RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro bantah penurunan harga jual domba dipengaruhi program domba kesejahteraan (PDKt).
Sebaliknya, disebabkan daya beli masyarakat yang menurun. Walau sebelumnya peternak di Bojonegoro mengkhawatirkan PDKt yang menambah populasi domba bisa menyebabkan penurunan harga di pasaran.
Kabid Peternak Disnakkan Bojonegoro Fajar Dwi Nurrizki mengatakan, dari analisa dan perhitungan tim teknis, faktor yang mempengaruhi turunnya harga domba yaitu daya beli masyarakat yang menurun.
Terbukti dengan konsumsi per kapita daging kambing dan domba di Bojonegoro masih rendah yaitu sekitar 400 gram per orang per tahun.
Sehingga cukup terpenuhi dari 65.000 ekor per tahun.
Sementara, populasi kambing dan domba di Bojonegoro sekitar 370.000 ekor. Sehingga menunjukkan populasi lebih banyak dibandingkan kebutuhan konsumsi pertahun.
''Untuk penurunan harga domba saat ini terjadi di banyak daerah," katanya.
Fajar menjelaskan, untuk program domba kesejahteraan yang direncanakan untuk 3.325 KPM bertujuan memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga prasejahtera. Juga sebagai aset produktif.
Sedangkan untuk domba yang akan diberikan adalah domba lokal dengan spesifikasi tinggi minimal 60 sentimeter (cm) untuk betina dan 62 cm untuk jantan.
Sehingga dapat memperbaiki keturunan kambing dan domba di Bojonegoro. ''Ke depan peningkatan populasi kambing dan domba yang ada di Bojonegoro juga bisa terjual di luar daerah dengan harga yang lebih baik,"
Dia menegaskan, sebagai perbandingan domba lokal Bojonegoro tinggi maksimal 55 cm. Sehingga cenderung bobotnya ringan. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana