red),’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Arief menyampaikan, nantinya dua desa di Menden, yakni Nglebag dan Megeri akan dijadikan pusat persekonomian. Saat ini ada Proyek Strategis Nasional (PSN) di desa tersebut, sehingga nantinya praktis jalan dipastikan juga akan dibangun. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana