Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Membongkar Mitos Kerangka Adam-Hawa dan Alasan Mengapa Umat Islam Takut Filsafat: Kajian Mendalam Bersama Prof. Al-Makin

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 22 April 2026 | 18:58 WIB
FILSAFAT: Profesor Al-Makin menyayangkan filsafat banyak ditakuti masyarakat.
FILSAFAT: Profesor Al-Makin menyayangkan filsafat banyak ditakuti masyarakat.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Filsafat kerap dianggap sebagai "ilmu angker" yang bisa menyesatkan iman. Di banyak lingkaran masyarakat Muslim, mempelajari filsafat bahkan diberi label negatif, seolah-olah mempertanyakan sesuatu secara mendalam berarti menantang otoritas agama. Namun, benarkah demikian? Apakah ketakutan ini berdasar?

Dalam sebuah obrolan bernas di kanal YouTube Mojokdotco (Putcast) yang dipandu oleh Kepala Suku Mojok, Putut EA, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Phil. Al-Makin, membuka tabir mengapa filsafat justru sangat fundamental. Perbincangan ini tak hanya menelusuri akar ketakutan umat Islam terhadap filsafat, tetapi juga menyentuh topik-topik krusial yang jarang dibahas secara terbuka, seperti ketiadaan bukti biologis kerangka Adam dan Hawa, hingga sejarah pemikiran Islam di Nusantara.

Seni Mempertanyakan: Mengapa Filsafat Dihindari Umat?

Menurut Prof. Al-Makin, filsafat sejatinya adalah "seni bertanya dan mempertanyakan". Di era keemasan Islam (seperti masa kekhalifahan di Damaskus dan Baghdad), para penguasa bertindak sebagai donatur utama (funding) ilmu pengetahuan.

Melalui institusi Baitul Hikmah, karya-karya Yunani Kuno diterjemahkan dari bahasa Syriak (Suryani) ke bahasa Arab, dipelajari, dan dikembangkan. Masa ini melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Kindi, hingga Al-Khawarizmi yang namanya kini abadi sebagai asal-usul kata "algoritma".

Baca Juga: Bojonegoro, Lumbung Tokoh Nasional dari Jawa Timur

Namun, tradisi intelektual itu meredup pasca runtuhnya Baghdad dan diiringi oleh meluasnya pengaruh karya Imam Al-Ghazali (terutama Tahafut al-Falasifah atau Kerancuan Para Filsuf). Kritik tajam Al-Ghazali terhadap filsafat keliru dipahami oleh generasi-generasi berikutnya sebagai fatwa final bahwa filsafat itu haram dan telah "mati". Padahal, dialektika pemikiran tersebut sempat dijawab tuntas oleh Ibnu Rusyd di Andalusia lewat buku Tahafut al-Tahafut.

Sayangnya, umat telanjur nyaman dengan teologi dan ilmu kalam yang memberi batasan kaku. Masyarakat lebih suka jawaban praktis hitam-putih mengenai "halal-haram" atau "sah-batal" sebuah ibadah, ketimbang harus memeras otak dengan pertanyaan filsafat yang terbuka dan tanpa ujung.

Prof. Al-Makin menegaskan bahwa ruang bertanya ini semakin menyempit di dunia Islam karena dikungkung oleh doktrin agama, ideologi, dan kekuasaan politik otoritarian. Padahal, para bapak bangsa kita, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, hingga Tan Malaka, membangun fondasi Republik ini dari bacaan-bacaan filsafat berat karya Montesquieu, John Locke, Hegel, hingga Karl Marx.

"Indonesia ini didirikan atas bacaan, bukan atas kekuatan militer atau politik semata," ujar Prof. Al-Makin. Beliau bahkan menyarankan agar dasar-dasar filsafat dan logika sudah mulai diajarkan sejak bangku SMP, agar generasi muda terbiasa berpikir kritis.

Mitos Kerangka Adam dan Hawa dalam Lensa Sejarah dan Arkeologi

Salah satu momen paling menarik dalam diskusi tersebut adalah ketika Prof. Al-Makin merespons pertanyaan tentang asal-usul manusia pertama (Adam dan Hawa). Mengutip riset dari bukunya Keragaman dan Perbedaan, ia menyatakan dengan sangat gamblang: Secara biologis dan arkeologis, kerangka Adam dan Hawa tidak ditemukan dan tidak mungkin bisa dibuktikan.

Penjelasan ini sama sekali bukan bentuk penolakan terhadap teks suci, melainkan upaya meletakkannya secara presisi pada konteks literatur kesejarahan. Secara historis dan sastra, kisah tentang "manusia pertama" tersebar di hampir seluruh kebudayaan suku-suku di dunia, baik di Mesir, Tiongkok, hingga Jawa.

Kisah spesifik tentang Adam dan Hawa, lengkap dengan narasi surga, pohon terlarang, godaan ular, dan kejatuhan ke bumi, dapat dilacak akarnya pada tradisi suku Israel (Yahudi). Narasi ini ditulis dan berkembang sekitar tahun 2.000 hingga 500 Sebelum Masehi di dalam teks Perjanjian Lama (Kitab Kejadian/Genesis). Motif narasi semacam ini ternyata memiliki kemiripan yang luar biasa erat dengan mitologi kuno dari peradaban Mesopotamia, Babilonia, dan Sumeria, seperti epos Gilgamesh maupun Atrahasis.

Baca Juga: Kecanduan Membaca Buku Filsafat

Cerita eksklusif milik tradisi semitik ini kemudian mengalami "universalisasi" oleh Kekristenan melalui Kaisar Romawi Konstantinus pada abad ke-4 Masehi, dan kemudian disebarkan lebih luas lagi oleh peradaban Islam pada abad ke-7 ketika teks-teks tersebut berinkulturasi dengan budaya Arab.

Bila narasi teks klasik ini disandingkan dengan temuan ilmu paleoantropologi, sejarah evolusi manusia modern (Homo sapiens) sudah terbentuk dan bermigrasi sejak 300.000 tahun yang lalu, jauh sebelum teks narasi keagamaan manapun diciptakan di dunia ini. Hal inilah yang sering memicu kebingungan jika umat beragama mencoba membuktikan literatur sastra teologis secara murni menggunakan pisau bedah biologi.

Nusantara: Kawah Candradimuka Pemikiran Dunia

Selain sejarah manusia, Prof. Al-Makin menyoroti posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang menjadikannya melting pot (tempat peleburan) organik bagi peradaban Tiongkok, India, Arab, dan Eropa (Yunani).

Sayangnya, potensi besar ini dijangkiti oleh budaya intelektual yang lemah. "Kita ini punya banyak penulis dan naskah hebat, tapi miskin pembaca," kritik sang Profesor. Ia mencontohkan naskah epik seperti Serat Centhini yang merupakan ensiklopedia luar biasa, atau I La Galigo dari Sulawesi yang tak tertandingi panjangnya. Namun, sangat sedikit pembaca lokal yang mengkritisinya untuk diolah menjadi teori filsafat Nusantara yang utuh.

Karena absennya budaya diskursus yang sehat, kekayaan pemikiran intelektual Muslim di Indonesia sering terlupakan. Profesor Al-Makin menyebut sosok Prof. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, ulama produktif asal Aceh yang bermukim di Yogyakarta.

Beliau adalah pionir berani yang menggagas konsep "Fikih Indonesia", sebuah upaya kontekstualisasi hukum Islam agar relevan dengan budaya dan demografi Nusantara (misalnya membolehkan jama' dan qasar salat bagi perantau).

Ada pula jejak pemikiran Double Movement dari Fazlur Rahman yang disambut meriah oleh intelektual lokal seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Buya Syafii Maarif, hingga munculnya wacana "Islam Kiri" sejak era prakemerdekaan seperti yang digaungkan Haji Misbah maupun Tjokroaminoto.

Merawat Nalar, Mengikis Ketakutan

Obrolan berbobot antara Putut EA dan Prof. Al-Makin menjadi oase di tengah gersangnya diskursus intelektual di media kita saat ini. Kekhawatiran umat Islam terhadap filsafat terbukti tidak membuat penganutnya menjadi lebih kuat; sebaliknya, hal itu berpotensi melahirkan generasi yang gagap saat dihadapkan dengan kompleksitas sains modern.

Seperti pesan yang tersirat dari perbincangan ini: filsafat adalah cara manusia merayakan kebebasan akal untuk mencari esensi kehidupan, bukan sekadar menerima doktrin bulat-bulat tanpa pernah berani bertanya "mengapa?".

Biografi Singkat: Prof. Dr. Phil. Al-Makin, S.Ag., M.A.

Prof. Dr. Phil. H. Al-Makin, S.Ag., M.A. adalah salah satu intelektual Muslim terkemuka, pemikir kebudayaan, dan Guru Besar Filsafat dan Sosiologi Agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau dipercaya menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga pada periode 2020–2024.

Lahir dan menghabiskan masa remajanya di Bojonegoro, Jawa Timur, beliau memiliki rekam jejak pendidikan akademik yang sangat cemerlang di kancah internasional. Setelah merampungkan studi sarjana (S1) Jurusan Tafsir Hadis di IAIN Sunan Kalijaga pada 1996, ia melanjutkan pendidikan S2 di The Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada (1999). Kecintaannya pada penelitian membawanya meraih gelar doktor filsafat (Dr. Phil.) di universitas tertua di Jerman, Heidelberg University (2008).

Berbeda dengan sebagian rektor yang berangkat dari jalur birokrasi, karir Prof. Al-Makin melesat tajam dari jalur murni sebagai peneliti dan research fellow tamu di berbagai lembaga prestisius di Jepang, Singapura, dan Jerman.

Minat penelitiannya sangat berani dan luas, mencakup pluralisme, sejarah keragaman agama di Asia Tenggara, multikulturalisme, hingga kajian fenomenologi mengenai gerakan agama lokal dan kelompok minoritas (termasuk kajian fenomenal mengenai sosok nabi-nabi palsu/lokal di Nusantara).

Karya terbarunya, "Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan", semakin mengukuhkan dedikasinya untuk membumikan filsafat bagi masyarakat luas, demi merawat tradisi nalar kritis dan kebinekaan di Indonesia. Di luar akademis, beliau juga memiliki sisi seni yang kental dengan aktif melukis dan menggelar pameran lukisan secara tunggal. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#profesor al-makin #mitos adam-hawa #ilmu filsafat #sejarah peradaban manusia #tan malaka