Opini: Bahasa Netizen dan Dialek Bojonegaran

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 8 November 2026 | 08:00 WIB
Dialek yang sering disebut Jonegoroan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat setempat dan masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Dialek yang sering disebut Jonegoroan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat setempat dan masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

Oleh: Nono Warnono


Kata netizen dengan padanan warganet sudah resmi masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V daring. Netizen merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, internet dan citizen yang berarti warga internet. Dalam penulisan media tertentu, kata ini kadang ditulis miring (italic) karena masih dianggap sebagai kata asing. Sementara untuk warganet yang merupakan akronim dari warga dan internet, ditetapkan sebagai padanan kata bahasa Indonesia baku untuk netizen.

Bahasa sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang arbriter dan terstruktur adalah piranti masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri, niscaya terus berkembang dinamis bukan sesuatu yang statis. Tidak terkecuali bahasa netizen yang diwaktu-waktu sebelumnya telah muncul dalam bahasa gaul atau slang, banyak yang sudah masuk dalam KBBI dan memperkaya khasanah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia.

Kita sedari awal tak paham dengan munculnya kosa kata baru yang terasa aneh, namun kini sudah terbiasa mendengar ujaran slang ekspresif, seperti : kepo (ingin tahu), lebai (berlebihan), julid (suka iri dengki), ambyar (tercerai berai), cuan (keuntungan/uang), kicep (merasa bersalah). Ada juga kata akronim netizen yang sudah lumrah, semisal: gercep (gerak cepat), mager (malas gerak), baper (terbawa perasaan), bucin (buta cinta), gabut (gaji buta), pansos (panjat sosial) dan sebagainya.

Fenomena viralnya kosa kata baru tak pernah berhenti seiring berjalannya waktu dengan segala pergeseran tata sosial di era digital. Akhir-akhir ini muncul juga bahasa netizen yang mengadopsi nama-nama tokoh kondang dan pejabat negara. Sebagai contoh, Pramono Anung (gubernur DKI Jakarta) diekspresikan dengan kata "kerja",  Anis Baswedan (peserta kontestasi presiden tahun 2024) dikonotasikan sebagai "nganggur", Prabowo (gemoy), KDM (caper), Tedy (sok sibuk), Gibran (kosong), Nanik (nangis), Sherly (cantik), Meutya (blokir), Ahok atau Basuki Cahaya Purnama (marah-marah) dan sebagainya. Contoh dalam kalimat: "Saya sedang Anis sebetulnya pengin Pramono agar tidak mudah Ahok" (Saya sedang menganggur, sebetulnya pengin kerja agar tidak mudah marah-marah).

Bahasa sejatinya bukan sekedar alat komunikasi, dan mengidentifikasi diri ansich, namun di era yang serba digital, bahasa juga menjadi alat untuk mengungkapkan ekspresi sekaligus sebagai warisan kearifan lokal. Tak ayal dalam kehidupan yang terus mengalami perubahan, muncul berbagai ungkapan bukan dengan kata vulgar namun lebih melalui kosa kata baru yang diambil dari nama tokoh atau pejabat negara. Meski konotasinya bisa jadi ada yang bermakna positif maupun negatif, bergantung realita keseharian, performa hasil kinerja dan segala kontroversinya.

Bahasa di media sosial (medsos) memang sangat cair, sebab istilah dan kosa kata bisa mendadak viral lalu hilang saat muncul tren baru. Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana bahasa di medsos mengalami dinamika yang cukup nyata mengilustrasi berbagai dimensi kehidupa baik di jagat nyata maupun ratmaya.

Baca Juga: Mengenal Key Opinion Leader (KOL), Sosok Berpengaruh yang Menjadi Kunci Strategi Pemasaran Digital

Dialek Bojonegaran sebagai Local Wisdom di Tengah Sosiolinguistik

Seperti dinarasikan sebelumnya bahwa bahasa itu berkembang dinamis sesuai dengan eranya. Bahasa tidak sebatas alat komunikasi, namun juga sebagai kearifan lokal (local wisdom) yang niscaya dijaga dan ditumbuhsuburkan melalui berbagai ikhtiar strategis dan produktif. Momentum Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi tonggak sejarah visioner menjadikan bahasa Indonesia sebagai jembatan pemersatu antaruku, pulau dan latar belakang budaya.

Betapa di tengah kebanggaan itu sejatinya ada ironi yang patut kita renungkan bersama. Apakah keberhasilan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu justru berjalan saling beriringan dengan  semakin terpinggirkannya bahasa daerah berbagai dialek lokal dalam berbagai dimensi kehidupan sehari-hari? Bagaimana dengan eksistensi bahasa lokal dialek Bojonegaran di tengah desakan bahasa asing dan membuncahnya bahasa netizen yang terus mengepungnya?

Sebuah pertanyaan yang ajeg mengemuka ketika kita membincangnya dalam posisi dikonfrontasikan. Ada sebagian pihak punya persepektif, bahasa daerah atau dialek lokal akan punah tergilas jaman. Pada posisi berseberangan ada yang meyakini bahasa daerah dan dialek lokal semacam dialek Bojonegaran akan tetap bertumbuhkembang selama penutur suku Jawa masih ada. Dialek Bojonegaran tidak sekedar piranti komunikasi dan interaksi, karena ia lebih sebagai warisan aji (legacy) budaya kearifan lokal yang memiliki nilai rasa berbeda dengan bahasa pada umumnya.

Ragam dialek Bojonegaran memiliki kosa kata tersendiri dalam ujaran berbeda semisal kata "jengker", (berbicara) "matoh" (bagus sekali), "njukuk" (mengambil) "gableg" (memiliki) , "njungok" (duduk)" lesu" (lapar) "jengklong" (nyamuk) "menyok" (singkong) dan sejenisnya adalah kata yang identik medok ala Bojonegoro. Belum lagi pemakaian akhiran "em" untuk standar ujaran Jawa baku "mu", atau "oh" untuk akhiran baku "uh", memberikan kekhususan dialek Bojonegaran, berbeda dengan dialek Arek, Mataraman, Maduran dan sejenisnya.

Menurut penulis, meski beberapa pengamat mensinyalir dialek Bojonegaran akan tereduksi dari generasi ke generasi, itu satu perspektif. Namun Balai Bahasa Propinsi Jawa Timur (BBPJT) dan beberapa pakar menyebut bahasa Dialek Bojonegaran sebagai dialek lokal yang eksis dan terus berkembang. Realitanya ada penutur yang meninggalkan, namun ada yang justru ngleluri (melestarikan) keberadaannya .

Baca Juga: Opini: Bahaya Besar di Balik Polemik Ijazah Gibran

Sebagai sebuah alat komunikasi sekaligus bernilai etika, kearifan lokal, sejarah dan cara masarakat memahami kehidupan, bahasa ibu dengan berbagai dialek, dan bahasa Indonesia sebagai pemersatu tidak saling meniadakan tetapi saling melengkapi. Trigatra Bahasa menyebut: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing. Ketiganya tidak boleh saling menegasikan. Jangan sampai bahasa asing dipersepsikan sebagai simbol kemajuan, bahasa daerah dicap sebagai peninggalan masa lalu yang tak relevan.

Dus, ditengah munculnya bahasa netizen di medsos, kita tidak alergi merasakan perkembangan bahasa tersebut. Bahasa Indonesia tetap kita implementasikan sebagai bahasa nasional pemersatu. Sementara bahasa daerah dengan beragam dialek, termasuk Dialek Bojonegaran, adalah salah satu kekayaan kearifan lokal yang niscaya dirawat, dijaga, dan ditumbuhkembangkan secara produktif di tengah kajian kebahasaan sosiolinguistik.

 

*Maestro Bahasa Jawa di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBPJT).

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Dialek Bojonegaran jengker Kamus Besar Bahasa Indonesia dialek bahasa