Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

3 Alasan Utama Mengapa Hidup di Masa Lalu Dianggap Lebih Sejahtera

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 27 Oktober 2025 | 20:21 WIB
Ilustrasi seseorang yang hidup tenang dan bebas stres di usia dewasa
Ilustrasi seseorang yang hidup tenang dan bebas stres di usia dewasa

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pertanyaan "Mengapa hidup sekarang terasa lebih susah daripada zaman orang tua kita?" adalah keluhan yang sering terdengar.

Ada memori kolektif bahwa di masa lalu, orang tua hanya perlu menjalani satu profesi (misalnya, ayah sebagai PNS atau petani) dan sudah mampu menghidupi keluarga dengan layak, bahkan membeli rumah.

Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa keluarga muda sering kali membutuhkan pendapatan ganda (suami dan istri bekerja) hanya untuk mencapai taraf kehidupan yang dianggap "layak" dan mapan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif, melainkan cerminan dari pergeseran struktural ekonomi dan sosial yang kompleks.

Atau bisa jadi hal tersebut hanya ilusi semata. Sebab, tak sedikit orang menganggap di dunia masa kini yang serba cepat dan serba mudah, justru tak jarang menyulitkan hidup kita.

Lantaran konsekuensi dari kondisi serba cepat dan serba mudah itu membuat nuansa hidup berkompetisi semakin tebal. Jika tak segera ambil keputusan atau takut akan perubahan, maka cepat atau lambat bakal tertinggal.

Berikut adalah analisis mengapa terjadi kesenjangan antara persepsi masa lalu dan tekanan ekonomi masa kini:

1. Inflasi Biaya Hidup vs. Stagnasi Kenaikan Gaji

Faktor utama yang paling menekan adalah inflasi, khususnya pada sektor-sektor non-primer, yang jauh lebih tinggi daripada rata-rata kenaikan pendapatan per kapita.

A. Kenaikan Harga Aset dan Properti yang Gila-Gilaan

Di masa lampau, harga properti dan tanah relatif lebih terjangkau, terutama jika dibandingkan dengan pendapatan rata-rata.

Hari ini, harga properti, terutama di kawasan perkotaan, menjulang tinggi dan terus meningkat (data Bank Indonesia menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial terus naik, bahkan untuk tipe rumah kecil).

Dampaknya: Gaji rata-rata, meskipun meningkat, tidak mampu mengimbangi laju kenaikan harga rumah.

Baca Juga: Investasi Tanah atau Emas: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Alhasil, kepemilikan rumah (salah satu penanda kesejahteraan masa lalu) menjadi mimpi yang semakin jauh, memaksa mayoritas harus mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang membebani keuangan dalam jangka panjang.

B. Biaya Pendidikan dan Kesehatan yang Melambung

Tuntutan untuk memiliki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi membuat biaya pendidikan, terutama pendidikan tinggi yang berkualitas, menjadi sangat mahal.

Demikian pula dengan biaya kesehatan. Walaupun pemerintah berupaya meningkatkan alokasi anggaran, biaya riil yang ditanggung individu (terutama di sektor swasta berkualitas) terus meningkat.

Dampaknya: Keluarga masa kini harus mengalokasikan persentase pendapatan yang jauh lebih besar untuk jaminan masa depan anak (pendidikan) dan kesehatan, yang dulu mungkin tidak sebesar itu bebannya bagi orang tua.

2. Pergeseran Struktur Pekerjaan dan Tuntutan Gaya Hidup

Struktur ekonomi Indonesia telah bergeser dari dominasi sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri) dan tersier (jasa). Pergeseran ini menciptakan tuntutan baru.

A. Peningkatan Tuntutan Kualifikasi (Lulusan Sarjana)

Di masa lalu, memiliki ijazah sekolah menengah atau bahkan pendidikan rendah sudah cukup untuk mendapatkan pekerjaan layak di sektor pertanian atau pegawai negeri.

Sekarang, pasar kerja yang kompetitif menuntut pendidikan formal yang lebih tinggi (S1 atau lebih), serta berbagai soft skill dan hard skill tambahan.

Dampaknya: Generasi muda harus berinvestasi lebih banyak pada pendidikan (biaya tinggi) untuk mendapatkan pekerjaan yang setara dengan pekerjaan orang tua mereka di masa lalu.

B. Jebakan Utang dan Gaya Hidup Konsumtif

Kemudahan akses terhadap utang, seperti pinjaman online (pinjol), paylater, dan kartu kredit, menawarkan ilusi kemakmuran. Hal ini memicu peningkatan gaya hidup yang didorong oleh standar sosial yang tinggi.

Perbandingan Dulu vs. Sekarang: Dulu, utang adalah hal yang sulit didapatkan dan dihindari. Sekarang, kemudahan berutang membuat banyak individu dan keluarga terjerat utang konsumtif untuk mengejar standar hidup yang tinggi, menciptakan tekanan finansial buatan yang tidak dialami generasi sebelumnya.

3. Realitas Pendapatan Ganda sebagai Kebutuhan Dasar

Fenomena "kedua orang tua harus bekerja" mencerminkan upaya keluarga modern untuk menjembatani jurang antara pendapatan yang didapat (Upah Minimum) dengan Biaya Hidup Riil yang meroket.

Ketika biaya hidup di kota-kota besar (seperti Jakarta atau Surabaya) bisa mencapai belasan juta Rupiah, sementara Upah Minimum Regional (UMR) hanya berada di kisaran seperempat hingga sepertiga dari biaya tersebut, pendapatan tunggal tidak lagi memadai untuk memenuhi standar "layak" (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan).

Maka, bekerjanya kedua orang tua menjadi mekanisme pertahanan ekonomi keluarga untuk mengamankan kebutuhan-kebutuhan dasar, khususnya jaminan aset (rumah) dan jaminan masa depan (pendidikan dan kesehatan anak).

Kesimpulan: Susah atau Berubah?

Bukan berarti masa lalu tidak memiliki kesulitan; setiap era punya tantangan unik (misalnya, inflasi tinggi di awal kemerdekaan atau krisis moneter).

Namun, kesulitan yang dirasakan generasi kini berakar pada ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan biaya aset dan jasa (properti, pendidikan) dengan laju pertumbuhan pendapatan.

Apa yang dulu dicapai dengan satu profesi, kini membutuhkan dua profesi. Hal ini menunjukkan bahwa standar hidup "layak" semakin mahal, mengubah kerja keras menjadi perlombaan yang lebih melelahkan hanya untuk mempertahankan posisi. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#kesejahteraan #konsumtif #hidup #Gaya Hidup #masa kini #Investasi #masa lalu #aset properti