RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia (bahkan dunia), memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan dan menjaga moderasi beragama di tanah air.
1. Akar Sejarah Harlah NU
Nahdlatul Ulama didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 Hijriah, yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 di Surabaya.
Tokoh sentral di balik berdirinya organisasi ini adalah KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, serta restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan.
Secara harfiah, Nahdlatul Ulama berarti "Kebangkitan Ulama". Kelahirannya dipicu oleh dua faktor utama:
Faktor Internasional: Respons terhadap perubahan peta politik dunia Islam pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan munculnya gerakan Wahabi di Arab Saudi yang mengancam tradisi Islam inklusif.
Faktor Nasional: Keinginan untuk menyatukan para ulama pesantren dalam upaya melawan penjajahan serta menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja).
2. Tradisi Peringatan Harlah
Peringatan Harlah NU biasanya dirayakan dua kali dalam setahun oleh warga Nahdliyin:
Versi Masehi: Setiap tanggal 31 Januari.
Versi Hijriah: Setiap tanggal 16 Rajab.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum muhasabah (evaluasi diri) dan penguatan komitmen terhadap tiga pilar utama NU:
- Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan sesama Muslim).
- Ukhuwah Watoniyah (Persaudaraan sesama bangsa).
- Ukhuwah Basyariyah (Persaudaraan sesama manusia).
3. Momentum Bersejarah: 1 Abad NU
Pada tahun 2023 lalu (16 Rajab 1444 H), NU genap berusia 100 tahun atau satu abad menurut penanggalan Hijriah.
Puncak resepsi peringatan ini digelar secara megah di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada 7 Februari 2023.
Tema dan Visi 1 Abad
Tema yang diusung adalah "Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru".
Pesan utama dari satu abad ini adalah:
Transformasi Digital: NU mulai merambah dunia teknologi untuk dakwah dan pemberdayaan ekonomi.
Kemandirian Ekonomi: Memperkuat basis ekonomi umat melalui pesantren dan UMKM.
Peran Global: NU semakin aktif dalam kancah internasional (seperti gelaran R20) untuk mempromosikan Islam yang moderat (Wasathiyah).
4. Menyongsong Abad Kedua
Memasuki abad kedua, tantangan NU semakin kompleks. Bukan lagi sekadar menjaga tradisi lama yang baik (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih), tetapi juga mengambil hal-hal baru yang lebih baik (wal akhdzu bil jadidil ashlah).
NU diharapkan terus menjadi benteng pertahanan NKRI dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus polarisasi dunia.
Kutipan Inspiratif Tokoh NU
Berikut adalah beberapa kalimat bermakna dari para tokoh NU yang sering menjadi rujukan:
"Gunakanlah akalmu untuk memahami agama, tapi jangan gunakan agamamu untuk membenarkan segala tindakanmu." KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
"Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan." KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri/Muassis NU)
"Organisasi ini (NU) adalah alat perjuangan, bukan tujuan. Tujuannya adalah ridha Allah melalui pengabdian kepada umat dan bangsa." KH. Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU)
"Di abad kedua ini, NU tidak boleh hanya jadi penonton sejarah, kita harus menjadi pemain utama dalam menentukan arah peradaban dunia." KH. Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU). (sfh)
Editor : Bhagas Dani Purwoko