RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Gedung eks-Kawedanan Randublatung yang berdiri lebih dari satu abad akhirnya ambruk di penghujung tahun lalu. Bangunan kayu jati khas Randublatung itu diratakan untuk pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Padahal, pada Juli 2022 lalu, Bupati Blora Arief Rohman sempat berjanji menghidupkan kembali gedung tersebut sebagai pusat seni-budaya dan UMKM Randublatung. Saat itu, ia menyampaikan komitmen agar bangunan bersejarah tersebut dimanfaatkan untuk ruang kreatif dan pemberdayaan ekonomi warga. Kini, janji itu tinggal arsip.
Arsip Bataviaasch Nieuwsblad edisi 26 September 1904 mencatat pemugaran gedung utama, penambahan bangunan samping, dapur, dan kandang kuda menelan biaya 7.700 gulden angka besar pada zamannya. Gedung tersebut dibangun dari kayu jati Randublatung yang dikenal berkualitas tinggi karena kondisi tanah kapur Pegunungan Kendeng.
Sejarawan Asal Blora Ardhiatama Purnama Aji menegaskan, bangunan itu memiliki nilai historis dan sosial yang kuat. “Kayu-kayu itu ditebang lewat sistem blandongdiensten, kerja wajib warga pada masa kolonial. Jadi gedung ini berdiri di atas keringat leluhur Randublatung,” ujarnya.
Menurut dia, kompleks kawedanan sejak lama menjadi ruang publik. Arsip De Locomotief tahun 1935 mencatat pertunjukan wayang orang di pelataran gedung dengan hasil donasi untuk warga miskin Bumiputera. Bahkan, kegiatan kerajinan boneka kayu dan keterlibatan dalang perempuan juga pernah tercatat di Randublatung pada era itu.
“Secara historis, gedung ini (gedung eks-Kawedanan Randublatung, red) memang pusat kegiatan seni dan sosial. Karena itu, rencana menjadikannya pusat seni-budaya sebenarnya sangat relevan dengan jejak masa lalunya,” kata Ardhiatama.
Ia menyebut pembongkaran tanpa upaya adaptasi atau pelestarian sebagai kehilangan besar bagi memori kolektif warga.
“Program makan bergizi itu penting. Tapi ketika bangunan bersejarah diratakan tanpa alternatif, yang hilang bukan hanya fisik bangunan, melainkan lapisan sejarah yang membentuk identitas lokal,” tegasnya. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana