Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menembus Zaman: Refleksi 100 Tahun Nahdlatul Ulama dan Harapan Abad Kedua

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 13 Januari 2026 | 10:55 WIB
HARLAH: Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU).
HARLAH: Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU).

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi keagamaan; ia adalah urat nadi sejarah Indonesia.

Sejak berdiri pada tahun 1926 hingga merayakan usia satu abad pada 2023 lalu, NU telah bertransformasi dari kumpulan ulama tradisional menjadi kekuatan masyarakat sipil terbesar di dunia.

1. Menengok Akar: Mengapa NU Lahir?

NU lahir di Surabaya pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H). Kelahirannya merupakan respons jenius dari para ulama pesantren terhadap dua tantangan besar saat itu:

​Tantangan Global: Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan munculnya gerakan pemurnian agama di Timur Tengah yang mengancam keberagaman tradisi Islam.

​Tantangan Lokal: Keinginan untuk menyatukan kekuatan pesantren guna melawan penjajahan Belanda melalui jalur pendidikan dan dakwah.

​Tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri merumuskan visi "Kebangkitan Ulama" untuk menjaga Islam yang ramah, moderat, dan berakar pada budaya setempat (pribumisasi Islam).

2. Satu Abad NU: Simbol Kekuatan dan Keberagaman

​Puncak peringatan 1 Abad NU yang digelar di Sidoarjo pada Februari 2023 menjadi tonggak sejarah yang luar biasa. Jutaan warga Nahdliyin memutihkan kota, menunjukkan bahwa organisasi ini tetap relevan di tengah modernitas.

Ada tiga pesan kunci yang dibawa dalam peringatan Satu Abad tersebut:

Kedigdayaan Organisasi: NU tidak lagi hanya fokus pada masalah fiqih ibadah, tetapi juga mulai membangun kemandirian ekonomi, kesehatan, dan pendidikan berkualitas.

​Kepemimpinan Global: Melalui inisiatif seperti R20 (Religion Forum), NU menunjukkan bahwa Islam dari Indonesia bisa menjadi solusi bagi konflik dunia.

​Harmoni Nasional: Menegaskan kembali bahwa NKRI adalah harga mati dan Pancasila adalah konsensus final bagi umat Islam di Indonesia.

3. Menyongsong Abad Kedua: Apa yang Berubah?

​Memasuki abad keduanya, NU mengusung tema besar: "Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru".

Di era ini, NU melakukan adaptasi besar-besaran:

​Digitalisasi Pesantren: Dakwah tidak lagi hanya di atas podium, tapi merambah ke media sosial dan platform digital.

​Kemandirian Ekonomi: Membangun ekosistem bisnis melalui NU-Mart, rumah sakit NU, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

​Pendidikan Tinggi: Meningkatkan jumlah universitas (UNU) untuk mencetak cendekiawan muslim yang ahli di bidang sains dan teknologi.

​"Urusan NU adalah urusan peradaban. Kita tidak boleh hanya menjadi saksi sejarah, tapi harus menjadi penentu arah sejarah." — Pesan dalam Resepsi 1 Abad NU.

4. Nilai Utama yang Tetap Dijaga

​Meskipun zaman berubah, NU tetap memegang teguh empat pilar cara berpikir (fikrah):

​Tawassuth (Moderat): Tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

​Tawazun (Seimbang): Seimbang dalam hubungan kepada Tuhan, manusia, dan lingkungan.

​I'tidal (Tegak Lurus): Bertindak adil dan benar.

​Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan pendapat dan keyakinan.

​Harlah NU dan peringatan 1 Abad adalah pengingat bahwa Islam dan Nasionalisme bisa berjalan beriringan.

Bagi pembaca umum, mengenal NU adalah mengenal separuh dari wajah Indonesia yang ramah dan damai. (sfh)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#nahdlatul ulama #ulama #satu abad nu #peringatan #transformasi #digital #sejarah indonesia