Oleh:
Nono Warnono
Pegiat pendidikan, sastra dan sosial budaya di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)
Kegaduhan opini di ruang digital terkait fakta kendaraan mbrebet massal begitu viral di media sosial. Disinyalir motor ngadat tersebut dipicu oleh bahan bakar jenis pertalite. Di kehidupan nyata, bengkel-bengkel kendaraan dibanjiri keluhan motor mbrebet. Fenomena motor mbrebet yang semula terjadi di ranah lokal Bojonegoro, Lamongan, hingga Tuban. Lalu meluas hingga Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Diksi kosa kata “brebet” atau “mbrebet” tiba-tiba menjadi populer dimana-mana. Adalah kondisi ketika mesin kendaraan terasa tersendat-sendat saat digunakan, terutama saat gas ditarik atau melaju dengan kecepatan konstan. Hal ini terjadi karena pembakaran bahan bakar di dalam mesin tidak sempurna, yang bisa disebabkan oleh berbagai masalah seperti bahan bakar berkualitas rendah, busi kotor, filter udara tersumbat, atau masalah pada sistem pengapian atau injeksi. Dengan kata lain kondisi di mana mesin yang tenaganya tersendat atau tidak stabil. Rasanya seperti mesin mau mati, terutama saat akselerasi dari putaran rendah ke menengah. (Suara.com).
Fenomena kendaraan mbrebet begitu menyita ruang publik pascamengisi bahan bakar pertalite, bahkan belakangan juga ada konsumen yang mengklaim keluhkan pertamax, bahan bakar dengan RON 92 tersebut juga dapat berdampak kendaraan menjadi mbrebet. Sementara pertamina memberikan jawaban tidak pasti karena harus menunggu hasil uji laboratorium yang cukup lama.
Oleh karenanya tak bisa disalahkan manakala muncul opini khalayak yang menyudutkan pihak Pertamina, bahwa bahan bakar pertalite memiliki potensi bercampur air, oplosan, ditambahnya unsur etanol dan analisa-analisa lainnya. Dalam bahasa halus para mekanik bengkel-bengkel, menengarai ada penurunan kualitas pada bahan bakar produk pertamina tersebut.
Banyaknya fakta kendaraan mbrebet, namun konfirmasi Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengklaim kualitas pertalite dan Pertamax normal. Aman karena sudah melalui pemeriksaan mutu produksi melalui uji laboratorim dan distribusi sesuai standar operasi prosedur (SOP), tidak bisa diterima nalar publik. Publik meyakini, ini bukan sekedar kasuistik permasalahan pada kendaraan an sich, karena mayoritas konsumen setelah mengisi bahan bakar pertalite, kendaraan menjadi tidak normal alias mbrebet. Padahal semula kendaraan-kendaraan tersebut dalam kondisi baik-baik saja.
Tak ayal para pakar memberikan rekomendasi uji laboratorimnya dilakukan oleh pihak independen agar hasilnya valid dan dapat diterima masyarakat. Karena justifikasi uji lab yang dilakukan internal Pertamina sendiri dianggap kurang meyakinkan publik dan cenderung memihak.
Merespon dinamika masyarakat terkait keriuhan motor mbrebet tidak sedikit pihak aparat yang terjun langsung menyelidiki apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan kegaduhan tersebut. Pun pejabat selevel walikota tak canggung-canggung sidak langsung memeriksa bahan bakar yang ada pada pengendara bukan hanya di SPBU.
Sementara para korban kendaraan mbrebet yang melaporkan pada posko aduan di sejumlah titik SPBU, berharap ada kompensasi yang diberikan karena akibat dari mbrebet tersebut pengguna harus menguras bahan bakar pertalite dan menggantinya dengan pertamax. Dakibat dari kondisi di atas korban pengguna pertalite harus mengeluarkan biaya untuk menormalisasi kembali kendaraan yang terdampak.
Keruwetan di area SPBU semakin nyata karena dengan kasus kendaraan mbrebet tersebut pengguna BBM pertalite bergeser ke jenis pertamax menyebabkan antrean menjadi panjang hingga mengakibatkan kemacetan di beberapa titik SPBU. Publik semakin jengah tersebab pilihan ke SPBU swasta semakin berkurang karena hengkangnya Shell dari Indonesia tahun depan.
Yang juga mencemaskan adalah klarifikasi pertamina yang konon sudah menginspeksi bahwa tidak ada kontaminan yang mengkrompomikan BBM hingga titik akhir penjualan. Namun menduga ada pihak-pihak yang menggiring opini dan akan menindak tegas pencemaran nama baik perusahaan. (Jawa Pos, 1/11/2025).
Respon membela diri atas olok-olok netizen ini justru akan berbahaya karena bisa menjadikan situasi chaos terhadap publik yang geram. Manakala belum bisa merealisasikan kompensasi (konon katanya) terhadap korban pemakai pertalite, setidaknya meminta maaf adalah sikap yang bijaksana dan menyejukkan. Era dimana netizen mudah berkerumun dalam koloni besar, “menantang” dalam ranah digital adalah tindakan bunuh diri setidaknya kontra produktif.
Kegaduhan perkara motor mbrebet ini manakala tidak bijak dan solutif dalam menangani akan berpotensi menjadi fenomena kekisruhan sosial. Jangan sampai menggunakan peribahasa Jawa “Ngglandhang carang saka pucuk” atau “Kriwikan dadi grojogan”. Sesuatu yang kecil atau remeh namun tidak ditangani secara serius dan bijaksana akan jadi “ontran-ontran” yang mengkhawatirkan.
Wabakdu, persoalan BBM bersubsidi adalah PR berat APBN dan selalu menjadi problem laten bangsa. Masalah tersebut tidak bisa dilepas seluruhnya karena kebutuhan untuk menjaga kesejahteraan rakyat menjadi ranah kebijakan populis. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana