RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kelahiran seorang anak umumnya membawa kebahagiaan besar dalam sebuah keluarga. Tangis pertamanya disambut dengan haru dan doa oleh orang tua yang penuh harapan akan masa depan si kecil. Bayi mungil itu menjadi simbol cinta dan harapan baru dalam kehidupan rumah tangga. Namun, tak semua perjalanan keluarga terus berjalan dalam nuansa bahagia.
Seiring waktu, perubahan emosi, tekanan ekonomi, serta konflik dalam rumah tangga seringkali menggeser kehangatan menjadi ketegangan. Dalam situasi seperti itu, tak sedikit orang tua yang tanpa sadar melampiaskan beban dan emosi negatif kepada anak. Anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab untuk dilindungi, malah menjadi korban dari sikap tidak bijak dan kekerasan emosional yang dilakukan orang tua sendiri.
Baca Juga: Mom, Ini Cara Efektif Mendisiplinkan Anak Sejak Dini untuk Bentuk Karakter Hebat
Salah satu bentuk pola asuh yang membahayakan tersebut dikenal dengan istilah toxic parenting yakni pola pengasuhan yang meracuni perkembangan mental dan emosional anak. Orang tua dalam kategori ini seringkali bersikap kasar, tidak menghargai anak sebagai individu, bahkan memperlakukan anak seolah tidak memiliki harga diri. Mirisnya, pola ini masih banyak terjadi dan dianggap normal dalam banyak keluarga.
Padahal, toxic parenting tidak hanya meninggalkan luka batin sementara. Dampaknya bisa menjalar ke seluruh aspek kehidupan anak hingga dewasa. Mulai dari rasa percaya diri yang rendah, kesulitan menjalin relasi sosial, hingga gangguan kesehatan mental yang serius. Ironisnya, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa pola asuh mereka telah meninggalkan bekas luka mendalam pada jiwa anak-anak mereka.
Mengacu pada penelitian Oktariani dalam Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi dan Kesehatan, toxic parenting memiliki beberapa ciri yang bisa dikenali. Orang tua yang toxic cenderung memperlakukan anak seperti orang bodoh, terlalu mengekang hingga anak merasa terkekang, atau membebani anak dengan rasa bersalah atas kesalahan masa lalu yang terus diungkit.
Baca Juga: Pembekalan KKN TK Unigoro 2025: Fokus Pengelolaan Potensi Geopark
Tidak jarang pula mereka melontarkan kata-kata yang menyakiti, seperti meremehkan usaha anak, membandingkan dengan saudara atau orang lain, dan tidak pernah memberi pujian yang membangun. Hal ini dapat menghancurkan harga diri anak dan membuat mereka merasa tidak dicintai.
Dampak dari toxic parenting sangatlah luas dan dalam. Anak bisa mengalami kecemasan tinggi, merasa tidak aman di lingkungannya, serta mengalami kesepian dan merasa tidak dipahami. Dalam beberapa kasus, mereka menjadi pribadi yang tidak konsisten, sulit membangun prinsip hidup, dan bahkan menunjukkan perilaku agresif serta ingin menentang aturan sosial. Anak-anak ini sering kali kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan emosi dengan tepat, tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, serta kesulitan membangun hubungan emosional dengan orang lain.
Dalam jangka panjang, efek toxic parenting dapat menyebabkan gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, bahkan gangguan fisik yang tidak disadari berasal dari tekanan batin. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan toxic juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang terlalu patuh hingga mengabaikan dirinya sendiri, atau sebaliknya menjadi sangat memberontak dan sulit diarahkan. Mereka cenderung menyalahkan orang tua atas masalah hidup yang dihadapi, serta memiliki ketergantungan emosional yang tidak sehat terhadap orang lain.
Baca Juga: Pendirian PSDKU UNY di Cepu Masih Alot, Warga Ingin Kampus Didirikan di Blora Kota
Penting bagi setiap orang tua untuk menyadari bahwa pola asuh mereka akan membentuk masa depan anak. Mengasuh anak bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga dan mengembangkan kesehatan mental dan emosionalnya. Memberi ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri, mendukung setiap proses perkembangannya, serta menghargai segala usahanya, adalah wujud pengasuhan yang sehat dan membangun. Jika ada luka dalam diri orang tua dari masa lalu, sudah saatnya untuk sembuh agar tidak diteruskan kepada generasi berikutnya. Anak berhak tumbuh dalam cinta, bukan dalam racun yang tidak terlihat tapi menyakitkan. (oss/mgg)
Editor : Hakam Alghivari