Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dulu Dibilang Cerewet, Kini Diakui Psikolog: Ibu yang Suka Ngomel-Ngomel Justru Bantu Anak Cerdas Emosional

Hakam Alghivari • Rabu, 2 Juli 2025 | 00:50 WIB

 

Ilustrasi ibu dan anak laki-laki.
Ilustrasi ibu dan anak laki-laki.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam banyak budaya, ibu yang suka bicara atau ngomel-ngomel dianggap cerewet. 

Mulai dari mengingatkan PR, menasihati soal teman, sampai mengulang larangan yang sama setiap hari. Tak jarang, ibu seperti ini disebut "rewel" atau "terlalu banyak ngomong."

Padahal, di balik semua itu, justru tersembunyi kekuatan besar yang mendukung tumbuh kembang anak—khususnya dalam hal kecerdasan emosional.

Menurut teori meta-emotion dari Gottman Institute, gaya komunikasi orangtua terhadap emosi anak sangat memengaruhi cara anak memahami, mengelola, dan mengekspresikan perasaannya sendiri.

Ibu yang tampak cerewet sering kali adalah mereka yang aktif secara emosional. Mereka hadir bukan hanya secara fisik, tapi juga terlibat dalam percakapan harian yang memancing anak untuk mengenali emosinya, berpikir tentang sebab-akibat, dan memproses masalah secara verbal.

Dr. John Gottman, peneliti utama dalam studi ini, menyebutkan bahwa orangtua yang rutin berdialog dengan anak tentang perasaan dan pengalaman sehari-hari membantu membentuk “peta emosi” anak. Anak-anak dari keluarga seperti ini lebih mampu memahami apa yang mereka rasakan dan bagaimana cara meresponsnya secara sehat.

Salah satu pendekatan yang diteliti adalah emotion coaching, di mana orangtua mendampingi anak saat sedang mengalami emosi negatif—marah, kecewa, sedih—dan membantu mereka menamai serta memahami emosi tersebut.

Menurut Gottman, anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini cenderung lebih baik dalam regulasi emosi, punya empati lebih tinggi, dan memiliki performa sosial maupun akademik yang lebih stabil.

Ibu yang cerewet, dalam konteks ini, bukan hanya sekadar memberi perintah atau larangan. Mereka juga memberi konteks, menjelaskan alasan, bahkan mengajak diskusi.

Misalnya, alih-alih berkata “Jangan main HP terus!”, mereka menambahkan, “Kalau kamu terlalu lama main HP, kamu jadi sulit fokus belajar. Ibu tahu kamu senang main game, tapi yuk atur waktu supaya nggak keteteran sekolah.”

Kalimat panjang ini memang terdengar merepotkan, tapi di situlah anak belajar struktur berpikir, empati, dan tanggung jawab.

Sayangnya, gaya pengasuhan seperti ini sering kali diremehkan. Bahkan tak sedikit yang menyarankan ibu untuk “lebih tenang” atau “nggak usah terlalu mikir.” Padahal, keterlibatan emosional adalah kebutuhan dasar anak.

Dalam rumah tangga yang minim dialog, anak justru berisiko mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapat atau memahami emosi orang lain.

Anak yang terbiasa diajak bicara oleh ibunya, kelak lebih siap menghadapi dinamika sosial, mulai dari pertemanan, perbedaan pendapat, hingga konflik emosional.

Mereka tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga punya emotional literacy—kecerdasan untuk membaca perasaan sendiri dan orang lain.

Jadi, untuk semua ibu yang sering merasa bersalah karena terlalu cerewet, barangkali justru itulah bentuk cinta paling dalam.

Cerewet bukan kelemahan, tapi keterlibatan aktif. Dan menurut sains, itu justru fondasi penting bagi anak untuk tumbuh jadi pribadi yang kuat, empatik, dan mampu mengelola diri dengan baik. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#studi #ngomel-ngomel #cerewet #psikologi #ibu #anak