RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekosongan kursi DPRD Bojonegoro akan berlangsung cukup lama. Sebab, belum ada tanda-tanda pengisian.
Meninggalnya anggota legislatif perempuan berpotensi mengurangi jumlah keterwakilan perempuan di kursi dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).
Dikhawatirkan berdampak pada kebijakan berperspektif perempuan. Meski sejauh ini dianggap belum ada hasil signifikan.
Koordinator Divisi (Koordiv) Teknis Penyelenggaraan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Bojonegoro Ariel Sharon mengatakan, pihaknya telah mengetahui terkait kekosongan kursi di dewan legislatif. Namun, belum ada usulan atau pembahasan terkait pergantian antarwaktu (PAW) dari sekretariat dewan.
‘’Jadi, ya kami menunggu usulan dan berkas-berkas pendukung nanti kami persiapkan,’’ ujar Ariel sapaan akrabnya kemarin (22/4).
Dia melanjutkan, jika sebelumnya suara terbanyak setelah Eny Soedarwati adalah Nafik Sahal kini suara terbanyak setelah Dyah Ayu Ratna Dewi yakni Agus Dita Pratama. Memperoleh 5.965 suara dari daerah pemilihan (dapil) empat. ‘’Agus Dita namanya,’’ imbuh dia.
Saat disinggung terkait keterwakilan perempuan dengan meninggalnya dua anggota dewan itu, pria domisili Kecamatan Kota itu mengatakan, ada potensi berkurangnya jumlah keterwakilan.
Dia menyampaikan, cukup menyayangkan hal tersebut. Terlebih, dalam kursi legislatif tidak ada aturan paten di mana 30 persen harus diisi perempuan.
Menurutnya, hanya mendorong kesempatan untuk berkontestasi. Urusan keterpilihan tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan.
Sesuai Pasal 8 Peraturan KPU Nomor 10 Tahun 2023. Menyatakan bakal calon memuat keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen di setiap dapil. ‘’Diatur di PKPU Nomor 10 Tahun 2023. Di peraturan ini pencalonan di beberapa pasal menyebutkan itu,’’ tambah alumnus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu.
Sebelumnya, pada kontestasi politik 2024 keterwakilan perempuan di kursi legislatif mengalami kenaikan. Pada 2019 hanya lima politisi menjadi sembilan politisi perempuan. Namun, kini berkurang dan menjadi tujuh politisi perempuan. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana