RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dampak bencana alam berupa cuaca ekstrem, banjir dan tanah longsor di wilayah utara Sumatera masih terasa hingga Selasa siang (2/12). Bencana yang melanda tiga provinsi sekaligus tersebut memakan ratusan korban jiwa hingga saat ini.
Sejak bencana terjadi sekitar seminggu lalu (24-25/11), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat melalui Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) kurang lebih ada 3,3 juta masyarakat terdampak bencana di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar). Total ada 50 kabupaten dari tiga provinsi tersebut masuk ke dalam wilayah terdampak bencana.
Dari jumlah masyarakat terdampak tersebut, 631 diantaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Rinciannya, 293 jiwa korban meninggal di Sumut, 165 jiwa korban meninggal di Sumbar dan 173 jiwa korban meninggal di Aceh.
Sementara itu, 2.600 penduduk mengalami luka-luka dalam bencana tersebut, dan 472 penduduk masih dalam pencarian petugas gabungan BNP, Basarnas, TNI, Polri dan berbagai unsur lain. Kemudian dari seluruh penduduk terdampak, kurang lebih terdapat 1 juta penduduk yang terpaksa mengungsi ke lokasi lain.
“Hingga Senin sore (1/12), pengungsi tersebar di beberapa titik. Pengungsi terbanyak antara lain 15.765 jiwa di Tapanuli Utara, 107.305 jiwa di Aceh Utara, dan total 122.683 jiwa di Sumbar,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam rilis resmi lembaga.
Kemudian, sekitar 9.000 rumah mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat. Rinciannya, 3.500 rumah mengalami kerusakan berat, 2.000 mengalami kerusakan sedang dan 3.500 sisanya rusak ringan.
Hingga saat ini, petugas gabungan masih melanjutkan penyaluran bantuan melalui jalur darat, laut dan udara, dengan penyaluran tahap pertama di Sumut dinyatakan tuntas pada Senin sore. Selain itu jalur Tarutung–Padangsidimpuan dan Tarutung–Sibolga di Sumut, serta Jembatan Gantung Awe Geutah berhasil dibuka untuk keperluan penyaluran tersebut.
“Jalur Tarutung-Sibolga dan Tarutung-Padang Sidempuan memang belum seluruhnya dapat ditembus, namun tim di lapangan tak henti berupaya memulihkan akses agar segenap penanganan darurat dapat lebih dimaksimalkan,” tambah Muhari.
Pun demikian, karena akses jalur darat masih terbatas pada titik-titk tersebut, penyaluran bantuan masih banyak mengandalkan transportasi laut dan udara. Sementara untuk mencapai lokasi yang sulit dijangkau, bantuan dikirimkan dengan berjalan kaki.
“Bergerak juga pasukan TNI membawa logistik dengan ransel di punggung untuk membantu masyarakat yang terjebak di jalur Tarutung menuju Sibolga dan wilayah lainnya,” jelas Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana