RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemkab Blora memberikan apresiasi terhadap beras organik mentik susu yang dikembangkan oleh petani muda. Bupati Blora Arief Rohman mendorong pengembangan pertanian organik untuk memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Beras organik varietas mentik susu dari petani milenial yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik Selaras Alam Sejahtera Desa Sumber, Kecamatan Kradenan. Saya apresiasi setinggi tingginya," ucap Bupati Arief.
Saat ini beras organik mentik susu dipasarkan dengan harga Rp 20 ribu per kilogram dalam kemasan dua kilogram. Penjualan juga dilakukan secara daring melalui media sosial. Arief berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni pertanian organik.
Menurutnya, produk pangan yang diproduksi secara organik memiliki sejumlah keunggulan, diantaranya umur simpan yang lebih lama dibandingkan tanaman yang diproduksi secara konvensional. Selain itu, praktik pertanian organik juga dinilai mampu menjaga kesehatan dan kesuburan tanah.
“Bertani secara organik juga mampu menekan biaya produksi, sehingga dapat memberikan keuntungan lebih bagi petani dalam jangka panjang,” jelasnya.
Salah satu petani organik Desa Sumber Rakam mengatakan, dukungan pemerintah menjadi motivasi bagi petani, khususnya generasi muda untuk terus mengembangkan pertanian organik.
Menurutnya, pada awalnya biaya bertani organik memang terlihat lebih mahal karena membutuhkan tenaga kerja lebih banyak. Namun jika dilihat dari bahan baku, pertanian organik justru lebih hemat karena memanfaatkan bahan alami di sekitar lahan.
“Kedepan biaya bertani organik akan semakin murah karena bahan organik di tanah sudah terakumulasi,” ujarnya.
Dalam praktiknya, petani memanfaatkan jerami sisa panen yang dikembalikan ke sawah sebagai sumber bahan organik alami. Selain itu, pemupukan dilakukan dengan kompos saat pengolahan lahan menggunakan traktor.
Petani juga melakukan penyiangan gulma atau osrok hingga empat kali dalam satu musim tanam untuk menjaga pertumbuhan padi.
Rakam menambahkan, kelompok petani berharap ke depan memiliki fasilitas pascapanen sendiri. Selama ini mereka masih menggunakan selepan umum yang juga dipakai untuk padi konvensional.
“Harapannya kami punya pengering dan penggiling sendiri agar beras organik tidak tercampur dengan beras biasa,” ungkapnya. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana