RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ancaman tanah gerak menghantui warga Desa Kemiri, Kecamatan Jepon. Terdapat empat rumah warga di RT 02/RW 01 desa setempat rusak parah akibat penurunan tanah setinggi dua meter. Kerusakan dipicu oleh retaknya sayap Bendungan Kemiri yang berada tepat di belakang permukiman.
Salah satu warga yang rumahnya terdampak, Suparjan mengaku bahwa pergerakan tanah tersebut satu minggu dan paling parah sejak tiga hari terakhir.
"Sampai rumah belakang dan kamar mandi terbawa," imbuhnya.
Suparjan mengatakan, setiap hari tanah mengalami pergerakan, yang berpengaruh penurunan kontruksi rumah hingga genteng berjatuhan.
"Pagi, siang, malam terus gerak. Namun terasa bangunan pada retak empat hari yang lalu, kemudian disusul ada genteng berjatuhan, tanah terus bergerak," terangnya.
Baca Juga: TPT Sungai Besuki Longsor, Jalan Utama Kedungbondo-Sumuragung Ambles
Kekhawatiran Suparjan memuncak saat melihat retakan tanah semakin lebar. Ia bahkan melarang anak-anaknya mendekati area rumah karena takut tertimpa reruntuhan bangunan atau genteng yang sewaktu-waktu bisa ambruk.
"Pergerakan ini karena sayap bendungan dan irigasi sudah tidak fungsi lagi, kemudian air mengikis tanah dan lama-kemalaman mengikis sebagian pondasi-pondasi rumah," ungkapnya.
Upaya mandiri bukannya tidak dilakukan. Suparjan mengaku sudah dua kali merenovasi rumahnya untuk menyiasati pergerakan tanah, namun sia-sia.
Suparjan mengaku, bendungan tersebut sudah ada sejak depalan tahun yang lalu. Namun ia sangat menyayangkan adanya bendungan justru berdampak buruk bagi masyarakat sekitar.
"Dulu sebelum ada bendungan tetep ada longsor tapi kecil, hanya di bantaran kali, gak berdampak ke rumah warga dan dahulu kalinya kecil tidak lebar seperti sekarang," ucapnya.
Menurut Suparja, terdapat empat kepala keluarga (KK) yang menghuni empat rumah terdampak. Kini, ia menyusul tiga KK lainnya untuk mengungsi. "Saat ini mengungsi ke rumah simbah yang berada di Desa Brumbung," jelasnya
Hingga saat ini, warga masih menanti langkah konkret dari pemerintah. Meski sudah melapor ke pihak desa, belum ada penanganan teknis di lokasi kejadian.
"Kalau kita sudah laporan pihak pemerintah desa dan katanya sudah di laporan ke dinas terkait. Namun prosedur dan administrasi gimana, saya tidak tahu," pungkasnya. (ozi/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana