BLORA, Radar Bojonegoro - Dalam rangka memberikan layanan pendidikan terbaik kepada masyarakat, Bupati Blora Arief Rohman minta kepada para guru di Blora untuk ikut atasi anak tidak sekolah (ATS) di masing-masing wilayah kerjanya.
Bupati yang akrab disapa Mas Arief ini meminta kepada Dinas Pendidikan (Disdik) untuk memastikan anak usia sekolah di sekitarnya harus bersekolah dan tidak ada yang putus sekolah. ’’Jangan sampai ada anak-anak di sekitar kita tidak sekolah. Pastikan bahwa anak usia sekolah harus bersekolah,” jelwsnya.
Kepada para guru, orang nomor satu di Blora itu meminta agar bisa mendata di wilayahnya apabila ada anak tidak mampu sekolah dan mengajak mereka agar mau sekolah. ’’Saya harap bapak ibu guru semua bisa juga melihat sekitarnya (kampung tempat tinggal). Apabila ada anak tidak sekolah atau putus sekolah untuk dilaporkan dan dibujuk sekolah kembali,” tuturnya.
Jika alasannya biaya, menurutnya hal itu bisa dikoordinasikan dengan dinas agar anak-anak yang masih di usianya masih sekolah bisa mendapatkan haknya tetap belajar. Ia juga mengatakan, pemkab akan terus berkomitmen kuat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Utamanya terkait layanan dasar yang bersifat fundamental seperti pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan diresmikannya program pemerintah Sekolah Sisan Ngaji (SSN). Ia berharap dengan program SSN, para generasi muda Blora bisa mendapatkan pengetahuan keagamaan lebih intensif.
’’Sehingga, ilmu yang didapatkan bukan hanya ilmu umum, namun juga nantinya anak-anak bisa memperdalam ilmu akhlak, fiqih, dan ilmu keagamaan lain. Ini merupakan poin penting dalam mempersiapkan generasi muda kita pada Indonesia Emas 2045 mendatang,” jelasnya.
Terpisah Kepala Disdik Blora Sunaryo mengajak kepada semua pihak memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan pelayanan bidang pendidikan di Kabupaten Blora untuk meningkatkan kinerjanya. Baik sebagai guru, pengawas, maupun tenaga teknis.
’’Peningkatan kinerja itu salah satunya bisa diukur dari memastikan bahwa tidak ada siswa drop out atau putus sekolah. Memastikan bahwa peserta didik yang lulus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan nilai kelulusan makin meningkat,” terang Sunaryo.
Pihaknya meminta agar para pengawas, kepala sekolah, dan guru bisa ikut aktif dalam penanganan ATS. Sehingga, angka ATS di Blora semakin berkurang. ’’Semuanya saja, saya minta agar bisa menyisir keberadaan ATS dengan basis data Silat (sistem intregasi layanan administrasi pendidikan terpadu),” ujarnya.
Setelah itu, lanjut dia, mengajak ATS kembali ke sekolah, baik sekolah formal maupun non formal (kesetaraan). ’’Dalam hal ini kita akan bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk melaksanakan program Kejar Paket A, Paket B, maupun Paket C,” tambahnya.
Kepada para pendidik, Sunaryo juga menekankan untuk tidak mudah meninggalkan kelas atau sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Sehingga, sekolah tidak sering kosong jam dengan alasan kepala sekolah dan guru banyak acara keluar. (*/hul)
Editor : Hakam Alghivari