Tahu dan tempe adalah makanan favorit warga Indonesia. Baik di rumah maupun di warung makan, kita akan dengan mudah menemukan tahu dan tempe.
Tahu dan tempe adalah salah satu sumber protein nabati yang digemari masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang enak, harganya juga terjangkau dibandingkan protein hewani, seperti telur, daging ayam, sapi, atau kambing.
Pangsa pasar tahu dan tempe begitu besar. Lihat saja, di setiap pasar tradisional, toko kelontong, hingga penjual sayur keliling, selalu ada tempe dan tahu.
Tahu dan tempe adalah makanan rakyat. Harganya murah, sesuai dengan isi kantong rakyat biasa. Beda dengan daging sapi yang bisa disebut makanan sultan karena harganya mahal.
Industri tahu dan tempe di Indonesia sangat banyak. Mulai dari yang berskala kecil hingga yang besar. Jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya dari industri ini.
Tahu dan tempe terbuat dari kacang kedelai. Tidak ada bahan lainnya. Namun, produksi kedelai dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe. Hal itu membuat pemerintah harus mengimpor kedelai dari luar negeri.
Kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 2,5 juta ton. Dari jumlah itu, 80 persennya dipenuhi dari impor. Hanya 20 persen saja yang bisa dicukupi dari kedelai lokal.
Tahun 2023, Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika Serikat sebanyak 1,9 juta ton. Dari Kanada sebanyak 271.280 ton, Brasil 24.280 ton, dan Argentina 23.127 ton.
Bayangkan, tahu dan tempe yang merupakan makanan rakyat jelata, bahan bakunya bergantung pada negara lain. Jika negara-negara itu menghentikan ekspor kedelai ke Indonesia, apa yang terjadi? Tidak sampai menghentikan, jika negara-negara itu kompak menaikkan harga kedelai mereka, produsen tahu dan tempe Indonesia akan kelimpungan. Tahu dan tempe bisa absen dari piring makan kita.
Ini yang aneh, tahu dan tempe adalah makanan turun-temurun rakyat Indonesia, tetapi tergantung impor. Secara tidak langsung, tempe dan tahu yang kita makan adalah produk impor, sama seperti burger dan piza.
Kenapa petani Indonesia tidak banyak menanam kedelai?
Kedelai adalah jenis tanaman yang bisa ditanam di Indonesia. Maka, sudah selayaknya petani Indonesia juga harus banyak menanamnya. Alasannya, permintaan pasar terhadap kedelai sangat tinggi, mencapai 2,5 juta ton per tahun.
Ini berbeda dengan gandum yang tidak bisa ditanam di Indonesia karena iklim yang tidak cocok. Maka, sampai kiamat Indonesia akan terus mengimpor gandum.
Pada 1990-an, Indonesia tercatat pernah swasembada kedelai. Namun, di era tahun 2000-an, produksi kedelai lokal terus menurun, jauh meninggalkan kebutuhannya.
Pemerintah harus menggalakkan petani lokal menanam kedelai. Mereka harus didukung penuh. Berikan bantuan peralatan dan sebagainya.
Yang paling penting adalah membatasi impor kedelai. Jika petani lokal sudah banyak menanam kedelai, maka impor harus dibatasi. Sehingga, petani lokal terlindungi.
Jika Indonesia sudah berhasil swasembada kedelai, maka petani akan sejahtera. Industri tahu dan tempe akan terlindungi. Negara akan hemat devisa. Impor kedelai harus menggunakan dolar AS. Tidak mungkin beli kedelai impor menggunakan rupiah. (zim)
Editor : M. Nurkhozim