Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Di Bawah Bayang-Bayang Dolar

M. Nurkhozim • Minggu, 14 Juni 2026 | 15:25 WIB
NILAI TUKAR: Kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar.
NILAI TUKAR: Kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar.

 

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menguat. Sebaliknya, rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan. Dampaknya langsung terasa pada kehidupan sehari-hari. 

Harga berbagai barang ikut naik. Jajanan di pinggir jalan seperti tempe goreng, martabak, hingga aneka makanan berbahan tepung pun ikut terdampak. Pedagang terpaksa menaikkan harga karena biaya produksi membengkak.

Penyebabnya sederhana. Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor. Kedelai, misalnya, sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri dan dibayar menggunakan dolar AS.

Begitu pula gandum sebagai bahan baku tepung terigu. Tanaman ini belum dapat diproduksi secara memadai di Indonesia, padahal konsumsi produk berbasis terigu terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di sinilah letak keistimewaan dolar AS. Tidak ada mata uang lain yang memiliki posisi sekuat dolar dalam perdagangan internasional. Dolar menjadi mata uang utama untuk transaksi lintas negara. Termasuk perdagangan minyak dunia.

Hampir seluruh negara pengekspor minyak menetapkan harga minyaknya dalam dolar AS. Arab Saudi misalnya, hanya menjual minyaknya menggunakan dolar. Bukan mata uang nasionalnya, riyal.

Melalui sistem yang selama puluhan tahun dikenal sebagai petrodollar, negara-negara yang ingin membeli minyak Saudi harus memiliki cadangan dolar.

Akibatnya, permintaan terhadap dolar terus tinggi. Selama minyak dunia dan perdagangan internasional masih menggunakan dolar, posisi mata uang AS akan tetap sangat kuat. Maka, tidak perlu heran jika dolar terus menguat.

Karena itu, bisa dikatakan bahwa "produk" paling berpengaruh yang pernah dihasilkan Amerika Serikat bukanlah kapal induk, senjata nuklir, ataupun kecanggihan teknologinya. Melainkan mata uang dolar.

Melalui dominasi mata uangnya, Amerika Serikat berhasil menciptakan ketergantungan global yang belum mampu ditandingi negara mana pun. Bahkan, negara-negara Eropa yang memiliki mata uang kuat sekalipun, belum mampu menggantikan dominasi dolar dalam perdagangan dunia.

Indonesia pun tidak luput dari dampaknya. Ketika nilai tukar rupiah melemah hingga berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap perekonomian nasional semakin besar.

Pemerintah tentu perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar. Sebab, pelemahan rupiah pada akhirnya akan bermuara pada kenaikan harga barang dan menurunnya daya beli masyarakat.

Persoalannya, Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap barang impor. Bukan hanya bahan baku industri dan pangan, tetapi juga bahan bakar minyak (BBM).

Produksi minyak dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional sehingga impor masih menjadi pilihan. Seluruh transaksi itu dilakukan menggunakan dolar AS.

Sebenarnya, pelemahan rupiah tidak selalu menjadi kabar buruk apabila diimbangi dengan ekspor yang kuat. Negara yang banyak mengekspor barang akan memperoleh lebih banyak devisa dalam bentuk dolar. Sehingga, dampak pelemahan mata uang domestik dapat ditekan.

Sayangnya, kondisi Indonesia belum sepenuhnya berada pada posisi tersebut. Ketergantungan terhadap impor masih tinggi. Sementara nilai tambah ekspor belum cukup kuat untuk menjadi penyangga ketika rupiah melemah.

Di tengah situasi itu, masyarakat kembali dihadapkan pada kenaikan harga Pertamax. Kenaikan harga BBM nonsubsidi tetap menjadi sinyal yang patut diwaspadai. Bisa saja harga BBM subsidi tiba-tiba naik. Melihat dinamina global seperti saat ini.

Kekhawatiran masyarakat pun wajar. Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan harga minyak semakin mahal, bukan tidak mungkin beban hidup akan semakin berat.

Semoga pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. (zim)

 

Editor : M. Nurkhozim
#dolar amerika #donald trump #USA #kemenkeu ri #rupiah