Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Sehat dengan Sumber Pangan Lokal

Muhammad Suaeb • Minggu, 25 Januari 2026 | 09:00 WIB
JEMUR PADI: Petani di Kecamatan Dander sedang menjemur padi, produksi padi Bojonegoro tahun ini nomor dua se-Jatim. Dari sebelumnya nomor tiga se-Jatim.
JEMUR PADI: Petani di Kecamatan Dander sedang menjemur padi, produksi padi Bojonegoro tahun ini nomor dua se-Jatim. Dari sebelumnya nomor tiga se-Jatim.

 

Oleh:
Reyta Noor.O
Analis Kebijakan Ahli Muda

 

Pola makan real food agaknya mulai menjadi trend baru dalam gaya hidup sehat di masyarakat. Di media sosial mulai banyak konten kreator makanan yang mengkampanyekan konsumsi makanan dalam bentuk aslinya dan sedikit melalui proses pengolahan atau penambahan zat makanan. Selain itu, bisnis penjualan makanan lokal yang hanya direbus atau dikukus sepertinya juga menjadi sebuah peluang baru, tak terkecuali di Bojonegoro. Di beberapa ruas jalan di Bojonegoro, banyak ditemui penjual jagung, ketela, pisang, kacang, kentang dan jenis makanan lain yang diolah dengan cara direbus atau dikukus.

Perubahan pola makan sehat ini sejalan dengan tema peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026 yang mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”. Melalui tema ini, Pemerintah berupaya menggugah kesadaran masyarakat untuk mengurangi konsumsi makanan cepat saji, tinggi lemak, tinggi gula, tinggi garam serta kurang serat dan beralih ke konsumsi pangan lokal yang lebih sehat. Seiring dengan arus urbanisasi dan perubahan gaya hidup yang cepat, pola makan masyarakat Indonesia mengalami pergeseran yang signifikan dari makanan tradisional yang sehat ke makanan cepat saji dan olahan yang kurang sehat (Widjaja et al., 2021). Makanan cepat saji dan makanan olahan semakin mudah diakses dan populer, terutama di perkotaan. Perubahan ini didorong oleh gaya hidup yang sibuk dan meningkatnya pendapatan masyarakat, yang mengurangi waktu untuk memasak dan mempersiapkan makanan sehat di rumah.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pola makan yang tidak sehat ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan prevalensi penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan penyakit jantung koroner. Peningkatan prevalensi penyakit degeneratif tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang luas. Biaya perawatan kesehatan untuk penyakit degeneratif sangat tinggi dan dapat membebani sistem kesehatan nasional. Selain itu, penyakit degeneratif dapat mengurangi produktivitas kerja dan kualitas hidup, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Menurut World Health Organization (WHO), terdapat lima faktor risiko umum penyakit degeneratif yakni konsumsi tembakau, kurangnya aktivitas fisik, penyalahgunaan alkohol, pola makan yang tidak sehat, serta paparan polusi udara. Pola makan yang tidak sehat merupakan salah satu faktor yang dapat diintervensi agar terhindar dari penyakit degeneratif.

Konsumsi Pangan Lokal

Secara geografis Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah, mulai dari jagung, ketela pohon, sagu, garut, sukun hingga aneka umbi-umbian. Pangan lokal merujuk pada sumber pangan yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi dan sumberdaya wilayah dan budaya setempat. Nenek moyang kita telah menunjukkan berbagai manfaat mengkonsumsi sumber pangan lokal secara alami yakni minim proses, kaya nutrisi, serta tanpa bahan pengawet atau pewarna. Rata-rata para pendahulu kita memiliki kondisi fisik tubuh yang sehat dan berumur panjang bahkan ada yang mencapai usia 100 tahun lebih, karena mereka jarang sekali mengkonsumsi makanan instan yang mengandung bahan pengawet atau zat tambahan makanan.

Perubahan pola makan dari makanan cepat saji ke sumber pangan lokal yang alami perlu segera dilakukan karena memberikan manfaat yang sangat besar. Pertama, meningkatnya kualitas kesehatan. Pangan lokal umumnya lebih segar dan kaya akan nutrisi, dapat dikonsumsi secara langsung hanya dengan proses yang sederhana misalnya direbus atau dikukus sehingga kandungan gizinya akan tetap terjaga, tanpa bahan tambahan makanan, bahan pengawet dan bahan kimia lainnya. Proses produksinya sebagian besar juga dilakukan secara organik sehingga jauh dari penggunaan pestisida maupun pupuk kimia. Minimnya kandungan bahan kimia pada sumber pangan lokal akan semakin berpengaruh pada kualitas kesehatan tubuh.

Kedua, ketahanan pangan. Konsumsi bahan pangan lokal akan mengurangi ketergantungan pada bahan pangan impor. Ketersediaannya akan terus terjaga secara berkelanjutan sehingga memudahkan akses konsumsi. Selain itu kestabilan harga dapat dipertahankan tanpa tergantung pada intervensi negara lain dalam proses produksi maupun distribusinya.

Ketiga, meningkatnya produktivitas petani lokal. Peningkatan konsumsi pangan lokal akan berpengaruh pada kestabilan ekonomi para petani. Masyarakat yang sehat secara ekonomi secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kesehatan secara keseluruhan baik fisik maupun psikis. Kemapanan ekonomi menjadi salah satu kunci utama dalam mewujudkan kestabilan rumah tangga, karena berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup seluruh anggota keluarga.

Keempat, kelestarian lingkungan. Konsumsi makanan lokal dapat mengurangi emisi karbon dari proses pengemasan hingga distribusinya. Sistem distribusi pangan yang lebih pendek dan lebih efisien dapat mengurangi kehilangan pangan dan sampah makanan di sepanjang rantai pasokan.

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat khususnya dengan mengkonsumsi sumber pangan lokal, maka diperlukan kerjasama antara pemerintah, profesional kesehatan, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat sehingga kesehatan jangka panjang penduduk Indonesia juga semakin meningkat. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#cepat saji #kualitas hidup #who #hidup sehat #pangan lokal #sumber pangan #gaya hidup sehat #Gaya Hidup #bojonegoro #Makanan #gizi seimbang #Real food