RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Masyarakat Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat diterpa bencana tanah longsor pada Sabtu dinihari (24/1). Hingga Sabtu sore, masih banyak warga setempat yang belum ditemukan, dan hingga delapan warga dinyatakan meninggal dunia.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, longsor terjadi di Desa Pasir Langu, Kampung Babakan Cibudah, Kecamatan Cisarua sekitar pukul 02.30. Material tanah langsung menghujam ke pemukiman warga saat longsor terjadi, sehingga menyebabkan korban jiwa.
”Bencana ini berdampak terhadap sekitar 34 kepala keluarga atau 113 jiwa, sementara jumlah rumah terdampak masih dalam pendataan petugas di lapangan,” jelasnya pada Sabtu sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Selain itu, sebelumnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah menetapkan wilayah tersebtu sebagai wilayah siaga bencana. “Ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang berlaku mulai 15 September 2025 hingga 30 April 2026,” tambah Muhari.
Menurut data Basarnas, hingga Sabtu sore terdapat 23 korban selamat, 8 korban meninggal dunia, dan 82 korban lainnya hilang. Pencarian korban masih dilakukan dengan bantuan alat berat dan drone UAV.
“Petugas SAR gabungan telah berada di lokasi melakukan asesmen lokasi-lokasi dimana kami dapat melakukan proses evakuasi atau pencarian korban,” papar Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana dalam laporan Basarnas di media sosial.
Selain menyampaikan duka cita saat berkunjung langsung ke lokasi kejadian, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi juga mewanti-wanti untuk mewaspadai longsor susulan. Sehingga jika sempat, warga setempat diminta untuk segera mengungsi menjauhi lokasi terdampak longsor.
“Karena hujan akan terus berlangsung, angin kencang selalu terjadi dan potensi longsor mungkin terjadi di mana pun,” jelas pria yang akrab disapa KDM tersebut melalui media sosial pribadinya.
Pengamatan Dedy, longsor banyak berkaitan dengan alih fungsi lahan yang terjadi di kawasan pedesaan. Banyak pepohonan dan hutan di sekitar desa yang sudah berganti menjadi kebun sebagai mata pencaharian warga.
"Lokasinya berubah, tadinya area pegunungan, semuanya diubah jadi perkebunan sayur. Ini juga jadi salah satu penyebab longsor," ujarnya.
Menurut catatan BPBD Jawa Barat, sekitar 400 warga telah diungsikan dari wilayah desa hingga Sabtu sore. Pengungsian dibagi menjadi beberapa pos di lereng perbukitan, termasuk di posko milik Basarnas.
“Untuk penanganan korban, kami sudah menyiapkan sejumlah pos, mulai dari pos utama hingga pos lapangan. Pos lapangan berada di bawah, termasuk di posko Basarnas,“ papar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Barat, Bambang Imanudin. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana